Para Ilmuwan Kembangkan Vaksin Zika yang Lebih Baik dan Berpotensi lebih Aman

Para Ilmuwan Kembangkan Vaksin Zika yang Lebih Baik dan Berpotensi lebih Aman

6
0
SHARE
Tanaman terinfeksi virus yang menghasilkan hasil protein komponen protein tinggi di dedaunannya / sciencedaily.com

SHNet, Arizona – Demam Zika yang pernah mewabah di wilayah Afrika dan Asia Pasifik dan disebabkan oleh virus Zika yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti telah menyebabkan keadaan darurat kesehatan bagi masyarakat di beberapa negara. Sampai sejauh ini belum ada vaksin atau pengobatan yang bisa menyembuhkan virus Zika sehingga pasien yang terpapar hanya dianjurkan beristirahat dan minum banyak cairan.

Namun baru-baru ini para peneliti telah mengembangkan vaksin Zika berbasis tanaman pertama di dunia yang bisa lebih manjur, lebih aman dan murah untuk diproduksi dibandingkan beberapa upaya lain yang pernah dilakukan.

Meski telah ada sejak tahun 1950 tetapi ancaman Zika di seluruh dunia muncul pertama kali pada tahun 2015, menginfeksi jutaan orang saat melanda seluruh Amerika. Hal ini memberi ketakutan bagi wanita hamil, karena bayi yang lahir akan mengalami cacat lahir otak yang parah sehingga dengan cepat membebani rumah sakit dan sistem perawatan kesehatan masyarakat.

Untuk menanggapi wabah tersebut, telah dilakukan berbagai upaya ilmiah untuk menghentikan Zika. Seluruh pemerintah, laboratorium akademis dan perusahaan farmasi telah berlomba mengembangkan vaksin Zika sejak ahli kesehatan global pertama kali menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh virus pembawa nyamuk.

Hingga, sebuah institut di wilayah Arizona, Arizona State University / ASU, akhirnya mengambil langkah maju dalam meningkatkan upaya pencegahan Zika.

Ilmuwan Institut Biodesign (ASU), Qiang “Shawn” Chen, telah memimpin tim risetnya untuk mengembangkan vaksin Zika berbasis tanaman pertama di dunia yang bisa lebih manjur, lebih aman dan murah untuk diproduksi daripada upaya lainnya sampai saat ini.

“Vaksin kami menawarkan peningkatan keamanan dan berpotensi menurunkan biaya produksi lebih banyak daripada alternatif lain saat ini, dan dengan efektivitas yang setara,” kata Chen, seorang periset di Biodesign Center for IVV dan seorang profesor di School of Life Sciences. “Kami sangat gembira dengan hasil ini,” tambahnya.

Beberapa vaksin Zika yang potensial memiliki hasil menjanjikan pada tes awal hewan dan manusia. Tahun lalu, Food and Drug Administration menyetujui uji coba manusia pertama terhadap kandidat vaksin Zika, dan pada musim panas ini, percobaan klinis sebesar US$ 100 juta sedang dilakukan.

Tapi hingga saat ini, belum ada vaksin atau terapi berlisensi yang tersedia untuk memerangi Zika.

Beberapa ilmuwan di ASU yang berdedikasi akhirnya tergerak untuk bertindak dan ingin menggunakan pengetahuan khusus mereka untuk menemukan cara mengatasi krisis pandemi.

Pertama, ahli kimia ASU, Alexander Green, bersama dengan kolaborator di Harvard, mengembangkan tes Zika yang lebih cepat dan andal, sebuah prestasi yang disorot oleh Popular Science dalam bukunya “Best of What’s New” tahun 2016.

Kini, Chen mungkin telah menghasilkan kandidat vaksin yang lebih baik berdasarkan kunci protein Zika. Chen adalah seorang ahli virus yang telah bekerja selama satu dekade terakhir mengenai terapi dan vaksin berbasis tanaman melawan virus West Nile dan demam berdarah, yang berasal dari keluarga Zika yang sama, yang disebut flavivirus.

Dia mengasah otak untuk mengembangkan vaksin terhadap sebagian protein virus Zika, yang disebut DIII, yang memainkan peran kunci bagi virus tersebut untuk menginfeksi orang.

“Semua keluarga flavivirus memiliki protein amplop di bagian luar virus, memiliki tiga domain.” Domain III memiliki hamparan DNA yang unik untuk virus Zika, dan kami memanfaatkannya untuk menghasilkan respon kekebalan yang kuat dan protektif yang unik untuk Zika, “kata Chen.

Para periset pertama kali menumbuhkan protein amplop pada bakteri, lalu beralih untuk menyiapkan domain protein DIII pada tanaman tembakau. Amplop pada virus biasanya berasal dari bagian-bagian dari membran sel inang, seperti fosfolipid dan protein, tetapi mencakup beberapa glikoprotein virus. Secara fungsional, amplop virus yang digunakan untuk membantu virus memasuki sel inang.

Setelah mengembangkan cukup bahan untuk kandidat vaksin baru, tim Chen melakukan percobaan imunisasi pada tikus, yang menyebabkan antibodi dan respons kekebalan seluler yang terbukti memberikan perlindungan 100 persen terhadap beberapa strain virus Zika di tikus percobaan.

Memproduksi vaksin berbasis tanaman, terutama di pabrik tembakau, adalah hal yang biasa dilakukan peneliti ASU seperti Chen. Selama lebih dari satu dekade, mereka telah memproduksi vaksin murah dari tanaman-tanaman untuk memerangi penyakit menular yang mewabah di negara berkembang.

Ini adalah pendekatan yang sama dengan perintis penelitian tanaman dari ASU, Charles Arntzen yang digunakan saat ia memainkan peran kunci dalam mengembangkan ZMapp, perawatan eksperimental yang digunakan selama wabah Ebola.

Rekan Biodesign Artntzen, termasuk Chen, Hugh Mason dan Tsafrir Mor, terus mengejar vaksin dan terapi nabati untuk memerangi virus West Nile, demam berdarah, agen saraf dan bahkan kanker.

dan vaksin berbasis protein Chen menggunakan bagian terkecil dan paling unik dari virus Zika yang masih bisa mendapatkan respons kekebalan yang pontensial dan kuat.

“Dalam pendekatan kami, kami membuat apa yang kami sebut pseudovirus. Ini adalah virus palsu, pseudovirus hanya menampilkan bagian DIII dari protein amplop di permukaan, setidaknya sama kuatnya dengan versi vaksin sebelumnya.”

Dan profesor Chen tampaknya sangat yakin bahwa vaksin protein DIII-nya akan lebih aman. (HNP)