Daripada Beli Susu, Pak Prabowo Tanam Kelor Saja

Daripada Beli Susu, Pak Prabowo Tanam Kelor Saja

Daun Kelor

SHNet, JAKARTA – Ide Revolusi Putih yang digulirkan Prabowo Subianto, Ketua Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya menuai kritik, pasalnya, niat memperkuat gizi generasi masyarakat dengan pemanfaatan susu itu tidak cukup realistis.

Menteri Kesehatan Nina S. Moeloek misalnya, tidak setuju karena tidak mungkin sapi bisa mencukupi kebutuhan masyarakat. “Dari sapi. Cukup enggak sapi kita? 250 juta penduduk mesti dapat dari mana?” kata Menkes di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, pada Kamis 26 Oktober 2017.

Kritik juga muncul dari Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Susi melihat pasokan susu masih terbatas sehingga jika tujuannya meningkatkan gizi masyarakat lebih baik gerakan makan ikan. Singkat kata, kedua kritik dari menteri tersebut bukan menentang usaha peningkatan gizi, namun strataginya.

Gagasan Prabowo Subianto itu memang baik, meningkatkan derajat gizi, namun niat baik tidak cukup. Pertama ini bisa memboroskan anggaran karena sekalipun gerakannya adalah gratis, namun untuk susu dan makanan sehat harus dibeli memakai uang negara atau uang swasta. Tetap akan keluar biaya.

Kedua, terkait dengan kemandirian pangan. Kalau pada akhirnya usaha itu ujung-ujungnya hanya impor bisa jadi pemborosan akan melanda keuangan negara.

Prabowo Subianto rupanya tidak cukup memahami kondisi masyarakat Indonesia. Peternakan di Indonesia itu lemah dan untuk mengejar ketertinggalan ternak tidak dipikirkan secara serius, dan sekarang lompat pada susu.

Selain itu, pengetahuan gizi dari sekadar susu juga menandakan tidak cukup kreatif menggali ide baru yang lebih bisa realistik di terapkan masyarakat. Jangankan di Jakarta, di perdesaan seluruh Indonesia, dipastikan ternak penghasil susu itu sangat kurang. Petani kita memelihara kambing atau sapi masih dalam skala kecil, hanya menghasilkan pupuk terbatas dan kebanyakan berorientasi pada daging.

Gizi Kelor

Puding daun kelor (Ist)

Sebenarnya jika mau sedikit berpikir modern dan melangkah ke jalan realistis, usaha perbaikan gizi itu bisa dengan menggerakkan tanam dan makan kelor (Moringa Oleifera). Sudah puluhan tahun yang lalu Organisasi Pangan Dunia, Food and Agriculture Organization (FAO) mendorong masyarakat menanam dan mengonsumsi kelor (moringa Oleifera).

Di Afrika dan Amerika Latin gerakan mengatasi kekurangan gizi dan gizi buruk sudah berjalan lama, dan itu terbukti efektif, murah dan realistis diterapkan oleh siapapun, termasuk orang miskin. Tanpa perlu belanja karena cukup ditanam di pekarangan dan ladang dan setiap hari dikonsumsi rumah tangga ekonomi miskin.

Sejalan dengan riset-riset yang berkembang dan munculnya peran dari Lembaga Kesehatan Dunia, World Health Organization(WHO), kelor semakin mendapatkan tempat di berbagai negara, termasuk negara maju seperti Israel yang kini berhasil menghijaukan padang pasir dengan kelor.

Di Kuba, 3 tahun sebelum Fidel Castro meninggal, orang nomor satu kuba itu juga aktif berkebun kelor untuk mengatasi gizi buruk. Kedua negara itu bahkan sekarang serius mengambangkan tanaman kelor untuk pemasok bahan baku produksi makanan dan obat.

Kami di Yayasan Odesa Indonesia Bandung mengambil Kelor karena alasan realistis. Masyarakat Kawasan Bandung Utara banyak yang lemah gizinya. Keluarga golongan pra-sejahtera dan sejahtera I yang sulit ekonomi bertebaran di kampung-kampung, anak-anaknya kurang gizi. Maka kami melakukan riset berkaitan dengan pilihan kegiatan.

Model yang kami kembangkan adalah dengan gerakan Tani Pekarangan untuk memperkuat ekonomi sekaligus meraih gizi, dan kelor menjadi tanaman penting untuk memasok gizi keluarga petani. Bisa ditanam di pekarangan, pinggir ladang, pinggir jalan, dan kawasan tanah lereng yang rawan longsor.

Kelor adalah sumber kaya vitamin, mineral, dan asam amino. Ini mengandung sejumlah besar vitamin A, C, dan E; kalsium; kalium; Dan protein. Sekian manfaat moringa kalau dibahas tiada habisnya.

Penjelasan tentang kelor bisa dibaca di

http://odesa.id/kelor-untuk-perbaikan-gizi-rakyat-indonesia/

http://odesa.id/mengenal-moringa-kelor-dan-manfaatnya/

Yang jelas untuk sekadar mendapatkan gizi berbading susu kelor lebih baik. Susu bisa mahal dan semua harus dengan ongkos besar untuk melayani jutaan generasi Indonesia, sementara kelor bisa mudah tumbuh dan setiap hari rakyat Indonesia bisa mengonsumsi kelor.

Tepung daun kelor (Ist)

Sayangnya, negara kita tertinggal dalam hal perkembangan dunia. Ada ide baik dan realistis diterapkan namun pejabat negara diam saja.Sudah saatnya Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian, termasuk menteri Sosial bahu membahu mendorong gerakan tanam dan makan kelor, karena lebih realistis dan lebih baik gizinya ketimbang susu. Kelor bukan segala-galanya, namun ia akan melengkapi kekurangan-kekurangan bahan gizi dari tanaman lain, termasuk dari peternakan.

FAIZ MANSHUR/Ketua Yayasan Odesa Indonesia