Segera Diresmikan, Simpang Susun Semanggi Penanda Kemajuan Konstruksi Indonesia

Segera Diresmikan, Simpang Susun Semanggi Penanda Kemajuan Konstruksi Indonesia

Dari kiri, Presiden Direktur PT UBM Pameran Niaga Indonesia Christopher Eve, Direktur Teknik dan Sistem Manajemen PT Wijaya Karya Beton Tbk Sidiq Purnomo, dan Project Manager Pembangunan Simpang Susun Semanggi PT Wijaya Karya Beton Tbk Dani Widiatmoko saat meninjau simpang susun Semanggi di Jakarta. (SHNet/Job Palar)

SHNet, Jakarta – Teknologi beton pracetak di Indonesia mencatat sejarah dengan kehadiran proyek pengembangan infrastruktur simpang susun Semanggi, Jakarta. Teknologi yang digunakan dalam pembangunan simpang susun Semanggi merupakan salah satu contoh kemajuan dunia konstruksi Indonesia.

Simpang Susun Semanggi rencananya akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo bertepatan dengan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 2017. Seusai diresmikan. simpang susun langsung dioperasikan untuk publik.

“Metode pembangunan jembatan lingkar Semanggi menggunakan sistem beton pracetak segmental box girder dengan metode pengangkatan dengan lifter yang diperkuat dengan prestressed,” kata Direktur Teknik dan Sistem Manajemen PT Wijaya Karya Beton Tbk, Sidiq Purnomo beberapa waktu lalu saat kunjungan kerja di simpang susun Semanggi bersama Presiden Direktur PT UBM Pameran Niaga Indonesia Christopher Eve di Jakarta.

Proyek pengembangan infrastruktur simpang susun Semanggi, Jakarta yang rencananya akan jadi infrastruktur pengentas kemacetan di kawasan Semanggi. Pengerjaan pembangunan simpang susun Semanggi dilakukan PT Wijaya Karya Tbk dengan menggunakan dana yang berasal dari nilai kompensasi pengembang PT Mitra Panca Persada, anak perusahaan asal Jepang, Mori Building Company.

Sidiq Purnomo mengatakan, teknologi yang digunakan dalam pembangunan simpang susun Semanggi merupakan salah satu contoh kemajuan dunia konstruksi Indonesia.

Metode ini, lanjut dia, dilakukan dengan merangkai segmen-segmen box girder dengan memanfaatkan gaya prategang (prestressing forces), sehingga mendapatkan bentang panjang sampai dengan 80 meter tanpa kolom di bawahnya. Setiap box girder dicetak secara khusus dan presisi.

“Setiap pemasangan box girder hanya membutuhkan 60 menit hingga 80 menit tanpa mengganggu arus lalu lintas di bawah jembatan. Penggunaan teknologi pracetak ini dapat menghemat waktu pengerjaan proyek simpang susun Semanggi sehingga lebih berkualitas,” kata Sidiq.

Dengan menggunakan teknologi jembatan terkini, proses pembangunan proyek bisa berjalan sangat cepat serta pembiayaannya bisa efisien. Dalam perencanaan awal, pembangunan simpang susun ditargetkan rampung dalam 540 hari atau sekitar 18 bulan.

“Namun pada akhirnya, pembangunan jembatan layang dengan total panjang mencapai 1,6 km ini hanya membutuhkan waktu 15 bulan. Efisiensi waktu dalam proses penyelesaian proyek simpang susun Semanggi bisa dilakukan karena menggunakan teknologi beton pracetak,” katanya.

Sektor konstruksi sebagai penopang pembangunan infrastruktur memang menjadi salah satu sektor penting dalam sistem pembangunan ekonomi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 memperlihatkan sektor konstruksi berada di posisi ketiga sumber pertumbuhan ekonomi di Indonesia dengan kontribusi 0,51 persen setelah sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan.

Presiden Direktur PT UBM Pameran Niaga Indonesia Christopher Eve mengungkapkan, pemerintah Indonesia masih terus fokus pada pembangunan sektor konstruksi dan infrastruktur sebagai salah satu faktor penting untuk mendorong perekonomian nasional.

“Percepatan pembangunan infrastruktur, akan mempercepat jalannya tingkat pertumbuhan perekonomian nasional. Pasar konstruksi Indonesia merupakan yang terbesar di Asean yang menyumbang 60 persen hingga 70 persen dari total pasar di wilayah ini,” kata Christopher.

Konstruksi beton, lanjut dia, menyumbang 40 persen bahan bangunan yang digunakan dalam proyek-proyek di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas industri beton pracetak dan prategang nasional menjadi 50 persen hingga 2019.

“Besaran porsi tersebut, dalam rangka menciptakan efektivitas, efisiensi dan kualitas dalam penyelenggaran kontruksi,” tambahnya.

Lebih lanjut, Christopher Eve mengatakan, melihat potensi Indonesia sebagai salah satu pasar konstruksi yang terus berkembang, pihaknya kembali menyelenggarakan Concrete Show SEA 2017 di Indonesia untuk kelima kalinya, pada 13-16 September 2017 di Jakarta International Expo, Kemayoran.

“Salah satu produk unggulan yang akan ditampilkan pada Concrete Show SEA 2017 adalah produk pracetak dan prategang dimana teknologi pracetak dan prategang merupakan salah satu teknologi yang sangat mendukung untuk percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia,” katanya.