Rekayasa Limbah Agroindustri menjadi Makanan Ringan

Pelatihan bagi Mitra Wirausaha Muda, Kerja sama Universitas Tribhuwana Tunggadewi dengan SMK NU 04 Ma’arif yang Dibiayai Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat

Rekayasa Limbah Agroindustri menjadi Makanan Ringan

ist

SHNet,Malang – Dosen Universitas Tribhuwana Malang Fakultas Pertanian Dr. Ir. Agnes Quartina Pudjiastuti, MS dan Dr. Nur Ida Iriani, MM dari Fakultas Ekonomi bekerja sama dengan SMK NU 04 Ma’arif di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang melakukan kegiatan pengabdian masyarakat yang didanai Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) melalui program kemitraan masyarakat (PKM ).

Sasaran kegiatan ini adalah dua wirausaha muda yang memproduksi kerupuk ampas
tahu (limbah agroindustri) dan yang memproduksi keripik pisang (komoditas pertanian).

Oleh karena kedua wirausaha ini adalah para siswa dan alumni SMK NU 04 Ma’arif maka para siswa kelas 11 dan kelas 12 dilibatkan dalam pelatihan ini. Harapannya, kegiatan ini akan memotivasi para siswa lainnya untuk mengembangkan usaha yang telah ada atau membuka usaha baru, meskipun berskala kecil. Seperti yang telah diketahui bersama, usaha kecil telah teruji tahan terhadap krisis ekonomi, Selain itu, munculnya wirausaha baru akan berkontribusi terhadap masalah ekonomi makro yaitu terciptanya lapangan kerja yang berdampak pada menurunnya angka pengangguran.

Melalui pelatihan ini, mitra dan para siswa sebagai calon wirausaha muda memahami
tentang

  1. perbedaan kerupuk dan keripik,
  2. bagaimana memilih bahan baku dan bahan pembantu yang sesuai,
  3. bagaimana proses produksi yang mendukung keamanan pangan,
  4. bagaimana komposisi bahan baku dan bahan pembantu yang tepat,
  5. bagaimana merencanakan usaha,
  6. bagaimana memasarkan dengan menggunakan media sosial (online) dan pengetahuan lainnya.

Pengetahuan mengenai pemanfaatan ampas tahu sebagai limbah agroindustri menjadi
kerupuk atau makanan lainnya yang bernilai ekonomi cukup tinggi akan membangkitkan
kreativitas para siswa. Produk ini hanya memerlukan investasi dan biaya produksi yang rendah sehingga tidak sulit bagi wirausaha baru untuk memasuki industri kerupuk ampas tahu.

Selama ini, ampas tahu di wilayah Kecamatan Pakis hanya digunakan sebagai pakan ternak atau dibuang. Namun, siswa SMK NU 04 yang bergabung dalam kelompok usaha yang beranggotakan 4 orang, berinisiatif mengolah limbah industri tahu ini menjadi kerupuk.

Usaha ini didirikan dengan modal awal yang bersumber dari uang saku anggota, dengan peralatan dan fasilitas seadanya. Bahan baku utama adalah ampas tahu dan tepung tapioka. Proses produksi kerupuk ampas tahu mengalami beberapa kali kegagalan karena kurangnya pengalaman dan belum ada usaha sejenis yang dapat dijadikan sebagai tempat belajar (referensi). Hal ini membuat kelompok usaha ini hampir menghentikan usahanya.

Namun, motivasi dari seorang pembimbing mata pelajaran kewirausahaan pada akhirnya membuat kelompok ini mampu memproduksi kerupuk ampas tahu seperti yang diharapkan. Motivasi lainnya berasal dari para tetangga yang bersedia membeli produk mereka. Penjualan pertama ini menjadi motivasi bagi wirausaha muda untuk melanjutkan usaha kerupuk ampas tahu.

Selain kerupuk yang menggunakan bahan baku limbah agroindustri tahu, diberikan
pula pelatihan tentang keripik yang menggunakan bahan baku komoditas pertanian yaitu
pisang. Berdasarkan hasil study kelayakan yang telah dilakukan, kedua usaha ini dinyatakan layak untuk dikembangkan. Usaha keripik pisang memiliki keuntungan yang lebih besar dibandingkan usaha kerupuk ampas tahu karena memiliki pasar yang lebih luas dan produk dengan rasa yang konsisten (enak dan renyah). Sementara pasar kerupuk ampas tahu masih memerlukan supervisi dalam proses produksi, terutama konsistensi komposisi bahan baku dan bahan pembantu.

Di samping pelatihan, pemberian bantuan berupa alat dalam proses produksi kerupuk ampas tahu dan keripik pisang diharapkan dapat meningkatkan skala usaha dan
pendapatan kedua mitra dalam program kemitraan masyarakat ini. (*)