Rusia dan Tiongkok Tanggungjawab Keamanan di Semenanjung Korea

Rusia dan Tiongkok Tanggungjawab Keamanan di Semenanjung Korea

Ilustrasi / wikimedia.org

SHNet, MANILA – Federasi Rusia dan Republik Rakyat China, menegaskan, tetap punya tanggungjawab moral teramat dalam menjaminan keamanan yang kondusif di Semenanjung Korea, pasca keputusan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menjatuhkan sanksi ekonomi melalui resolusi 2371 kepada Korea Utara di New York, Sabtu petang, 5 Agustus 2017.

Ujicoba rudal balistik antar bernua berhulu ledak nuklir Korea Utara maupun latihan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan di Semenanjung Korea mesti dihentikan.

Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri, Federasi Rusia, Sergey Lavrov di sela-sela pertemuan Association of South East Asian Nations (ASEAN) Regional Forum di Manila, Ibu Kota Negara Republik Philippine, Minggu (6/7/2017).

ASEAN beranggotakan 10 negara, yakni Indonesia, Malaysia, Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, Myanmar, Singapura, Brunai Darussalam, dan Philippine.

Delegasi dari Korea Utara (Korut), Korea Selatan (Korsel), Amerika Serikat (AS), Federasi Rusia, Australia, Bangladesh, Canada, Tiongkok, the European Union, India, Japan, Mongolia, New Zealand, Pakistan, Papua New Guinea, Timor Leste dan Sri Lanka, hadir dalam ASEAN Regional Forum (ARF) di Manila, dimulai Rabu, 2 Agustus 2017 dan berakhir Selasa, 8 Agustus 2017.

“Seperti yang Anda tahu, Rusia dan RRC memiliki posisi bersama,” kata Sergey Lavrov.

“Posisi ini, seperti yang Anda tahu, disegel dalam pernyataan bersama oleh menteri luar negeri kedua negara pada 4 Juli 2017 dan menyiratkan langkah menuju proses politik ini melalui inisiatif Tiongkok mengenai pembekuan ganda: pembekuan peluncuran rudal dan nuklir apapun.”

“Ujicoba rudal balistik Korea Utara, Selasa, 4 Juli 2017 dan Jumat, 28 Juli 2017, bersamaan dengan latihan militer skala besar Amerika Serikat dan Republik Korea Selatan,” kata Sergey Lavrov, Minggu (6/8/2017), sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Nasional Federasi Rusia, Telegrafnoie Agenstvo Sovietskavo Soyusa (TASS) News Agency.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan rekannya dari Tiongkok Wang Yi membahas krisis di semenanjung Korea setelah ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang baru mengenai Korea Utara.

Menurut Sergey Lavrov, bBanyak perhatian diberikan pada situasi di semenanjung Korea, termasuk dalam konteks resolusi Dewan Keamanan PBB yang diadopsi secara harfiah.

“Ini bersamaan dengan langkah-langkah baru dan cukup serius mengenai kepemimpinan Pyongyang dengan tujuan untuk mencapai pemenuhan Resolusi Dewan Keamanan PBB sehubungan dengan program rudal dan nuklir Korea Utara, juga berisi komitmen tegas Dewan Keamanan PBB untuk melanjutkan perundingan enam negara mengenai pencarian penyelesaian politik,” kata Lavrov. (Aju)