Pembangunan Wisata Batu Templek Bandung Mesti Perhatikan Sanitas Warga

Pembangunan Wisata Batu Templek Bandung Mesti Perhatikan Sanitas Warga

2
0
SHARE
foto: odesa.id

SHNet, BANDUNG – Salahsatu problem Curug Batu Templek Cimenyan adalah sampah. Curug akan menjadi bersih jika warga sekitarnya mendapatkan hak sanitasi yang layak.

Setiap musim hujan, pesona Curug Batu Templek di Cisanggarung, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung itu seringkali tampak kumuh. Banyak plastik bertebaran. Lumpur hitam dan coklat juga mewarnai bagian legok-legok sungai kecil tersebut. Pada bebatuan tebing yang jadi objek utama pemotretan sering kali ditemukan kain-kain bergelantungan.

Hasil penelusuran Odesa Indonesia, sumber sampahnya sebagian berasal dari penduduk di Cisanggarung yang berada 1-2 km dari Curug. Sebagian juga berasal dari pengunjung yang sembarangan membuang sampah di sekitar Curug.

“Solusi terbaik dalam hal ini tidak sulit,” kata Faiz Manshur, Ketua Yayasan Odesa Indonesia yang pada bulan Agustus 2017 bersama relasi dari Yayasan Odesa Indonesia hendak membangun sarana MCK di Cisanggarung (Jumat, 11/8/2017). Menurut Faiz, mengurus Curug Batu templek tidak boleh hanya meletakkan kepentingan wisata saja, tapi harus memperhatikan kualitas hidup kesehatan dan kualitas lingkungan warga sekitar.

“Batu templek tidak dibangun juga sudah bagus. Supaya tidak kumuh perlu membuat model pembanggunan itu berorientasi pada perubahan atas kebiasaan warga dari perilaku membuang sampah dan buang hajat ke kali beralih ke tempat sampah dan WC. Hak warga Cisanggarung mendapatkan sanitasi yang layak harus dipenuhi terlebih dahulu,” papar Faiz.

Sementara Ujang Rusmana, warga Cisanggarung berpendapat, warga di atas perbukitan Cisanggarung itu tidak bisa sekadar diberi wawasan tentang bahaya membuang sampah di kali. Warga perbukitan tidak takut banjir. Membuang sampah di kali sudah menjadi kebiasaan lama. Dulu plastik dan kain tidak banyak. Sekarang makin banyak karena banyak barang konsumsi dari plastik.

“Mereka tidak ngerti urusan banjir karena tinggal di atas perbukitan yang tinggi. Mereka justru ingin air melimpah karena selama sumber air bersih lari ke kawasan bawah di perkotaan, sementara warga penghuni perbukitan kekurangan air,” kata Ujang.

Dari pantauan Odesa Indonesia memang persoalan di Cikadut dan Mekarmanik ini terdapat anomali besar berupa kesenjangan sosial. Warga perbukitan memiliki banyak sumber air, tetapi yang makmur justru orang kota yang berada di bawah (Kawasan Perkotaan). Banyak sumber air yang telah dijual ke pengusaha dan aliran airnya dijual ke kawasan perumahan di perkotaan. Sementara warga desa hanya mendapatkan porsi air yang sedikit sehingga pada musim kemarau sering berebut air.

Strategi Hijau
Faiz Manshur berharap orang-orang kota yang bermaksud menggarap Curug Batu Templek sebagai objek wisata itu semestinya meletakkan prinsip “hijau” tidak setengah-setengah. Mengurus hijau menurutnya tidak sekadar melabeli dengan merek. Dalam pandangan Odesa Indonesia, “hijau” berarti tercapainya kualitas lingkungan, kualitas hidup warga yang sehat, cukup ekonomi dan cukup pendidikan.

“Jangan juga wisata itu hanya memindahkan distribusi produk dagang dari perkotaan berpindah ke desa. Jangan juga kemudian wisata itu berarti memindahkan polusi kendaraan dari kota ke desa. Melalui wisata bawalah ilmu pengetahuan dan gerakan-gerakan bermutu yang memungkinkan warga desa yang tertinggal bisa hidup lebih berkualitas,” katanya. (odesa.id)