Chiendy, Penderita Gagal Ginjal yang Berprofesi Driver Online

Chiendy, Penderita Gagal Ginjal yang Berprofesi Driver Online

Pak Chiendy (baju kotak-kotak) dan Pengurus Pusat Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) bertemu manajemen dan pemilik Klinik Perisai Husada Bandung.

SHNet, Bandung- Chiendy adalah Ketua KPCDI Cabang Bandung, sekaligus Pengurus Pusat KPCDI di Departemen Advokasi. Badannya lumayan gemuk, berkacamata dan wajahnya mencitrakan pria terpelajar. Kulitnya putih, berwajah oriental, dan berdarah Tionghwa.

Cerita saya kali ini adalah tentang kegigihan Chiendy, yang menderita gagal ginjal dan sudah move on sejak bekerja sebagai driver taksi online.

Bapak dua anak ini menceritakan bahwa ia mulai bergantung kepada mesin hemodialisa sejak tahun 2015.

“Awalnya aku iseng periksa darah, mumpung ada diskonan. Ternyata kreatininku sudah di atas dua. Karena nggak paham, dan dokter internisnya tidak memberi edukasi, kuanggap tak ada hal yang perlu dirisaukan. Akibatnya fatal, tak berapa lama kemudian  aku tumbang,” jawab Chiendy sambil menghela nafas panjang.

Sebelum sakit, Chiendy bersama istrinya mempunyai usaha membuat kue sus kering. Produksinya dijual ke toko-toko kue. Ia juga seorang koki yang handal. Jebolan jurusan manajemen semester 6 ini membuka restoran masakan cina (chinese food). Selain sebagai manejer operasional, ia juga menjadi kokinya.

Usaha restoran yang dikelolanya biasa tutup sampai pukul 12 malam. Pukul 4 pagi dia sudah harus bangun dan belanja ke pasar. Awalnya, oke-oke saja tapi, ketika penyakitku semakin parah, diapun menyerah. Chiendy menutup usaha restorannya, sedangkan usaha kue sus kering diserahkan ke saudaranya.

“Aku tidak kuat bekerja. Tubuhku terlihat pucat. Setiap hari muntah-muntah. Semakin lama semakin berat. Akhirnya, aku dirawat selama tiga hari. Aku divonis harus cuci darah karena gagal ginjal. Aku menolak untuk cuci darah. Bayanganku, cuci darah itu mengerikan dan harus dilakukan terus menerus. Tetapi rasa mual semakin hebat. Aku sudah tidak mau makan, hingga berat badanku turun sampai 30 kg.”

Chiendy cukup beruntung, istrinya sangat perhatian dan mendukungnya. Itulah yang menyebabkan masa pemulihan mentalnya tidak terlalu lama. “Istriku yang  mencari nafkah,  setelah restoran kami tutup. Aku sudah tidak bekerja lagi dan konsentrasi menjalani terapi hemodialisa,”

Setelah itu, hari-hari Chiendy disibukkan dengan aktivitas mencari pengetahuan tentang penyakit ginjal dan hemodialisa.

Tiada hari tanpa berpikir  penyakit tentang gagal ginjal, Kesadarannya pun sudah terkukung di sana. Bukannya semakin membaik, Chiendy malah gagal move on. Chiendy baru terbebas dari situasi itu, ketika mulai bekerja.

“Bulan Februari 2017 istriku menawari bekerja menjadi driver taksi online. Mulailah aku menghadapi suasana baru. Walau di jalanan, tapi aku sangat senang karena bisa melihat dunia luar. Bisa bertemu dan ngobrol dengan berbagai orang yang berbeda-beda. Aku mulai menikmati dan mulai bisa move on,” terangnya.

Kebahagiaannya muncul saat bertemu seorang penumpang yang ternyata juga pasien cuci darah. Chiendy pun berhasil membangkitkan semangat penumpangnya, dengan melihat kondisinya sendiri.

“Saya narik di hari di mana saya tidak cuci darah. Hari Minggu kadang aku libur dan bersama keluarga jalan-jalan. Setiap narik taksi online, kuusahakan berangkat  pukul enam pagi. Kalau pulangnya nggak tentu. Yang penting sudah dapat 13 trip, aku pulang. Rata-rata di atas jam 7 malam lah. Dan rata-rata membawa pulang uang sebesar Rp 600 ribu. Itu bersih, dan sudah bonus juga,”

Chiendy pun menjawab kekhawatiran tentang larangan banyak minum bagi penderita gagal ginjal.

“Kita sering mendengar keluhan seorang sopir yang terkena batu ginjal kan? Karena mereka kurang minum air dan terlalu banyak duduk. Kalau bagi pasien cuci darah, kurang minum justru bagus. Kakiku tidak pernah bengkak,  walau duduk berjam-jam,” jelasnya dengan bersemangat.

Aku tidak bisa membayangkan seorang pasien cuci darah yang harus bekerja dari pagi hingga malam, betapa lelahnya setelah pulang ke rumah.

“Justru karena badan kita capek, setelah beraktivitas seharian, membuat tidur kita menjadi nyenyak. Sejak aku menjadi driver, aku sudah tidak punya keluhan  tidur. Kalau dulu, aku selalu berpikir tentang penyakitku, membuat aku susah tidur. Dan keluhan pasien cuci darah pada umumnya karena susah tidur di malam hari,” jawabnya menangkis kekhawatiranku.

Tak terasa perjalanan kami sudah lebih dari 30 menit. Chiendy mengabari bahwa Klinik Perisai Husada tujuan kami sudah dekat. Aku sungguh kagum, dia adalah bapak dan suami yang bertanggung-jawab. Seorang pekerja keras dan ulet. Sebagai Pasien cuci darah, dia tidak mau tunduk dan menyerah kepada penyakitnya. Dia jawab semua masalah hidupnya dengan berkarya.

Penulis: Petrus H. Hariyanto

Editor: Siti Rubaidah