Gunakan Inovasi Baru, E-Warong Akan Jadi Ritel Modern

Gunakan Inovasi Baru, E-Warong Akan Jadi Ritel Modern

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa didampingi Dirjen Penanganan Fakir Miskin Andi ZA Dulung membuka acara sosialisasi Bantuan Pengembangan Sarana Usaha (BPSU) melalui e- warong di Hotel Amarossa Grande, Bekasi, Selasa (24/10). Khofifah mengatakan, dengan lompatan inovasi teknologi e-warong akan sejajar dengan ritel modern. (Foto : Ist)

SHNet, Bekasi – Kementerian Sosial (Kemensos) dan Himpunan Bank Negara (Himbara) melakukan terobosan di bidang teknologi untuk mendongkrak eksistensi e-Warong. Sistem keagenan bank memungkinkan e-Warong juga menyediakan layanan sektor, tarik, kirim uang, hingga pembayaran listrik, telepon, dan cicilan kendaraan.

Dengan layanan berbasis teknologi perbankan tersebut, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa menyatakan, e-warong bisa disejajarkan dengan ritel modern. “e – warong menjadi salah satu cara pemerintah meningkatkan akses layanan bantuan pangan dan bansos lainnya termasuk akses finansial masyarakat,” kata Khofifah seusai membuka sosialisasi Bantuan Pengembangan Sarana Usaha (BPSU) melalui e- warong di Hotel Amarossa Grande, Bekasi, Selasa (24/10).

Menurutnya, e- warong tidak hanya menjadi jembatan penyaluran bantuan pangan non tunai kepada masyarakat, tetapi juga membawa misi pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, e-warong diharapkan dapat mengurangi kesenjangan sosial, membuka lapangan pekerjaan,. sehingga mampu memutus mata rantai kemiskinan sekaligus menurunkan ketimpangan.

“Untuk menyiapkan infra struktur e – warong memang butuh kerja keras, tapi dengan berbagai lompatan inovasi teknologi yang dilakukan Kementerian Sosial bersama Himbara saya optimistis e- warong akan sukses,” katanya.

Ia menjelaskan, pekan ini, Kemensos dan Bank Negara Indonesia (BNI) meluncurkan Electronic Data Capture (EDC) offline. Mesin gesek tersebut dapat tetap digunakan di daerah yang minim jaringan selular maupun blankspot. Sebelumnya, juga dilucurkan mesin EDC berbasis sistem operasi android.

Keberadaan EDC offline tersebut, tambah Khofifah, menjadi solusi jitu mengatasi persoalan tidak meratanya sinyal selular di seluruh wilayah Indonesia. Terlebih, mayoritas penerima bantuan sosial bertempat tinggal di wilayah perdesaan dan terpencil.

“Jangkauan layanan non tunai dapat semakin lebih luas karena tidak mengandalkan sinyal. Bahkan saya pernah dapat laporan untuk pencairan bantuan sosial harus pergi ke makam lantaran sinyal hanya ada disitu,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin Andi ZA Dulung mengatakan, Kube Jasa dan E-Warong bisa menjadi wadah bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dalam menjalankan usaha bersama. Pemerintah sendiri menargetkan sebanyak 500 buah Kube Jasa dan E Warong berdiri hingga akhir tahun 2017 ini.

“Untuk mendorong target tersebut, pemerintah memberikan modal sebesar Rp. 20 juta bagi Kube Jasa dan sebesar Rp 10 juta untuk rehab E-Warong,” tuturnya.

Tahun 2018 penerima bantuan pangan akan diperluas dari 1,28 juta kpm pada tahun 2017 menjadi 10 juta kpm. Untuk persiapan melayani 10 juta KPM saat ini telah tersedia sebanyak 82.585 agen bank yang memiliki toko sembako, 3.138 rumah pangan kita (RPK) yang sudah menjadi agen bank dan 2.338 buah e- warong. (TH)