Bahasa Indonesia, Cermin Manusia Indonesia

Bahasa Indonesia, Cermin Manusia Indonesia

Jakarta, 26 Oktober 1968 – Mentari Pendidikan dan Kebudayaan Sarino mengatakan bahwa ia merasa kecil bila berhadapan dengan kaum cerdik cendikia dalam bahasa dan kesastraan sebab bidang ini meliputi masalah filsafat, sosiologi dan sebagainya, demikian Menteri PDK Sarino pada permulaan sambutan pembukaan simposium bahasa dan kesastraan Indonesia, yang diucapkan di Aula Fakultas Kedokteran UI dijalan Salemba Raya, Selasa malam tanggal 25 Oktober yang lalu.

Menerangkan soal tema simposium : bahasa Indonesia sebagai cermin manusia Indonesia, Menteri mengatakan, ada sarjana berpendapat bahwa perkembangan keadaban mengkuti perkembangan bahasa. Sebaliknya ada yang melihat bahwa perkembangan bahasa mengikuti perkembangan keadaban, menurut Menteri Sarino, kedua macam perkembangan dan kedua-duanya berlaku untuk Indonesia.

Dalam proses akulturasai, bangsa Indonesia tidak terlepas dari kepribadian sendiri. Proses perkembangan bangsa Indonesia tidak terlepas dari kepribadian sendiri yang tidak eksklusif. Bangsa Indonesia dalam kontinyutas berkembangnya yang mula-mula sebagai bangsa budaya (kultur) kearah bangsa beradab telah menarik atau mengalami suatu garis konvergensi. Pada mulanya ada konsentrisitas suku, kemudian setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 terjadilah konsentrisitas nasional.

Dilihat dari faktor geopolitik, Malaysia dan Indonesia merupakan satu rumpun, dalam hubungan ini bahasa bukan merupakan halangan satu sama lain bagi berkembangan bahasa nasional masing-masing, Menteri mengambil perbandingan dengan kebudayaan Slav yang satu dan hidup dalam walaupun dalam kebudayaan tersebut terdapat perbedaan bangsa. (SH)