Prospek Uranium Di Indonesia

Prospek Uranium Di Indonesia

Oleh Wartawan “SH” Soebekti

Jakarta, 7 September 1973 – Budi Sudarsono Deputi Direktur Jenderal BATAN dalam wawancara dengan “Sinar Harapan” menyatakan bahwa persediaan dunia uranium yang dapat digarap dengan ongkos kurang dari $10/pon adalah satu juta ton, yaitu kira-kira 1.000.000.000 atau satu miliar kilogram atau kira-kira dua miliar pon.

Jumlah ini semakin berkurang dengan meningkatnya tenaga nuklir industri.
Diramalkan bahwa sekitar tahun 80-an harga uranium akan naik. Budi Sudarsono selanjutnya menyatakan bahwa bila dihitung uranium yang bisa digarap dengan harga $20/pon maka jumlah persediaan bahan mentah nuklir diseluruh dunia adalah kurang lebih dua juta pon.

Sebuah reaktor daya sebesar 300 MW (megawatt) listrik seperti yang mau dibangun di Indonesia menelan kira-kira beberapa puluh ton uranium setahun. Setiap tahun reaktor atom diseluruh dunia menurut perkiraan menghabiskan beberapa ribu ton uranium. Ini antara lain mendorong negeri besar mengadakan prospeksi uranium di tempat lain seperti di Indonesia.
0168
“Fuelling- Cost” PLTN rendah
Menurut Budi Sudarsono, Indonesia belum menghasilkan uraniumnya sendiri tidak mempengaruhi rencana membuat PLT-Nuklir tahun 80-an.

Biaya terbesar dari pembangunan PLTN adalah terutama “capital cost”, mesin, gedung, alat, “Fuelling Cost”, biaya bahan bakar dalam hal ini uranium hanya 25 persen dari biaya seluruhnya. Ongkos pemeliharaan juga relatif rendah.

Bahwa harga uranium kelak akan naik tidak mempengaruhi niat membangun PLTN. Yang paling ekonomis atau tidak. Dan bila pada tahun 80-an daya terpasang listrik Indonesia sudah mencapai 3.000 megawatt, maka dianggap sudah terpenuhi syarat kompetitif dimana PLTN sebesar 300 megawatt dapat dibangun.

Negara penghasil uranium adalah Amerika Serikat, Kanada Afrika Selatan, Australia dan Perancis. Indonesia belum menghasilkan uranium sungguh pun sekarang sedang dilakukan survey di daerah Kalimantan (Selatan – Tengah) , Sumatera (Sumbar, Tapanuli Selatan, Bangka dan Lampung), Irian Barat (Kepala burung), Sulawesi (Kepulauan Bangka) dan Jawa (Cikotok, Ciater, Purwakarta, Tirtomoyo Dan Pacitan). Diantara diantara itu yang kemungkinan besar bisa prospektif adalah terutama Kalimantan dan Sumatera Barat.

Menurut Budi Sudarsono ahli Perancis dengan kerjasama dengan BATAN sejak tiga tahun yang terakhir ini giat melakukan penelitian di Kalimantan. Mula-mula pekerjaan dilakukan di Kalimantan Tengah berdasarkan data geologis dari jaman sebelum perang, data ini ternyata kurang lalu daerah eksplorasi dipindah kebagian selatan. Rupanya kurang pula memadai, kemudian kini dipusatkan pada daerah antara Selatan dan Tengah.

Ongkos eksplorasi setengah juta dollar setahun
Ongkos eksplorasi begini sekitar setengah juta dollar setahun, demikian Budi Sudarsono menyatakan. Ongkos ini sepenuhnya ditanggung oleh pihak Perancis.

Selain Perancis yang sudah penuh terlibat dalam prospeksi uranium ada beberapa megeri lain yang juga menunjukkan minatnya. Ialah pertama Jerman Barat yang melalui “Uran Gesellschaft” pada bulan Juli yang lewat mengemukakan keinginan kerjasamanya dibidang pencarian uranium di Indonesia.

Beda dengan Perancis, orang Jerman mengusulkan “Joint Venture” atas dasar “fifty-fifty”. Tetapi rupanya asal pihak Indonesia ikut memikul ongkosnya biarpun 10% mereka juga mau. Daerah yang menjadi incaran orang Jerman ialah terutama Sumatera Barat, yang menurut ahli Jerman itu cukup prospektif. Mereka juga pergi ke Irian, tetapi setelah tujuh hari disana, kembali lagi ke Jakarta, karena sulitnya mencapai daerah prospektif.

Negeri lain adalah Jepang dan Amerika. Perusahaan minyak raksasa Amerika “Esso” yang mempunyai dua pabrik uranium selain kilang kilang dan pabrik minyak juga telah menyampaikan minatnya mengadakan prospeksi uranium di Indonesia.

Budi Sudarsono menyatakan bahwa prospeksi begini menelan ongkos banyak dan membutuhkan waktu bertahun-tahun, sedangkan serupa dengan prospeksi minyak juga bersifar spekulatif. Bisa ada hasil tapi bisa juga tidak.

Uranium sebagai mineral pertambangan
Mengenai eksplorasi uranium di Indonesia nampaknya ada kekurangan persesuaian mengenai sifat uranium sebagai mineral pertambangan antara BATAN dan Departemen Pertambangan. Ini terutama kentara dalam approach peminat dan negara asing yang ingin berusaha dibidang ini.

Departemen Pertambangan menganggap uranium bahan mineral pertambangan biasa saja dan oleh karena itu orang yang mau mencari uranium di Indonesia selayaknya berhubungan dengan Departemen Pertambangan.

Sedangkan Badan Tenaga Nasional berpendirian bahwa uranium adalah mineral radioaktif yang berbeda sifatnya dari bahan mineral lain dan urusan mengenai uranium itu sebaiknya diselesaikan oleh BATAN.

Sama halnya urusan minyak bumi antara Departemen Pertambangan dan Pertamina karena kedudukan khas dan ekonomis kuat dipasaran dunia maka minyak dinilai memerlukan perlakuan lain daripada bahan mineral biasa.