Gawat..! Bill Gates Akui Vaksinasi untuk Mengurangi Penduduk Dunia

Gawat..! Bill Gates Akui Vaksinasi untuk Mengurangi Penduduk Dunia

JAKARTA- Orang terkaya dunia, Bill Gates secara terbuka mengakui bahwa vaksinasi dirancang agar pemerintah dapat mengurangi jumlah penduduk dunia. Demikian dilaporkan oleh www.yournewswire.com Senin (7/8) dan dikutip SHNet, Selasa (8/8).Padahal saat ini di Indonesia sedang gencar-gencarnya kampanye wajib vaksinasi Campak dan Rubella sejak 1 Agustus 2017. Setiap anak sekolah diwajibkan untuk divaksinasi.

Dalam situs yang dikelola dari Los Angeles, Amerika Serikat ini, Sean Adl-Tabatabai, Editor-in-chief dari Your News Wire mengutip pernyataan Gates dalam sebuah wawancara di CNN yang mengatakan bahwa agar berhasil mengurangi populasi “dunia yang penuh sesak” setidaknya 350.000 harus dibunuh setiap hari. Bill Gates mengatakan hal ini dapat dilakukan melalui program vaksin. Kutipan wawancara dengan produser vaksin dunia ini bisa ditonton dalam http://dai.ly/x3leko2

Sebelumnya, www.yournewswire.com mengutip sebuah laporan yang mengkampanyekan tentang pentingnya vaksinasi dalam www.Anonymousmags.com. Sayang situs ini sudah tidak bisa akses. Situs ini mengatakan vaksin adalah salah satu kemenangan kesehatan masyarakat terbesar dalam sejarah manusia. Umat manusia sangat dapat mengandalkan vaskinasi untuk memberantas penyakit dan mengurangi kejadian infeksi penyakit baru seperti polio, difteri, campak, rubela, rotavirus dan banyak penyakit lainnya.

Namun, terlepas dari keberhasilan kesehatan masyarakat ini, sentimen anti-vaksinasi yang tak masuk akal berdasarkan ketidaktahuan dan ketakutan terus berlanjut. Mereka lebih berbahaya. Vaksinasi telah meningkatkan standar hidup setiap orang.

Bill Gates menjelaskan pentingnya menyetujui strategi ‘pengurangan penduduk’, untuk ‘menyelamatkan planet’ dari karbon dioksida dari umat manusia.

Bukan hal baru yang beberapa orang tua tidak ingin anak mereka divaksinasi. Mereka menegaskan bahwa apapun alasannya, adalah tidaklah benar menyuntikkan anak mereka dengan vaksin yang sejatinya adalah virus yang dilemahkan.

Mereka menganggapnya vaksinasi tersebut membuat anak mereka menjadi sakit. Dokter mengatakan sebaliknya karena mereka percaya bahwa mendapatkan vaksinasi akan membuat sistem kekebalan tubuh seseorang ‘siaga terhadap virus sehingga ketika berhubungan dengan tubuh, tentara ‘sel darah putih’ akan tahu bagaimana mempertahankannya.

Selama bertahun-tahun, para dokter telah cukup berhasil meyakinkan banyak orang tentang premis ini. Tapi sekarang, sebuah studi baru-baru ini menyoroti masalah yang tidak terlalu baru dengan vaksin. Dan ini terutama karena bahan pelengkap dari ‘aluminium’ mungkin lebih berbahaya daripada berguna.

Bahan kimia yang umum digunakan dalam produksi vaksin, menurut CDC, dilakukan untuk meningkatkan efektivitas vaksin. Pelengkap seperti aluminium (salah satu yang paling umum digunakan) adalah komponen dari vaksin yang merangsang respons kekebalan terhadap antigen. Pelengkap ini pada dasarnya digunakan untuk membangkitkan respon imun yang diinginkan.

Aluminium telah ditambahkan ke vaksin selama kurang lebih 90 tahun, dan sejak saat itu, banyak kontroversi. Terutama dalam beberapa tahun terakhir, telah muncul perdebatan tentang keamanan dan efek yang ditimbulkan.

Kontroversi dan perdebatan ini muncul karena hasil dari sejumlah studi baru-baru ini yang menguraikan kekhawatiran yang jelas mengenai penggunaan aluminium pada vaksin. Selain itu juga kenyataannya selama beberapa tahun terakhir ini, miliaran dolar telah telah dihabiskan untuk keluarga dengan anak-anak yang terluka akibat vaksinasi.

Ada beberapa alasan mengapa lebih banyak orang tua memilih untuk tidak memvaksinasi anak mereka.

Hal itu masuk akal, mengingat fakta bahwa tingkat imunisasi yang direkomendasikan telah meningkat dua kali lipat dalam beberapa dekade terakhir. Di beberapa negara maju, pada saat anak berusia 4 sampai 6 tahun, mereka akan menerima total 126 senyawa antigenik, bersama dengan sejumlah besar bahan pembantu aluminium melalui vaksinasi rutin.

Di Indonesia, hanya 5 vaksin yang dibuat di dalam negeri dan dibawah tanggung jawab pemerintah Republik Indonesia yaitu vaksin polio (tetes), cacar, DPT (Difteri Pertusis dan Tetanus) dan campak. Rubella adalah jenis campak Jerman yang saat ini digabungkan dengan campak Indonesia pada anak-anak Indonesia. Satu-satunya lembaga yang masih mengkritisi dan menolak vaksinasi Rubella adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI), dengan alasan bertentangan dengan ajaran agama. (WW)