Film Dokumenter G30S/PKI Perkuat Argumentasi TNI AD Pelaku Kudeta

Film Dokumenter G30S/PKI Perkuat Argumentasi TNI AD Pelaku Kudeta

Ist

SHNet, JAKARTA – Ketua Tim Advokasi dan Lembaga Konsultasi Hukum Majelis Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat, Yohanes Nenes, menilai, pemutaran Film Dokumenter Gerakan 30 September atau G30S/PKI disutradarai Arifin C Noor, 1984, hanya mememperburuk citra Bangsa Indonesia di mata masyarakat internasional.

“Kita hanya menunjukkan kebodohan dan ketololan, karena menyuguhkan dokumen sejarah yang penuh manipulasi, tidak akurat, diwarnai adegan kekerasan, dan membenarkan institusi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat atau TNI AD pelaku kudeta. Karena di dalam adegannya disuguhkan, pelaku penculikan 7 jenderal senior TNI AD, adalah mereka yang berseragam TNI AD. Ini memalukan,” kata Yohanes Nenes, Sabtu (30/9).

Menurut Yohanes Nenes, kalau diklaim G30S 1965 sebagai bukti pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI), sangat tidak tepat dan pembohongan publik. Karena tidak ada di dalam adegan menyebutkan penculikan 7 Pahlawan Revolusi dilakukan PKI. Justru pemilik seragam TNI AD yang melakukan penculikan dan pembunuhan 7 jenderal senior TNI AD.

Lagi pula, di dalam sejarah kudeta di banyak negara di dunia, tidak ada kudeta yang berhasil dengan mengedepankan kekuasan sipil. PKI itu adalah institusi sipil, tidak memiliki kekuatan senjata.

Seiring dengan perjalanan Bangsa Indonesia, dan perkembangan geopolitik global, tanpa disadari Film Dokumenter G30S/PKI, semakin membuat citra TNI AD menjadi terpuruk.

Apalagi kalau masyarakat menonton film dokumenter Senyap dan Jagal, produksi Joshua Oppenheimmer tahun 2012, akan semakin jelas, pemerintahan Presiden Soekarto, 1 Juli 1966 – 21 Mei 1998, paling bertanggungjawab terhadap kekerasan politik di Indonesia pasca G30S 1965.

Diungkapkan Yohanes Nenes, di dalam analisis mantan diplomat Amerika Serikat (AS), Peter Dale Scott dan disertasi John Roosa, 1998, ditegaskan, G30S 1965, adalah bukti kudeta Soeharto, dengan memanfaatkan konflik internal di lingkungan TNI AD, dengan dukungan logistik Central Inteligence Agency (CIA) AS.

Greg Polgrain, Indonesia dari Australia, dalam bukunya yang sudah diterbitkan dalam edisi Bangsa Indonesia tahun 2017, menyebutkan, tokoh senior CIA bernama Allen Dulles, merangcang pemberontakan Soeharto, karena Presiden Soekarno tidak mau memberikan konsesi tambang emas dan tembaga di Papua kepada AS. (Aju)