Re-edukasi Vaksinasi di Antara Penyesatan Informasi dan Pelecehan Profesi

Re-edukasi Vaksinasi di Antara Penyesatan Informasi dan Pelecehan Profesi

Ilustrasi/Ist

Oleh : Raditya Alvarabie

Kita ketahui bersama bahwa vaksinasi adalah bentuk ‘upaya’ agar tubuh kebal dan terhindar dari berbagai penyakit yang berat, menyebabkan kecacatan, serta mengancam jiwa.

Individu yang divaksin, secara ilmiah akan ‘kebal’ terhadap penyakit tertentu. Sekalipun masih ada kemungkinan ‘kecil’ tertular penyakit, namun dampak yang ditimbulkan lebih baik, ketimbang yang tidak divaksin. Sebagai contoh; data menunjukkan bahwa 95% individu yang diberikan vaksinasi MR (measles dan rubella) akan kebal terhadap penyakit campak dan rubella.

Apabila lingkungan dalam kondisi baik dari segi higienitas, tidak ada individu di sekitar yang berpotensi menularkan penyakit, gizi yang baik, seseorang bisa saja terhindar dari suatu penyakit, meski tidak dilakukan vaksinasi.

Ini mirip dengan analogi yang dibuat saudara dan teman sejawat saya; dr. Muchtar Hanafi: apabila seseorang mengendarai sepeda motor, meskipun tanpa ‘helm’, mungkin ia sampai ditujuan, tanpa cedera sedikitpun. Lantas mengapa pemakaian helm kemudian menjadi penting?

Musabab, medan yang ditempuh, tidak selamanya smooth dan tanpa bahaya. Begitupun dengan vaksinasi adalah ‘ikhtiar’ kita pada kondisi yang berpotensi menyebabkan hadirnya penyakit yang berat yang menimbulkan kecacatan bahkan mengancam nyawa.

Komunikasi, informasi, dan edukasi digencarkan oleh Para Tenaga kesehatan, sebagai bentuk kepedulian, serta tanggung jawab Profesi. Vaksinasi pun mendapat dukungan dari Pemerintah bahkan lembaga Internasional (WHO). Di masa lalu upaya Edukasi kepada masyarakat ini mendapat tantangan berupa gap tingkat pendidikan rendah serta akses terhadap pelayanan kesehatan yang sulit.

Para Dokter sejak masa ‘Sekolah Dokter Jawa’ dari sekolah kedokteran, STOVIA (Jakarta) dan NIAS (Surabaya), telah dengan susah payah memberikan edukasi dan penanganan penyakit infeksi di masyarakat, yang berpotensi menjadi mengancam jiwa serta menyebabkan wabah seperti cacar dan pes.

Terjun langsung berbekal ilmu dan kasih sayang yang tulus, meski berpotensi membahayakan diri mereka sendiri, para Dokter dan tenaga kesehatan lainnya turun dan ‘menyentuh’ langsung rakyat yang sakit dan menderita.

Di masa kini, tantangan edukasi dan kampanye vaksin ini adalah maraknya ‘penyesatan’ informasi di masyarakat. Betul, bahwa vaksinasi adalah hak setiap individu untuk melakukanya atau tidak. Mirisnya, masyarakat yang menolak vaksinasi mendapatkan informasi yang salah dan tidak ilmiah dari kalangan yang anti vaksin.

Arus informasi yang deras dan dengung kebebasan berpendapat, membuat semua pihak bebas bersuara meskipun bukan pada ‘bidang ilmu yang dikuasainya’. Dan pendapatnya bisa dengan mudah tersebar, meskipun keabsahannya secara ilmiah, tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Vaksinasi oleh sebagian kalangan yang anti vaksin digaungkan sebagai ‘agenda’ penghancuran generasi Islam. Dari mana didapatkan informasi ini serta kebenaranya sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan. Padahal umat Islam sendiri diajarkan ber-Tabayyun (klarifikasi) atas kebenaran dari tiap informasi yang diterima.

Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam berpesan, suatu urusan apabila diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka akan datang kehancuran. Begitupun dengan vaksinasi. Apabila dokter dan tenaga kesehatan tidak lagi dipercaya, maka siapa yang pendapatnya dipercaya dan terjamin tidak membahayakan putera-puteri kita?

Kita harapkan, Pemerintah, selaku pemegang kekuasaan dapat mengambil sikap tegas atas maraknya ‘penyesatan’ informasi terhadap vaksinasi ini. Bayangkan, meski hanya 1 keluarga saja yang termakan isu anti vaksin, maka anak-anaknya yang tidak divaksin berpotensi besar tertular berbagai penyakit berat, cacat, bahkan meninggal dunia.

Di sisi lain, fitnah, pelecahan, dan upaya provokatif menjatuhkan profesi tenaga kesehatan begitu mudahnya dilontarkan. Ramai di media sebuah opini yang menyebutkan “membahas vaksin dengan dokter, seperti membahas miras dengan pemabuk”. Ini adalah ungkapan yang betul-betul tidak etis, tendensi penghinaan, dan menyesatkan masyarakat. Lantas ke mana masyarakat menanyakan perihal kesehatanya bila bukan kepada dokter?

Fitnah, informasi sesat, ungkapan provokatif begitu mudah diucapkan, seakan tanpa beban dan malu-malu lagi mengungkapkanya. Serta dengan mudahnya menggelinding bebas di media sosial, tersebar cepat dan luas. Dibaca berbagai kalangan dengan ragam tingkat pendidikan. Dampaknya amat merusak taraf pengetahuan kesehatan masyarakat yang susah payah dikampanyekan Penyuluh-penyuluh Kesehatan di pelosok-pelosok daerah sejak lama.

Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) Indonesia akan menyambut masa ‘bonus demografi’. Masa yang pernah mengantarkan Majapahit di puncak kejayaan. Bonus demografi bukan hanya ledakan penduduk, namun sebuah siklus per-100 tahunan, yakni keadaan di mana penduduk usia dewasa muda akan berada pada jumlah yang mayoritas dibanding kelompok usia lainnya.

Kondisi ini menjadi daya ungkit kemajuan sebuah bangsa dan peradaban, sebab produktivitas kelompok usia dewasa muda ini dapat terberdayakan dengan optimal bagi pembangunan di suatu negara.

China dan India telah dan tengah menikmati bonus demografi. Ketahanan dan kemajuan sebuah bangsa akan menerima dampak besar dari bonus demografi ini. Sekali kita melewatkanya dengan gagalnya generasi penerus lewat kebobrokan moral ataupun kerapuhan fisik akibat wabah penyakit tertentu, maka kita akan kehilangan kesempatan besar berjaya sebagai sebuah bangsa baik ekonomi, Kesehatan, pendidikan, kebudayaan, dan nilai Ketuhananya.

Vaksinasi, memiliki peran amat strategis dalam mencegah merebaknya wabah penyakit. ‘Rantai penularan’ penyakit-penyakit berbahaya dapat terputus dengan vaksinasi. Dahulu Pekan Imunisasi Nasional (PIN) pernah sukses meng-eradikasi penyakit Polio dengan menggalakkan imunisasi. Kali ini marak kembali penyakit Polio, seiring maraknya gerakan anti vaksin. Dan ‘penuntutan’ legitimasi halal sebelum penggunaan vaksin.

‘Kehalalan’ vaksin tidak bisa dilihat dengan zat-nya semata. Pandangan yang holistik, berbekal pengetahuan yang mumpuni perlu dihadirkan ketimbang mengedepankan nafsu dan ambisi ‘tampil’ dan diikuti. Ushul fiqih tentang hukum suatu obat/makanan; segalanya halal sampai diketemukan suatu hal yang mengharamkan.

Sekalipun terdapat zat yang haram di dalamnya, mendesaknya dan membahayakanya suatu penyakit disertai belum adanya zat pengganti lainnya, dapat memperkuat posisi vaksin dalam mencegah kerusakan yang lebih besar, demikian yang dinasihatkan Dr. Asrorun Ni’am, dari Komisi Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia).

Maka apabila Dokter dan Majelis Ulama telah menyarankan dan memberikan keterangan terkait pentingnya vaksinasi, lantas apalagi yang menjadi pegangan pihak yang antivaksin? Apa yang menjadi dasar penolakkanya silahkan dikemukakan, namun kedepankan diskusi yang adil, berdasarkan ilmu, dan terbuka. Sehingga mencerdaskan dan menyelamatkan. Bukan justru menyesatkan dan membahayakan.

Penulis adalah Asisten Rasjid Soeparwata, Guru Besar Ilmu Bedah Vaskuler FK UI, Professor for Thoracic and Cardiovascular Surgery  (T.C.V), Westfälische Wilhelms-Universität Münster (WWU Münster), Germany