Salah Info Peninggalan Sejarah Di Pulau Penyengat

Salah Info Peninggalan Sejarah Di Pulau Penyengat

Sinar Harapan, 12 September 1972 – Banyak kisah mengenai Pulau Penyengat, baik itu sebagai “mithos”, “legende”, maupun yang menpunyai kadar sebagai sejarah Melayu Riau.

Akan tetapi berbagai bentuk tulisan maupun gambar yang umumnya diabadikan oleh wisatawan, tidak ketinggalan juga para wartawan yang berkunjung kesana cenderung untuk mengabadikan sebagai suatu hal yang sering keliru.

Misalnya di majalah yang terbit di Jakarta, memuat gambar foto Pulau penyengat. Dalam artikel tersebut terbaca “bekas kerajaan Melayu”.

Sebenarnya bukan, mungkin karena foto yang diambilnya kebetulan juga ada pintu gerbangnya. Seperti Gedug tua bertingkat dua (gambar 1). Wisatawan dalam negeri maupun yang datang dari luar juga menganggap gedung tua bertingkat dua yang telah hilang pintu dan kuningannya sebagai, “bekas kerajaan Melayu”.

Belum lama berselang telah datang kesana beberapa wisatawan asing, termasuk mahasiswa Perancis, jurusan sosiologi mencari makam Raja Ali Haji, yang terkenal karena gurindam 12-nya. Disana dihadapkan pada kesulitan, karena tidak adanya guide atau penunjuk jalan, tidak adanya tanda-tanda peninggalan dan apatisnya masyarakat disana yang telah membiarkan peninggalan sejarah itu. Mereka yang tahu tentang makam disana sama sekali tidak mau mengantarkannya.0186

Maka terjadilah kekeliruan. Makam Raja Haji Ali yang letaknya di bukit dan baru saja diperbaiki (gambar 2) dianggap sebagai makam Raja Ali Haji. Makam ini sebenarnya terletak berdekatan dengan makam permaisuri Raja Abdulrachman (1844-1845) yang terlihat (gambar 4) berdampingan dengan putranya dari darah bugis yang bernama Raja M. Yusuf (1858-1899). Dari jarak 50 meter dari makam Raja Ali Haji yang nampak kurang terurus, sehingga tidak menyangka kalau itu makam Raja Ali Haji (gambar 4). Kabarnya Raja Abdulrachman salah satu Raja Melayu yang paling degil dan selalu menentang Belanda.

Itulah sebabnya kesulitan wisatawan maupun wartawan yang datang kesana terbentur pada hal yang tersebut diatas. Meskipun diskusi “penulisan sejarah Riau” telah berlalu setahun yang lewat, hasilnya lenyap seperti sisa kerajaan disana.

Padahal paling tidak kalau Pemda tidak ada biaya untuk perbaikan itu, paling sedikit harus ada biro pariwisata yang dapat mengkoordinir para wisatawan yang kesana, disamping gedung tua tingkat dua dapat dimanfaatkan buat penginapan murah yang selalu dicari turis. Sudah tentu harus dibersihkan dan diperbaiki. (Sienano Sitamena)