Ikat Pinggang, Kacamata, Sepatu Tinggi Dilarang Di Yogya ?

Setelah Gondrong Menyusul :

Ikat Pinggang, Kacamata, Sepatu Tinggi Dilarang Di Yogya ?

Sinar Harapan, 13 September 1973 – Setelah larangan rambut gondrong dijadikan keputusan Rapat Kepala SLTP dan SLTA se-Yogya, kini ikat pinggang, kacamata, sepatu, celana cutbrai, wangi-wangian, knalpot mobil dan tas sekolah dijadikan sasaran pula dilarang.

Di Yogya ada dua SLTA yang pernah membiarkan muridnya memelihara rambu panjang di lingkungan sekolah.para pamong berpendapat selama rambut gondrong tidak mengganggu belajar, tidak ada alasan melarangnya.

Tetapi setelah dalam rapat Kepala Sekolah diputuskan melarang rambut gondrong, nampaknya ada perubahan. Murid tidak dilarang memelihara rambut hanya di lingkungan sekolah. Di luar pagar sekolah bukan menjadi tanggung jawab sekolah. Jika kebetulan ada operasi rambut gondorng di jalan raya, itu menjadi resiko murid.

Kebijaksanaan tersebut dianggap tidak berpegang pada prinsip. Sekelompok murid dari SMA Negeri Teladan Yogya yang selama ini mengenal kebebasan memelihara rambut menanyakan kepada Kepala perwakilan P dan K DIY, mengapa dalam rapat Kepala Sekolah yang menentukan rambut gondrong, murid tidak didengar suaranya, padahal larangan tersebut dikenakan kepada murid-murid.0188

Belum lagi ada tanggapan mengenai “tuntutan” murid itu, kini dibeberapa tempat sudah ada larangan memakai ikat pinggang yang dianggap berukuran besar.

Disamping itu, sekalipun untuk menjaga silau matahari, ada juga larangan mengenakan kacamata yang menurut ketentuan “normal” dianggap tidak sopan.

Kacamata ini misalnya yang berukuran besar dan digantungkan jauh di dibawah kelopak mata.
Tidak itu saja, bahkan murid yang bersepatu hak tinggi kini diolok-olok, ditegur dan dilarang menyebarkan perbedaan kelas ekonomi dikalangan sekolah. Mereka dianggap mengejek teman-temannya sekelas.

Mereka ingin berganti sepatu ke sekolah. Adakalanya sepatu olahraga, sepatu sandal atau sepatu mode terakhir. Tetapi inipun terkena larangan yang kurang beralasan kuat.
Mode ctbrai yang digemari tidak saja gadis-gadis, tetapi juga pemuda-pemuda, kini juga menjadi sasaran. Terutama konon yang dibagian bawah memiliki ukuran lebih 50 Cm.

“Tidak, oom Punya saya hanya 30 Cm, juga sudah ditegur”, kata M, seorang pemuda yang berkendaraan Honda 100 CC. Bahkan dalam sebuah wawancara, seorang petugas alat negara pernah mengatakan bahwa cutbrai sebenarnya tidak dilarang. Tetapi kalau untuk berjalan saja kelihatan sulit dan kasian, lebih baik jangan dipakai.

Keterangan tersebut menggelikan, sebab andaikata merasakan sulit, toh yang merasakan juga yang memakai dan bukan orang lain.

Kalau cutbrai sudah diincar untuk dilarang, diperkirakan pemakaian bau wangi-wangian juga akan diincar. Sebab pemuda yang memakai wangi-wangian dewasa ini makin banyak. Nanti dengan alasan kurang jantan, kurang ksatria, niscaya pemuda dijadikan bulan-bulanan jika memakai wangi-wangian. Dua sasaran lagi yang akan dilarang total adalah bunyi knalpot dan tas sekolah.

Ketika musim kebut-kebutan beberapa waktu yang lalu di Yogya, knalpot sepeda motor sering dirubah atau dicopot. Akibatnya berbunyi nyaring dan memekakkan telinga lebih-lebih jika merasa kebut-kebutan di sekitar rumah sakit.

Petugas kepolisian setempat dengan teratur menyalurkan semangat ngebut mereka dengan mengusahakan terbentuknya ikatan motor Yogya. Dengan jalan demikian sedikti demi sedikit bunyi knalpot yang meraung di jalan raya mereda.

Namun kini mulai ramai lagi suara knalpot. Mungkinkah fungsi ikatan motor sudah luntur, belum diketahui secara persis yang jelas penyaluran hobi mobil sudah bisa dilaksanakan.

Tentang tas sekolah, dua bulan ini dijumpai murid sekolah di Yogya memakai mode tas sekolah dengan tali panjang sampai ke tanah. Katanya ini mengganggu kaki berjalan dan akan dilarang pula. Kalau naga-naganya segala mode tidak diperkenankan maka Yogya terancam larangan bagi seluruh mode. Bagaimana dikota anda ? (FXK)