Desa Jomboran Membuat Anda Betah Berwisata Sampah

Desa Jomboran Membuat Anda Betah Berwisata Sampah

Jomboran Recycle Park (JRP) (Ist)

SHNet – Apakah Anda pernah dengar nama Desa Jomboran? Ia adalah salah satu desa yang diresmikan menjadi desapolitan oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Sabtu (28/10) lalu.

Itu hadiah dan apresiasi atas desa tersebut. Tentu hadiah dan apresiasi itu tidak datang begitu saja. Desa ini kreatif dan inovatif memanfaatkan apapun yang milikinya.

Desa kecil ini berada di Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ia menjadi desapolitan bersama Desa Krakitan, dan Desa Jimbung, yang semuanya di Kabupaten Klaten.

Ada apa sih di Desa Jomboran? Konon, dulu pada masa penjajahan Belanda, desa ini banyak memiliki tanaman-tanaman dan kayu-kayu keras. Lahannya subur dan merupakan areal pertanian yang bagus. Ya, seperti juga wilayah Klaten umumnya.

Desa Jomboran menjadi tempat transit atau tempat singgah sementara dokar/andong (kereta yang ditarik kuda) karena juga memiliki rumput yang banyak, pemandangan dengan hamparan sawahnya indah dipandang.

Ist

Sambil berteduh di bawah pohon atau tanaman-tanaman yang keras itulah, para penarik dokar memberi makanan kepada kuda mereka. Itulah yang kemudian memunculkan sebutan “nyombor kuda” (memberi makan kuda).

Namun demikian, ada hal yang sangat istimewa di hati warga Desa Jomboran. Itu adalah sebuah makam yang keberadaanya memiliki sejarah panjang, terutama bagi warga yang memiliki alur trah/garis keturunan dari makam Wiryonegara. Makam ini berada di Dukuh Kalikuning.

Kebanyakan orang mungkin lebih mengenal Dukuh Kalikuning dibandingkan dengan Desa Jomboran. Nah, sekarang ketahuilah kalau Dukuh Kalikuning berada di Desa Jomboran. Di desa inilah terletak Makam “WIRYONEGARAN”! Di sana Anda bisa berwisata sejarah!

Wisata Sampah

Di Desa Jomboran ini terdapat bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Tapi jangan sesekali menyimpan dalam benak kalau tempat itu beraroma tidak sedap yang membuat kepala jadi pusing.

TPA itu jadi tempat rekreasi. Tempat orang-orang bisa menghabiskan waktu santai hingga berjam-jam lamanya. Kesan umum, TPA sedapat mungkin dilintas dalam sekilas, bahkan jika perlu dihindari sejauh-jauhnya, akan hilang.

TPA ini malah akan membuat Anda penasaran. Rasa ingin tahu muncul. Koq TPA menjadi tempat wisata? Sejak tahun 2015 lalu, TPA Jomboran memang tak lagi digunakan lagi untuk membuang sampah karena overload, pemerintah kurang kreatif mengelolanya.

Namun, siapa menyangka kalau tempat yang dulu ditolak karena aroma menyengat menohok, kini menjadi penarik pikat bagi siapapun. Kerja sama dengan sejumlah pihak yang dilakukan oleh aparat Desa Jomboran menjadi TPA itu jadi tempat mengais rezeki bagi warga kini.

Ya sejak tahun 2015 lalu, Desa Jomboran jadi desa binaan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Di sanalah kemudian dibangun taman Jomboran Recycle Park (JRP).

Adalah aparat desa yang dikomandoi Kepala Desa Jomboran, Agung Widodo, yang berperan menampilkan TPA Jomboran dengan wajah berbeda. Ia menjadikan kampung halamannya menjadi desa wisata pertanian.

Desapolitan merupakan kawasan pembangunan pedesaan yang memiliki tujuan percepatan pembangunan perekonomian masyarakat di kawasan desa. Pembangunan kawasan desa dilakukan dengan penerapan manajemen sumberdaya wisata inovatif berbasis IT dan kolaborasi BUMDES serta pengembangan pusat-pusat objek wisata inovatif dengan tata kelola modern menggunakan jejaring global promotion.

Mendes PDTT, Eko Putro Sandjojo, saat meresmikan obyek wisata Bukit Patrum di Desa Krakitan mengatakan, sebetulnya masih banyak spot wisata lain di Klaten yang bisa dioleh.

“Ini menarik karena keunikannya dan ada sejarahnya. Semakin bagus bila dikembangkan jadi produk unggulan kawasan perdesaan,” katanya.

Ia berharap ke depan makin banyak obyek wisata yang digal dan dikelola sehingga menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat sekitarnya. (IJ)