Kenang-Kenangan Dengan Bung Hatta Di Nederland 1923 – 1928

Kenang-Kenangan Dengan Bung Hatta Di Nederland 1923 – 1928

Oleh : Prof. MR. AG. Pringgodigdo

Sinar Harapan, 12 Agustus 1972 – 1923 dalam bulan September saya datang di Nederland untuk menjadi mahasiswa pada menjadi mahasiswa pada Rijksuniversiteit Leiden, bagian Vereenigde Faculteiten der Rechten en Letteren en Wijsbegeerte, yang antara lain mengasuh calon pegawai pemerintahan Nederlandsch Indie (Hindia Belanda) pada jurusan Indologie.

Seperti kebanyakan mahasiswa bangsa kita yang belajar di Nederland (Negeri Belanda) saya juga menjadi anggota dari Indonesische Vereeniging, yaitu perkumpulan yang menghimpun para pemuda, jadi tidak exclusief mahasiswa ingin mencapai ijazah guru, berasal dari “Indonesie”.

Pada awal itu bahasa yang dipakai antara pemuda kita belum bahasa Indonesia, tetapi bahasa Belanda atau bahasa kesukuan (Jawa, Sunda, Minangkabau dsb) bukan bahasa Melayu.

Dalam salah satu rapat yang diadakan oleh Indonesische Vereeniging itu (mungkin dalam bulan Oktober atau November) saya berkenalan dengan seorang mahasiswa dari Handels Hooge School di Rotterdam, bernama Mohammad Hatta. Ia sudah lebih dulu di Nederland (sejak tahun 1921). Ia ternyata 2 tahun lebih tua dar saya, berasal dari Minangkabau dan tamatan Prins Hendrik School (sekolah menengah dagang)  di Batavia (Jakarta). Lain daripada mahasiswa lainnya ia selalu kelihatan serius, tidak mudah tertawa, seingatan saya ia tidak pernah ketawa terbahak-bahak paling banter “mesem” saja !.

Meskipun ia seorang pendiam, tetapi ia sama sekali tidak angkuh.  Semua orang yang berkenalan dengan dia tentu mendapat kesan, bahwa ia itu seorang pemuda yang sympathiek.
1924 karena ia bertempat tinggal di Rotterdam dan saya pada waktu itu di Den Haag (sebagai “spoorstudent” ke Leiden), kemudian pindah ke Leiden, hanya pada rapat Indonesische Vereeniging saya bertemu dengan Bung Hatta.

1925 pada tahun 1925 Indonesische Vereeniging dirubah namanya menjadi Perhimpunan Indonesia. Dalam tahun itu saya pernah mengunjungi Bung Hatta. Di rumahnya (kamar) di Rotterdam.

Mungkin ada baiknya kalau saya terangkan di sini secara ringkas sejarah dari namanya perkumpulan para pemuda kita di Nederland itu.0100

Asal-usul Indonesia
Pada tanggal 20 Mei 1908 di Batavia (sekarang Jakarta) oleh para mahasiswa STOVIA (School tot opleiding van Inlansche artsen ; baru pada tahun 1913 istilah “Inlandsche” dirubah menjadi “Indische”) didirikan Boedi Oetomo (ejaan sekarang Budi Utomo) dibawah pimpinan calon dokter Soetomo sebagai ketua dengan kawan-kawannya, antara lain Soeradji sebagai penulis utama, Mohammad Saleh (ayah dari Dr. Rachman Saleh alias Dr. Karbol yang gugur di Yogya) sebagai penulis kedua, Soewarno Goenawan (mangoenkoesoemo) dan Soewardi Soeryanigrat (KI Hajar Dewantoro) yang tersebut terakhir ini pada umumnya tidak dikenal sebagai salah satu pendiri Budi Utomo, mungkin sekali karena beliau tidak pernah jadi dokter (1905 menjadi mahasiswa STOVIA, tetapi pada tahun 1910 keluar sebab beasiswa pemerintah dicabut berhubung Soewardi tidak naik kelas karena menderita sakit untuk beberapa bulan)pada waktu berdirinya Budi Utomo beliau diserahi menjadi propagandis !.

Setelah di negeri Belanda diketahui adanya perkumpulan Budi Utomo para pemuda kita ingin mendirikan suatu cabang, tetapi terbentur pada salah satu pasal dari aturan pokok Budi Utomo bahwa yang boleh menjadi anggotanya hanya orang yang berkebudayaan Jawa di dalam arti yang luas, yaitu dari pulau Jawa, Madura, Bali dan Lombok.

Karena pada waktu itu di Nederland praktis tidak ada pemuda dari Madura, Bali dan Lombok, tetapi disamping dari Jawa banyak dari Sumatera dan juga ada dari Maluku dan Minahasa, di negeri Belanda pada tahun 1908 juag (tanggal 22 Desember) diputuskan untuk mendirikan Indische Vereeniging, yaitu perkumpulan dari orang-orang berasal Indie (Nederland Indie), sebab pada waktu itu oleh pemuda kita belum dikenal istilah INDONESIA, meskipun istilah itu sudah diciptakan oleh seorang Inggris bernama James Richardson Logan pada tahun 1850, kemudian disebar luaskan pada 1882 oleh seorang Inggris juga yang bernama Sir William Edward Maxwell dan lebih orang oleh seorang Guru Besar Jerman yang bernama Prof. Adolf Bastian, yang pada 1884 – 1894 mengarang bukunya yang berjudul “Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels”.

Pada umumnya sampai sekarang orang banyak mengira bahwa Bastian-lah yang menciptakan istilah INDONESIA itu (lihat buku Prof. Mr C. Van Vollen hoven, De Ontdekking van bet Adatrecht (1928), hal 80 Logan, hal 120 Maxwell dan hal 176 Bastian).
Para mahasiswa kita pada umumnya mulai mengenal istilah INDONESIA setelah pda tahun 1922 Universiteit Leiden mengadakan Vereenigde Faculteiten der Rechten en Letteren en Wijsbegeerte, yang antara lain mengasuh jurudan Indologie.

Kalau pada umunya istilah Indologie itu diartikan ilmu pengetahun mengenaiIndie, pada Universiteit Leiden ditafsirkan sebagai ilmu pengetahuan tentang Indonesie, yaitu kepulauan India – Indische Archipel secara geografis, jadi meliputi juga pulau Kalimantan dan Timor seluruhnya.

Salah seorang Guru Besar pada jurusan Indologie itu adalah Prof. Mr. C. Van Vollenhoven (sebagai Dacaan Vereenigde Facultein itu ia pada tanggal 2 Februari 1925 menandatangani ijazah saya sebagai tanda lulus dalam Candidaat-examen Inadisch Recht).

0100