Agar Bonus tak Jadi Bencana, Minumlah Air yang Sehat

Agar Bonus tak Jadi Bencana, Minumlah Air yang Sehat

SHNet, JAKARTA – Jumlah penduduk Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun. Negara ini mulai mendapat bonus demografi yang diperkirakan mulai tahun 2025 yang akan datang.

Jumlah penduduk usia produktif, antara 15-64 tahun mencapai sekitar 70 persen atau sekitar 180 juta jiwa dari total jumlah penduduk. Ini adalah postur usia kependudukan yang ideal untuk membangun sebuah negara. Banyak orang bekerja dengan sedikit orang yang tidak produktif, entah karena usia lanjut atau masih kecil.

Ini bisa jadi berkah, keuntungan bagi Indonesia. Namun, keuntungan itu tidak serta-merta, terberi begitu saja. Harus dipersiapkan, direncanakan dengan baik dan matang. Jika tidak dihadapi dengan saksama, yang terjadi bukan bonus tetapi bencana.

“Negara ini bertanggung jawab melahirkan generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan ceria. Tidak ada gunanya membangun infrastruktur hingga ke mana-mana, kalau orang-orangnya tidak sehat, tidak cerdas dan tidak ceria,” kata Lila Djafaar, Voice President General Secretary, Danone Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu.

Negara yang sukses adalah yang penduduknya sehat, cerdas dan ceria. “Orang perlu kelihatan ramah, riang dan gembira serta cerdas. Tidak terlihat murung dan emosional terus,” katanya. Hal seperti itu bisa dipersiapkan sejak dini, saat anak-anak bertumbuh dan berkembang pada masa usia dini.

Salah satu cara adalah dengan melatih anak untuk minum air bersih dan sehat secara teratur. Lebih dari 70 persen tubuh manusia adalah air, terutama anak-anak. Pada masa bayi, hal yang paling dibutuhkan adalah air. Ketersediaan air yang memadai, akan sangat membantu perkembangan anak menjadi sehat, cerdas dan ceria di kemudian hari.

Banyak sel, sinap terbentuk pada masa bayi tumbuh dengan baik dan benar kalau kadar air dalam tumbuh mencukupi. Jika sinap-sinap tersebut tumbuhnya tidak baik, tak akan bisa diperbaiki dengan cara apapun.

Makin banyak minum air, anak akan kelihatan lebih segar, lebih ceria dan engerik. Hal itu juga akan mempengaruhinya pada saat usia dewasa. Orang yang minum air secara teratur dan sehat akan terlihat lebih muda dari usianya, lebih riang dan berseri-seri.

Kurang Minum

Berdasarkan hasil riset European Journal of Nutrition di 13 negara, banyak anak Indonesia yang kurang minum. 1 dari 4 anak Indonesia kurang minum air secara sehat dan teratur. Mereka lebih mengkonsumsi bukan air, yakni sebesar 30 persen. Padahal anak-anak waktunya lebih banyak untuk bermain.

Idealnya, anak-anak usia 4-6 tahun harus menghabiskan 1,2 liter air sehari atau setara dengan 6 gelas. Sementara anak usia 7-9 tahun harus menghabiskan 1,5 liter air sehari atau setara dengan 7 gelas. “Anak kekurangan minum air mungkin tak langsung kelihatan efeknya, tetapi dalam jangka panjang itu sangat berpengaruh,” kata Leila Djafaar.

Danone Indonesia, jelasnya, bekerja sama dengan Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) sedang menggalakan pendidikan minum sehat di sekolah dengan sasaran peserta didik lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dari seluruh Indonesia. “Dalam kerja sama ini, kita ingin mencari pola ajar terbaik untuk pendidikan minum sehat, kita ingin mengajarkan kebiassaan minum air pada anak agar mereka sehat, cerdas dan ceria,” katanya.Ketua Umum Himpaudi, Netty Herawati, mengatakan lembaga pendidikan seperti PAUD memiliki peran penting untuk memberikan arahan dan jejak ingatan positif terhadap kebiasaan minum air sebelum, selama, dan sesudah beraktivitas fisik, sejak dini. Kementerian Kesehatan telah mencanangkan Program Indonesia Sehat dengan pilar Paradigma Sehat. Artinya, pemerintah telah sangat paham dan sadar bahwa minum air sehat dan teratir sejak bayi sangat penting bagi kemajuan masa depan bangsa.

Saat ini Himpaudi bekerja sama dengan sekitar 90 lembaga PAUD, dengan metode Train the Trainers (TOT) yang dilakukan 786 tenaga pendidik kepada 4.500 peserta didik dari 34 provinsi di Indonesia terkait metode ajar dan cara pendidikan minum sehat di usia dini.

Menurut Netty, banyak pengajar di sekolah yang menyepelekan kebutuhan minum anak didik. Jika hal terjadi pada anak balita, tentu sangat beresiko. “Penelitian kami mengungkapkan bahwa banyak pengajar PAUD kurang paham dengan hal itu. Karena itu, perlu ada pelatihan dan cara terbaik agar anak tertarik untuk minum teratur,” jelasnya.

Danone Indonesia sudah beberapa waktu menyediakan botol-botol kemasan air minum yang menarik bagi anak kecil. Menurut Lelia Djafaar, keterarikan balita minum secara teratur dan sehat sangat tergantung pada kreativitas yang ditampilkan.

“Kami mengeluarkan botol air dengan gambar princes, ada juga starwars dan sebagainya. Kita juga tampilkan kutipan kalimat-kalimat yang menarik bagi anak kecil,” katanya.

Penasihat Himpaudi, Fasli Jalal, mengatakan menyiapkan anak-anak yang sehat, cerdas dan ceria dari sejak dini akan banyak menyelesaikan masalah bangsa dan negara dalam jangka panjang. “Negara ini bisa berprestasi kalau orang-orangnya sehat, berpikirnya cerdas dan hidupnya ceria. Kalau tidak seperti itu, adanya frustrasi,” kata Fasli.

Ia menegaskan bahwa Indonesia bisa mengambil keuntungan dari postur jumlah penduduk kalau yang berada pada rentang usia tersebut sehat dan cerdas. Jikalau tidak, justru akan menjadi malapetaka besar bagi Indonesia. “Itulah yang harus disadari dan harus disiapkan dari sekarang. Itu tantangan yang kalau tak dikendalikan bisa berubah jadi bencana besar,” tegasnya. (Inno Jemabut)