KKBM Peringatan HUT RI ke-72 Tahun: Merdekakan Sungai dari Sampah

KKBM Peringatan HUT RI ke-72 Tahun: Merdekakan Sungai dari Sampah

Upacara Bendera dilaksanakan dengan hikmat oleh Komunitas Kali Bersih Magelang

SHNet, Magelang – Komunitas Kali Bersih Magelang (KKBM) yang peduli dengan kali (sungai) sebagai sumber kehidupan pada peringatan HUT RI ke-72 tahun ini mengadakan upacara bendera yang terbilang unik. Yakni, mereka mengambil lokasi di saluran Kali Manggis Dusun Banyakan pada Kamis (17/8/2017).

Bertindak sebagai Komandan upacara adalah Yohanes Jo, dan sebagai Inspektur upacara adalah Petrus Widiyatno. Peringatan upacara bendera yang unik dan sederhana tersebut tidak mengurangi rasa hikmat para pesertanya, terutama ketika lagu Indonesia Raya berkumandang ditingkahi alunan biola yang dimainkan oleh Sudiro warga Kliwonan kota Magelang.

Sejenak setelah Komandan upacara membubarkan barisan sebuah puisi di bacakan oleh Andretopo Sanjoyo tentang ratapan alam yang terluka oleh sampah dan gedung gedung megah yang menggusur area persawahan .

Upacara yang unik tersebut digagas dan diikuti oleh puluhan warga sekitar dari berbagai latar belakang, lintas umur dan  status. Bahkan  di antara peserta nampak serombongan ibu ibu buruh tandur yang rata rata berusia setengah baya yang tanpa sungkan atau malu ikut menceburkan diri ke sungai mengikuti prosesi upacara.

Dalam sambutan upacaranya, Petrus menyampaikan bahwa tema Peringatan HUT RI ke-72 yang mereka  usung adalah: Memerdekakan sungai dari sampah.

“Acara ini dilaksanakan sebagai kelanjutan dari acara baksos 23 Juli 2017 dan sebagai ucapan terimakasih serta menguatkan kesadaran para petani dan warga Banyakan agar tetap menjaga kebersihan sungai,” kata Petrus.

Dokumentasi: KKBM
Dokumentasi: KKBM

Setelah upacara bendera selesai acara dilanjutkan dengan makan bersama nasi kluban yang di sajikan didaun pisang di pinggiran bantaran sungai. Tumpah ruah warga dari anak-anak sampai orang tua ikut makan bersama setelah pembacaan doa sebagai rasa syukur. Makan nasi kluban bersama tersebut diselingi bincang dan canda  keramahan khas warga desa.

Acara selanjutnya adalah ngarak monumen sampah yang kemudian dipajang di samping gapuro masuk dusun Mbanyakan.

“Dipasangnya monumen sampah yang berbentuk bola dunia dengan sampah yang bergelantungan sekedar mengingatkan warga bahwa bumi tempat kita tinggal akan dipenuhi sampah bila kita tidak mau menjaga kebersihan dan membuang sampah secara sembarangaran,” lanjut Petrus.

Terakhir, sebagai apresiasi dan rasa terimakasih KKBM terhadap partisipasi seluruh pihak maka digelar sebuah pasogatan musik yang dipersembahkan untuk warga sekitar. Komunitas musik etnik Jodho Kemil pimpinan mas Andretopo Sanjoyo begitu rancak dan semangat menghibur warga. (Siti Rubaidah)