Desa Ada Masalah Pangan? Odesa Indonesia Kembangkan Kelor

Desa Ada Masalah Pangan? Odesa Indonesia Kembangkan Kelor

Foto: SHNet

SHNet, BANDUNG – Kelor adalah tanaman yang telah lama dikenal oleh orang Indonesia. Namun bercocok tanam kelor bukanlah tradisi yang meluas sebagaimana para petani menanam sayuran. Bahkan pada klasifikasi tanaman obat sendiri kelor belum begitu massif ditanam.

Di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung budidaya kelor dimulai. Hal ini sejalan dengan gagasan dari Yayasan Odesa Indonesia yang aktif bergiat dalam pendampingan petani perdesaan. Kelor dijadikan salahsatu terobosan pertanian karena menurut Odesa Indonesia untuk menjawab kebutuhan pangan. Menurut Khoiril Anwar, seorang pendamping kegiatan Yayasan Odesa, kelor menjadi penting karena pertimbangan sosial-kultural di mana banyak keluarga petani dan buruh tani di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung yang termasuk kategori Pra-sejahtera.

“Banyak orang sakit yang membutuhkan pangan yang menyehatkan. Banyak petani bergantung pada beras sementara beras itu merupakan kebutuhan mendasar yang bisa mempengaruhi kemiskinan rumah tangga kelompok pra-sejahtera dan sejahtera I,” kata Khoiril kepada SHNet, Jumat, 29 September 2017.

Foto: SHNet

Bertanam hal yang baru menurut Khoiril bukan sesuatu yang mudah. Butuh pendekatan khusus. Lain dengan tanam kopi yang sudah biasa dilakukan misalnya, kelor dianggap aneh oleh para petani. Hal ini disebabkan karena belum tersosialisasikannya pengetahuan tentang manfaat kelor yang luar biasa baik untuk pangan, kesehatan, lingkungan dan ekonomi.

“Di banyak negara maju kelor sudah menjadi primadona urusan kesehatan. Lembaga pangan FAO pun sudah menganjurkan, utamanya untuk mengatasi gizi buruk di Afrika dan Amerika Latin. Banyak perusahaan obat yang kini memanfaatkan kelor untuk bahan baku. Dan di Indonesia di beberapa daerah juga sudah mulai berjalan,”terangnya.

Dalam kurun satu tahun berjalan, budidaya penanaman kelor di Cimenyan sudah mulai terlihat hasilnya. Sekitar 150 batang pohon telah berhasil dipanen, dan sampai bulan September telah tumbuh sekitar 300 pohon kelor baru. Menurut Khoiril sangat sedikit karena kesulitan bibit. Tidak banyak pohon kelor yang bisa ditebang dan dilipat gandakan. Karena alasan itulah sejak bulan Juni 2017, Odesa Indonesia mulai mengembangkan sistem pembibitan dari biji kelor.

“Dalam waktu 4 bulan berhasil sekitar 400 pohon yang berhasil dari ujicoba 500 bibit. Mulai September ini sudah ditanam diladang, dan masih ada sekitar 1.800 bibit yang akan menyusul ditanam pada bulan November,”katanya.

Target Odesa Indonesia pada awal tahun 2018 nanti ada sekitar 5.000 bibit kelor baru, dan akan diusahakan meningkat pesan pada bulan maret 2018 setara dengan bibit kopi yang dikembangkan odesa mencapai 150.000 bibit. (odesa.id)