Akuisisi Lahan Alasan Keterlambatan Proyek WIKA

Akuisisi Lahan Alasan Keterlambatan Proyek WIKA

Foto diambil dari http://www.wika.co.id [SHNet/Ist].

SHNet, Jakarta – Fitch Ratings menyatakan bahwa tertundanya akuisisi lahan menjadi alasan utama keterlambatan beberapa proyek PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). Namun, Pemerintah Indonesia telah memberlakukan Peraturan Pemerintah (PP) No 13/2017 untuk melancarkan proses pembebasan lahan untuk proyek strategis nasional sehingga berpotensi untuk dapat mempercepat eksekusi dari proyek HSR.

Demikian keterangan resmi Fitch Ratings melalui situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (27/9).

Analis Fitch Hasira De Silva mengatakan bahwa WIKA juga diwajibkan untuk memprioritaskan penyelesaian proyek jalan tol Balikpapan-Samarinda dan proyek LRT Kelapa Gading dan beberapa proyek lainnya di atas proyek HSR. Pasalnya, proyek-proyek tersebut diharapkan selesai sebelum Asian Games yang akan diadakan di Jakarta pada tahun 2018.

Fitch menyatakan, Risiko Proyek yang Terkonsentrasi, yakni Proyek unggulan lain yang dimenangkan di tahun 2016. Proyek tersebut mencakup jalan tol Balikpapan-Samarinda dan proyek LRT Kelapa Gading. Kedua proyek ini, ditambah dengan proyek HSR, mencakup 32% dari order book WIKA di 2016, dimana proyek HSR sendiri mencakup 18%.

Kepentingan Strategis pada Pemerintah
Lembaga ini menyebutkan, kepentingan strategis pada pemerintah, yakni Hubungan WIKA dengan negara, didukung dari hubungan operasional dan strategis yang kuat tetapi hubungan legal yang lemah. Di tahun 2016, Pemerintah menyuntik modal melalui rights issue WIKA sebesar IDR6,1 triliun untuk mendukung pertumbuhan order book WIKA dalam jangka menengah.

Skala Kecil, Defisit Arus Kas: Peringkat Nasional Jangka Panjang WIKA mencerminkan skala operasionalnya yang lebih kecil dibandingkan dengan peers global dan nasionalnya dan juga free cash flow (FCF) yang negatif dikarenakan keharusan mendanai program infrastruktur Pemerintah Indonesia.

Fitch memperkirakan WIKA untuk tetap mencatat pertumbuhan yang kuat dalam beberapa tahun ke depan, dan mengakibatkan FCF untuk tetap negatif. Negatif tersebut diimbangi oleh leverage WIKA yang lebih rendah dibandingkan dengan peers global dan lokal, dan juga akses yang kuat di pasar modal domestik didukung oleh hubungannya dengan Pemerintah dan proyek konstruksinya yang disponsori oleh Pemerintah. (whm/pr)