Perpustakaan di Era Digital, Bagaimana Seharusnya?

Perpustakaan di Era Digital, Bagaimana Seharusnya?

Kepala Dinas (Kadis) Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Moch Saleh Udin (tengah) pada acara Temu Pemustaka di Pendopo Eks Kantor Pembantu Bupati, di Pare, Kabupaten Kediri, Rabu (27/9).

SHNet, Kediri – Bagaimana seharusnya perpustakaan menyikapi era digital sekarang ini? Apalagi kondisi minat baca di Indonesia saat ini memprihatinkan. Kepala Dinas (Kadis) Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Moch Saleh Udin berpendapat,di era digital perpustakaan perlu memiliki visi dan misi untuk melakukan perubahan pola pikir (mindset).

“Perubahan yang terpenting dalam hidup adalah perubahan sikap dan mindset. Sikap yang benar akan menghasilkan tindakan yang benar,” kata Saleh Udin saat menyampaikan pemaparan pada acara Temu Pemustaka di Pendopo Eks Kantor Pembantu Bupati, di Pare, Kabupaten Kediri, Rabu (27/9).

Ia mengatakan, negara Indonesia termasuk negara yang relatif besar dalam hal penggunaan teknologi informasi (TI). Namun, ia menyayangkan karena Indonesia justru lemah di dalam minat baca masyarakatnya.

“Kalau tidak salah, kita berada di bawah China atau Korea, yang telah mampu memanfaatkan perkembangan TI mereka,” kata Saleh Udin.

Ia berpendapat, lemahnya minat baca seharusnya menjadi kepedulian (concern) bersama seluruh pemangku kepentingan (stakeholder), termasuk di Kabupaten Kediri.

“Kabupaten Kediri harus memiliki visi dan misi di bidang perpustakaan dan kearsipan. Itu yang saya mau tanamkan dulu. Karena itu merupakan kunci kesuksesan organisasi untuk mencapai tujuan,” ujarnya di hadapan para pemustaka.

Perubahan Paradigma
Ia memaparkan pentingnya perubahan paradigma perpustakaan di era digital. Menurutnya, perpustakaan yang merupakan ruang publik di era digital ditandai antara lain dengan adanya heterogenitas dan pluralistik konsumennya, sementara di masa sebelumnya konsumen bersifat tunggal. Ia menyatakan konsumen di era modern sekarang ini memiliki keragaman, termasuk dalam hal selera dan gaya.

“Selain itu, perkembangan TIK juga bersifat konvergen. Dengan begitu, perpustakaan perlu lebih menonjolkan upaya agar masyarakat lebih mudah mengakses, atau membaca buku-buku secara lebih detail dari rumah, tanpa harus pergi ke perpustakaan,” ujarnya.

Tantangan perpustakaan di era modern, menurut Saleh antara adalah melayani para konsumen yang memiliki gaya membaca bermacam-macam. Ia mencontohkan, ada warga yang suka membaca sambil mendengarkan musik, tapi ada juga yang kalau membaca harus di tempat sejuk dan tak terganggu.

“Ini adalah tantangan kita bersama. Dulu perpustakaan tempat belajar yang sunyi. Kalau rame sedikit, petugas mengingatkan,” ujar Saleh Udin.

Jemput Pelanggan
“Kalau sekarang, dengan heterogenitas pengguna yang tinggi, TIK yang bersifat konvergen, perpustakaan harus menjemput konsumen. Perpustakaan harus menjadi tempat yang menyenangkan, nyaman dan akrab,” lanjutnya.

Ia berpendapat, di era digital, minat baca warga seharusnya jangan sampai rendah. Kemajuan teknologi informasi menurutnya, seharusnya justru mampu mendorong minat baca menjadi lebih tinggi. Untuk itu, perpustakaan menurutnya, perlu memiliki visi dan misi, termasuk perpustakaan di Kabupaten Kediri.

Ia kembali menekankan, di era digital, Kabupaten Kediri harus memiliki visi dan misi untuk melakukan perubahan paradigma terkait perpustakaan dan kearsipan. (whm)