Fakta Pembangunan Desa di Papua

Fakta Pembangunan Desa di Papua

Jayapura dilihat dari ketinggian. (Ist)

SHNet, JAKARTA — Dalam data yang diperoleh dalam rapat dengar pendapat di DPD RI pekan lalu, terungkap bahwa jumlah desa tertinggal yang diproyeksikan menjadi desa berkembang di provinsi Papua adalah 6139 dan jumlah desa berkembang yang diproyeksikan menjadi desa mandiri adalah 601.

Angka tersebut menunjukkan masih banyak desa yang pembangunannya tidak maksimal. Apakah penyebabnya? Data dari Deputi bidang Pengembangan Regional Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional /Bappenas menunjukkan setidaknya ada 9 poin permasalahan.

Pertama, masih ada kampung dan distrik yang terisolasi khususnya di pengunungan tengah. Hal ini disebabkan karena terbatasnya akses transportasi darat dan tingginya biaya transportasi udara. Alhasil terjadi disparitas harga yang sangat tinggi.

Kedua, terbatasnya akses air bersih, listrik, dan telekomunikasi. Ketiga, terbatasnya pola budidaya masyarakat yang masih bersifat subsisten.

Keempat, rendahnya produktivitas, nilai tambah dan pendapatan karena terbatasnya benih/bibit, terbatasnya pengetahuan dan keterampilan teknologi produksi, kurangnya tenaga penyuluh dan pendamping, rendahnya hilirisasi pengolahan produk unggulan, dan terbatasnya akses pasar.

Kelima, konflik lahan dan tanah ulayat. Rendahnya angka melek huruf dan partisipasi pendidikan, terutama di wilayah pegunungan tengah menjadi persoalan keenam. Ketujuh, tingginya angka kematian ibu melahirkan dan anak, angka penyakit menular, dan gizi buruk.

Kedelapan, terbatasnya dan tidak meratanya distribusi tenaga pendidikan dan kesehatan. Terakhir, terbatasnya akses menuju pusat pelayanan kesehatan dan penidikan.

Kendati ada banyak hal yang perlu dibenahi, ditargetkan ada 280 desa tertinggal di wilayah Papua yang bisa maju menjadi desa berkembang dan ada 33 desa berkembang di wilayah Papua yang maju menjadi desa mandiri. (DM)