Pengeboran Eksplorasi Panas Bumi Kawah Kamojang (Jabar) Diresmikan

Proyek Kerjasama Pertamina – Selandia Baru

Pengeboran Eksplorasi Panas Bumi Kawah Kamojang (Jabar) Diresmikan

Jakarta, 23 September 1974 – Dirut PN Pertamina Dr. Ibnu Sutowo Minggu siang telah meresmikan pengeboran panas bumi kawah Kamojang pada suatu upacara yang dilakukan di lokasi pengeboran daerah Danau Pangkalan, Jawa Barat.

Upacara yang dihadiri oleh pimpinan PN Pertamina, Gubernur Jawa Barat Solihin, Dubes Selandia Baru untuk Indonesia Mr. DL Jermin dilakukan setelah selama 2 tahun ahli dari Selandia Baru mengadakan penyelidikan disamping berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 16 tahun 1974 tanggal 20 Maret 1974 yang menyatakan bahwa penelitian serta eksplorasi panas bumi dilaksanakan oleh PN Pertamina.

Pada kesempatan dimana Ibnu Sutowo juga disertai oleh Nyonya tersebut dalam pidatonya antara lain ia mengatakan pentingnya usaha untuk mencari sumber energi baru selain minyak di Indonesia disebabkan karena kebutuhan akan energi pada tahun mendatang.

Dikatakan produksi minyak Indonesia sebanyak 1,8 milyar barel pada Pelita I dan Pelita II sebanyak kira-kira 3 milyar barel dan selama 10 tahun mendatang dibutuhkan cadangan sebesar 4,8 milyar barel.

Diharapkan dengan digalinya sumber lain di luar minyak akan dapat memenuhi kebutuhan energi dalam negeri tanpa mengurangi jumlah ekspor minyak keluar negeri.

Menghasilkan 30 MW
Pengeboran pada lokasi kawah sekitar kawah Kamojang yang terletak 42 Km di sebelah Tenggara kota Bandung atau 17 Km sebelah Barat Laut kota Garut tadi akan berkisar pada luas 2 Km pada ketinggian lebih kurang 1.500 Km dari permukaan laut.

Beberapa pengeboran akan dimulai bulan September dan akan mencapai kedalaman 500 meter. Bila hasilnya memuaskan, lobang tadi akan dapat menggerakkan pembangkit listrik sebesar 30 MW.

Menurut keterangan study pemanfaatan tenaga panas buni guna kelistrikan di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1918. Pada tahun 1926 di kawah tersebut telah dilakukan pengeboran sebanyak 5 lobang dengan kedalaman maxsimal 128 meter.

Sedang yang tinggal sekarang adalah hanya sebuah saja dengan kedalaman 66 meter yang masih menyemburkan uap dengan suhu pada permukaan lebih kurang 140° C.

Dari hasil analisa atas uap yang sampai saat ini masih keluar menunjukkan persen berat gas antara 1,5 – 3% kondensatnya mempunyai pH 6-7, sehingga dengan demikian uap dapat langsung dipakai menggerakkan turbin generator, sedang korosi tidak menjadi persoalan.

Uap panas ini selain mengandung energi untuk menggerakkan turbin generator, air panas yang mengandung uap dapat digunakan juga bagi pemanasan ruangan, pengeringan textil, pertanian (green house), kesehatan dan kepariwisataan.

Gubernur Solihin pada kesempatan tersebut datang ketempat dengan helikopter dari Bandung, sedang Dr. Ibnu Sutowo beserta rombongan memakai 2 buah pesawat dari Jakarta.

Sementara itu sehubungan dengan dimulainya pengeboran panas bumi tersebut, PT. Propelat Indonesia melalui pemerintah derah Jabar telah mengadakan suatu study tentang kemungkinan pengembangan wilayah sebagai akibat proyek Geothermis kawah Komajang tersebut.

Ir. hendarmin Ranadireksa yang memimpin survey tersebut berorientasi terhadap resources development untuk mendapatkan keseimbangan perkembagan pembangunan dalam keseluruhan pembangunan regional Jabar.

Pemikiran memanfaatkan panas bumi Indonesia sebetulnya sudah ada sejak akhir perang dunia pertama. Waktu itu “Diest van Mijbouw”. Dinas Pertambangan Belanda meneliti puing-puing vulkanik kawah Kamojang pada tahun 1926 Taverne dan Van Beumelen melakukan pengeboran percobaan di beberapa tempat di lapangan uap alam kawah Kamojang. Satu diantara lobang yang dibor Belanda itu sampai saat ini masih tetap menyemprotkan uapnya.

Dua tahun kemudian ahli Belanda lagi mengadakan pengeboran panas bumi di lapangan uap Dieng di Jawa Tengah. Pengeboran percobaan itu menghasilkan kesimpulan bahwa potensi panas bumi Indonesia cukup besar.

Namun setelah pengeboran Dieng pada tahun 1928 itu, tidak kedengaran lagi kegiatan dibidang panas bumi. Ini antara lain karena kebutuhan akan energi belum besar waktu itu, sedangkan persediaan dan produksi minyak bumi dan batu bara cukup banyak.

Krisis energi minyak sekarang menghangatkan kembali persoalan untuk memanfaatkan panas bumi. Beberapa negara sudah sejak belasan tahun memakai panas bumi untuk pembangkitan listrik. Diantara yang terbesar adalah Amerika Serikat, Selandia Baru dan Jepang.

Selain pengeboran kawah Kamojang juga telah dilakukan pengeboran di Dieng pada tahun 1972 yang pembukaan resminya dihadiri oleh Presiden Soeharto. Namun karena kehabisan biaya maka pengeboran eksplorasi Dieng terhenti untuk sementara.

Dalam waktu dekat ini pengeboran panas bumi Dieng yang sebelumnya ditangani oleh PLN akan diteruskan oleh Pertamina, sesuai dengan keputusan Presiden yang memberi wewenang kepada Pertamina menggarap semua jenis sumber energi mineral. (SH)