Teman Baca: Gerakan Literasi di Kota Mataram

Teman Baca: Gerakan Literasi di Kota Mataram

Dokumentasi: Teman Baca

SHNet, Mataram – Dedy Ahmad Hermansyah adalah seorang aktifis pegiat gerakan literasi dari Komunitas “Teman Baca” yang mempunyai sekretariat di Jalan Pemuda Nomor 4 (Samping Gereja Bethlehem), Kelurahan Dasan Agung Baru, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Sejak Oktober 2016, Dedy berinisiatif ngelapak buku bacaan dan menggiatkan budaya cinta baca di acara car free day Taman Udayana Kota Mataram.

Menurut Dedy, “Teman Baca sejarah awal terbentuknya adalah atas inisiatif  pribadi. Saya ajak beberapa teman untuk membikin gerakan literasi bareng sekaligus menyalurkan hobi membaca. Awalnya kami masih belum punya nama. Nama “Teman Baca” sendiri baru ditemukan setelah sebulan kemudian. Dan kami mempunyai tagline atau motto: “Banyak Teman Banyak Baca”.

Aktifitas rutin yang dilaksanakan “Teman Baca” adalah ngelapak tiap akhir pekan di Taman Kota Udayana. Selain itu, juga fokus untuk melaksanakan kegiatan jelajah literasi, membikin kelas menulis kreatif, juga kelas jurnalisme warga.

Kini, Teman Baca sudah mempunyai sekretariat sendiri sehingga warga yang ingin membaca koleksi buku bacaan yang tersedia bisa berkunjung ke sini. Teman Baca juga ikut menggerakan lini penerbitan. Salah satu buku yang telah diterbitkan berjudul “Pawon”, yakni sekumpulan esai yang ditulis oleh Maia Rahmayati.

Pelan namun pasti, gerakan literasi yang diinisiasi oleh Dedy bersama teman-teman di komunitas Teman Baca mulai menunjukkan geliat yang cukup menggembirakan. Khususnya di tahun 2017 ini, karena satu per satu target komunitas mulai terwujud.

“Beberapa target kami di komunitas yang sudah goal adalah pertama terbangunnya ajang kumpul bareng antar komunitas literasi di Kota Mataram, kedua kami akhirnya punya keberanian menerbitkan buku sendiri, ketiga kami sudah memulai kerja-kerja menyebarkan virus literasi ke segala pelosok desa di Pulai Lombok,” papar Dedy.

Membangun gerakan literasi tentunya tak mudah, selalu ada suka dukanya. Dedy menceritakan, pekan pertama pembukaan lapak buku bacaan nyaris tak ada yang datang singgah membaca. Anak-anak kecil pun kecewa karena tak ada buku yang bisa dibaca sesuai dengan pengetahuan dan jenjang usianya.

“Dari pengalaman itu kami kemudian perlahan melengkapi referensi buku, khususnya bacaan untuk anak-anak. Mulailah banyak yang datang berkunjung dan Teman Baca pun mulai dikenal khalayak Kota Mataram,” lanjutnya

Bulan Oktober yang merupakan bulan pertama kali ngelapak kemudian disepakati diperingati sebagai hari jadi Komunitas Teman Baca. Walaupun terbilang baru, tetapi Teman Baca langsung dikenal oleh komunitas-komunitas literasi lainnya. Bahkan Kantor Bahasa Nusa Tenggara Baratpada 17–21 Mei 2017 mengadakan “Pembinaan Komunitas Baca di Daerah” dan mengutus perwakilan Komunitas Teman Baca untuk mengikuti Bimbingan Teknik literasi di Jakarta.

Awal tahun ini, Teman Baca bersama beberapa komunitas kecil di Mataram telah sukses membuat pesta literasi yang dinamai dengan “Pesta Batur”. Acara ini menjadi ajang berkumpulnya komunitas literasi di Nusa Tenggara Barat.

Kegiatan Jelajah Literasi yang bentuknya serupa pustaka keliling, adalah kegiatan Teman Baca mendatangi pelosok-pelosok desa di Lombok setiap hari Sabtu dan Minggu di akhir pekan, lalu menggelar lapak baca, membuat kelas menulis untuk pemuda desa, kelas mendongeng dan lain-lain.

Jelajah literasi kini menjadi fokus kerja jangka panjang Teman Baca yang rencananya akan terus berjalan sampai awal tahun depan.

“Harapan dan ambisi besar Teman Baca adalah menemukan, melahirkan benih-benih pekerja gerakan literasi di kampungnya masing-masing,” lanjut Dedy.

Koleksi buku Teman Baca awalnya dikumpulkan dari buku-buku pribadi Dedy yang dibeli setiap bulan. Sebagian besar buku curah atau buku obral. Kemudian dari beberapa teman, juga dari beberapa lembaga yang biasa donasi buku untuk komunitas turut menyumbang buku. Bahkan ada yang langsung transfer uang dan mempercayakan kami sepenuhnya untuk membeli buku.

Total koleksi Teman Baca saat ini ada sekitar 800-an buku, didominasi oleh buku sastra, buku sejarah, sosial politik dan buku-buku anak. Juga ada majalah, tapi 75% adalah buku sastra.

Adapun rencana ke depan, Teman Baca akan membuat diskusi berseri dengan beragam tema, “Kami tidak membatasi diri pada tema yang langsung bersentuhan dengan isu literasi. Dalam waktu dekat Teman Baca akan menggelar “Seri Diskusi Agraria”, lalu dilanjutkan dengan “Seri Diskusi Kesenian dan Kebudayaan”.

 

Penulis: Sukir Anggraeni

Editor: Siti Rubaidah