Istilah Baru “Sadis” Dan “Nyentrik”

Celah Ibukota

Istilah Baru “Sadis” Dan “Nyentrik”

Jakarta, 14 September 1973 – Bulan-bulan terakhir ini, semakin santer kederangaran terutama di kalangan muda-mudi ibukota istilah baru “nyentrik”.

Istilah ini muncul menggeser kedudukan istilah “sadis” yang beberapa waktu yang lalu populer, bahkan sampai dikalangan anak SD.

Lepas dari kata itu sendiri, maka istilah baru ini mempunyai pengertian lain dari arti sesungguhnya. Biasanya istilah demikian timbul dari kalangan muda-mudi dan dengan cepat menjalar dikalangan masyarakat, seolah-olah masyarakat menerima pula istilah baru ini dengan pengertian yang baru pula.

Kita teringat kira-kira setahun yang lalu, saat joget mulai kambuh di ibukota, sampai pada setiap perayaan di kampung selalu dibarengi atraksi joget dan biasanya muda-mudi akan berebutan untuk menampilkan kecakapannya.

Seperti lazimnya, maka wadam menjadi “bunga mawar” pada saat itu. Disinilah untuk pertama kalinya kita mendengar ucapan “sadis” yang dilontarkan muda-mudi yang mereka artikan dengan sadis disini, ialah “nikmat” atau “asyik”.

Sejak saat itu dikalangan muda-mudi “sadis” itu melambangkan “kenikmatan dan keasyikan” sampai serombongan anak-anak yang pulang nonton, di jalanan mereka pada ramai bercerita, bahwa filmnya tidak sadis.

Ada lagi dan jika seorang anak melihat dua orang muda-mudi berjalan bergandengan, jangan heran jika ia menyeletuk : “aduh sadis benar jalan mereka”.
IMG_0189
“Nyentrik”
Dan belakangan muncul istilah baru, yakni “nyentrik”.
Seorang anak yang baru saja duduk di kelas lima SD, telah memerintahkan ayahnya, bahwa celana yang akan dijahitkan itu harus lebar dibawahnya sekian puluh centi, pakai lipatan, pakai kantong tempel di belakang dan mesti pakai ikat pinggang yang besar.

Sang ayah minta kepada anaknya agar bikin potongan yang biasa saja, karena dia belum pantas pakai potongan yang seperti dimaksud anaknya.
Kontan anaknya menjawab : sekarang mode sudah lain, harus “nyentrik”.

Setelah meyelidiki, barulah si ayah mengerti arti istilah baru itu.
Maskudnya kira-kira demikian : Seorang berambut gondrong, dengan celana komprang yang lebarnya dibawah sekian puluh centi, ikat pinggang besar, pakai kaos yang bergambar, bersepatu tumit tebal, orang inilah yang disebut “nyentrik”.

Jelas bahwa asal kata “nyentrik” itu tentulah dari exentrik, yang banyak muncul di koran-koran belakangan ini yang kemudian lahir menjadi istilah sehari-hari dikalangan muda-mudi menurut mode terakhir.

Bagaimana pendapat pembaca, terutama ahli bahasa kita yang sekarang ini bekerja untuk membina bahasa klita ?. (FFH)