Berbagai Senjata Dalam Perang Kemerdekaan Kita

Berbagai Senjata Dalam Perang Kemerdekaan Kita

Oleh : DS. Hendarin

Sinar Harapan, 16 Agustus 1973 – Bambu runcing merupakan simbol perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah. Melambangkan semangat patriotik, bahwa hanya dengan tombak daruratpun kita berani menghadapi alat-alat perang musuh yang lengkap dan modern.

Sekarang kedengarannya melodramatis dan dilebih-lebihkan. Tetapi pada minggu pertama sesudah Agustus 1945, bambu runcing ada kalanya benar-benar mengambil peranan aktif dalam pertempuran awal yang terjadi di kota besar.

Walaupun seringkali cuma dibawa kesan-kemari. Begitu pula tombak pusaka, pedang, samurai, kelewang, golok, keris, botol berisi bensin dan karet mentah, batu dan entah apalagi. Dengan sendirinya perlengkapan perang modern musuh tak akan bisa ditandingi hanya dengan semangat berkobar-kobar dan senjata primitif saja.

Tanpa bermaksud mengecilkan arti dan perang bambu runcing, pada akhirnya senjata api jugalah, dengan dikendalikan keyakinan dan tekad yang berhasil memberikan pukulan menentukan kepada pihak lawan.

Senjata api modal perjuangan berasal dari berbagai sumber. Terbanyak dari kesatuan tentara PETA yang membubarkan diri. Dari situ pulalah kita memperoleh tenaga pimpinan yang berpengetahuan militer.

Pelucutan pasukan Jepang dan pembongkaran gudang mereka, dengan atau tanpa didahului pertempuran, merupakan sumber utama yang kedua. Ini ditambah dengan senjata polisi, Heiho, petugas kepenjaraan serta badan-badan lain yang diperlengkapi pemerintah penjajahan Jepang.

Dan secara misterius lalu bermunculanlah senjata-senjata api pribadi yang selama ini rupanya dipendam dengan resiko hukum mati kalau ketahuan : revolver kuno, pistol unik, bedil laras dua, senapan buru repetir……….jenis yang tak bisa lama bertahan karena persedian amunisi sangat terbatas.

Kemudian mulai kelihatan senjata rampasan dari tentara Gurkha/Inggris dan belakangan Belanda. Dan setelah perlawanan rakyat berlangsung beberapa lama, bengkel dalam negeri mulai menampilkan hasil karya mereka : senjata api darurat dari onderdil gerbong kereta api, mobil dsb.

Kebanyakan berupa imitasi Sten gun karena konstruksinya relatif sederhana. Kwuantitas maupun kwalitas dengan sendirinya tak seberapa tinggi.

Membahas semua jenis terletak di luar kemampuan penulis. Apalagi dalam ruang suratkabar yang terbatas. Kita hanya bisa sekedar melayangkan pandangan kembali pada beberapa macam dan tipe yang seingat penulis sering dijumpai di jaman itu dan sekarang kebanyakan tak pernah kelihatan lagi kecuali di museum perjuangan.0108

Senapan merupakan senjata di hampir saban peperangan di darat sejak abad XVIII hingga sekarang. Perang Kemerdekaan tidak terkecuali. Berbagai model yang dikerahkan dipihak republik maupun tentara pendudukan, hampir semua warisan Perang Dunia II yakni senapan magasen bermekanisme gerendel.

Sama dengan senjata utama infantri dalam pertempuran parit 1914 – 1918. pengecualian tampak pada Mariniers Brigade Belanda yang beroperasi di Jawa Timur dan kemudian Sumatera Selatan. Kesatuan khusus ini diperlengkapi seperti GI. Joe dan bersenjata senapan semi otomatis Garand.

Sebagimana anda ketahui, senapan gerendel militer biasanya berisi 5 patrum. Setiap kali hendak ditembakkan, mekanisme mesti digerakkan dengan tangan guna “mengokang”, mengkamarkan patrum dan membuang selongsong.

Paling sering dijumpai dalam arsenal Republik ialah Karaben Belanda M-95. Di negeri kita lebih dikenal sebagai Hemburg atau Steyr sesuai nama pabrik pembuat yang tercantum. Diangkat menjadi salah satu senjata baku angkatan perang Nederland pada tahun 1895, Corps Marechaussee menggunakannya dalam babak akhir….

Perang Aceh !, maka ketika bala tentara Dai Nippon mendaratpun bedil ini sebetulnya sudah matang buat dimuseumkan. Konstruksi magasen menurut sistem Mannlicher harus dijejalkan sekaligus berikut perangkai, tanpa mana magasen tak bisa diisi.

Patrumnya yang bersembir kaliber 6,5 Mm Belanda juga masih berdasarkan pola akhir abad XIX. Karaben yang bisa diterapi bayonet tadinya bekas inventaris KNIL. Kemudian menjadi senapan standar tentara PETA.

Yang tanpa sangkur semula diperuntukan marsose dan polisi (mereka membawa kelewang). Lalu ada M-95 yang sering dikira bedil Jepang karena panjangnya sama, 1,5 meter. Detail lain hampir tiada beda dengan Karaben Hemburg.

Ini bekas persenjataan resmi Koninklijke Marine dan sebab itu suka disebut “Marine Geweer”. Koninklijk Leger juga memanggul senapan panjang ini. Jepang kemudian mewariskan kepada Heiho untuk meneruskan pemanggulannya.

Senapan negeri Sakura lebih modern dari M-95 meskipun bentuk luar tak kalah klasiknya. Mekanisme meniru sistem Mauser yang unggul dengan beberapa perubahan. Patrum bisa dimasukkan satu-satu ke dalam magasen atau di rerak lepas dari perangkai isi lima. Sayang, alas magasen berikut pegasnya gampang sekali copot. Aslinya, gerendel dilengkapi pelindung supaya tidak kemasukan kotoran.

Karena gemerencang seperti kaleng minyak tanah kalau tergoncang, ini biasanya lalu dibuang. Tombol pengaman yang kolosal diekor batang gerendel sangat canggung dan mesti ditekan dan diputar dengan…..telapak tangan jika hendak digunakan. Bagaimanapun, konstruksi gerendel serta metalurginya diakui banyak ahli senjata Barat sebagai salah satu yang terkuat di dunia.

Adapula model utama bedil Japan dengan lahiriah hampir serupa. Tipe 38 atau Model 1905 kaliber 6,5 Mm Jepang (tidak sama dengan 6,5 Belanda) terkadang disebut Arisaka. Tipe 99 keluaran 1939 dibuat dalam kaliber 7,7 Jepang.

Mutu biasanya lebih baik dari saudara kandungnya yang lebih tua. Bedil Jepang sering disinonimkan dengan senapan panjang. Sebenarnya bentuk Karaben pendek pun ada. Tadinya disenjatakan pada pasukan khusus, PHB dan kavaleri mereka.
Senapan Ediston tidak asing di medan gerilya.

Bentuknya modern. Konstruksi mekanisme memang maju. Penyempurnaan dari pola Mauser. Pada hal pengembangannya dilakukan di Inggris sebelum Perang Dunia I. Produksi diselenggarakan atas kontrak di AS. Jumlah terbesar, lebih dari sejuta pucuk, dihasilkan Edistone Rifle Palnt. Pabrik Winchester dan Remington juga turut membuat. Tangkai gerendelnya bengkak-bengkok oleh penempatan rumah pisir yang besar di atas anjungan bagian ekor senjata. Magasen muat 5 tanpa perlu mengikuti sertakan perangkai. Kaliber 7,7 Mm Inggris atau 30-06. yang pertama lebih umum di Inggris disebut Rifle No. 3 Mk I atau Pattern 14. di Amerika, US Enfiled M-1917 senjata ini dibawa Sekutu ke tanah air kita. Oleh Jepang dioperkan pada Heiho.

Lee Enfield pernah menjadi senapan resmi TNI Angkatan Darat ditahun 50-an. Serah terima dari tentara Belanda setelah Perang Kemerdekaan berakhir. Kini masih suka kelihatan disandang anggota Hansip.

Di jaman perjuangan, Gurkha/Inggris dan Belanda Menggunakannya sebagai senjata baku. Diantara yang jatuh ketangan kita ada yang made in India. Ini ditandai dengan cap GRI, gambar mahkota, kata Ishapore, tahun pembuatan dan kode model logam dibawah tangkai gerendel yang mebatasi popor dengan bagian kayu lain.

Tak salah kalau ada yang menamakan “Senapan GRI”. Sebutan lebih umum dan tepat tentu saja “LE”. Tidak semua LE dalm periode itu hasil rampasan dari tentara pendudukan. Ada juga peninggalan Sekutu. Model yang terbanyak di negeri kita, di tangan asal terdaftar sebagai Rifle No. 1, Short Magazine, Lee Enfield Mk III dan Rifle No. 4 Mk I.

Yang belakangan beda dalam hal penempatan pisir, detail mekanisme, bentuk ujung senjata serta macam bayonet. Kaliber 7,7 Mm Inggris Magasen muat 10 tarum daru dua perangkai.

Sistem gerendel berdasarkan karya James Parish Lee dari AS. Penguliran laras menurut metode Enfield, Inggris. Maka Lee ditambahkan Enfiled….jelas ‘kan ? Mekanisme mudah sekali digerakkan, sebab itu LE termasuk senapan gerendel paling cepat untuk menembak bertubi-tubi.

Jenis amunisi, apa hendak dikata, sama kolot seperti Rifle No. 1 Mk III, Gurkha memakai senapan lain bermulut terompet. Entah mengapa orang disini mengenalinya dengan sebutan “Kirof” yang berbau Kremlin. Pada dasarnya tipe ini tak lain daripada LE yang diperpendek dan diperingan guna operasi dalam Rifle No. 5 Mk I, dengan julukan “Jungle Carbine” (di Indonesia “Jungle Rifle” ialah US Carbine 0.30 M-1 dan M2). Terompet di ujung laras gunanya buat meredam api tembakan. Pemendekan laras mengakibatkan “muzzle flash” hebat “Kirof” tidak banyak pemujanya karena “menendang seperti kuda”. Bantalan karet di alas popor ternyata tak banyak menolong.

Pistol Mitraliur atau pistol mesin ialah senjata otomatis jarak dekat yang menggunakan amunisi pistol dan dimaksudkan untuk ditembakkan dengan dua tangan. Magasen muat banyak. Cara kerjanya memakai apa yang disebut sistem tolak-balik.

Dengan lain perkataan, tenaga yang mendorong kebelakang bersamaan dengan daya yang melemparkan peluru keluar laras, dimanfaatkan buat menggerakkan mekanisme. Apa yang pada senjata gerendel mesti setiap kali dikerjakan dengan tangan.

Model terdahulu mirip senapan dan sangat baik mutu buatannya. Perang dunia II merubah konsep ini. Sekarang pistol mesin ini disederhanakan supaya murah dan gampang diproduksi secara besar-besaran.

Dibuat dari baja tempa seperti body mobil, alat bidik dan popor ala kadarnya. Jenis senjata ini diperkenalkan Italia dan Jerman dekat akhir Perang Dunia I. Dalam peperangan besar beriutnya popularitas menanjak luar biasa.

Koninklijk Leger dan KNIL tempo dulu memiliki satu model pistol mesin Schmeisser PM singkatan dari pistol Mitrailleur. Melalui tentara PETA senjata ini mejadi modal perjuangan kita yang dihargai.

Memang berat dan tidak praktis, sebaliknya mudah dikendalikan pada tembakan otomatis. Cepat tembaknya pun ideal buat pistol mesin 400/menit. Gagang dan popor konvensional dari kayu. Pisir bisa disetel buat jarak optimistis 1.000 meter. Sementara capai tembak efektif amunisi pistolnya kaliber 9 Mm. Pada sebelumnya cuma sekitar 200 meter. Kwalitas berlebihan bagus. Magasen menjorok kekiri seperti lengan kaku dan memuat 30 patrum. Laras diselubungi tabung pelindung tangan.

Ini berlubang banyak buat ventilasi. Maka penduduk di pedalaman tak berani dekat-dekat karena mengira peluru akan menyembur ke semua arah dari setiap lubang !. Perencanaannya Hugo Schmeisser dari Jerman. Hasil karyanya muncul pada tahun 1918 model yang dipungut Belanda keluaran belakangan yang telah disempurnakan. Nama resmi di negeri asal Schmeisser MP-28 II. Pembuatan dilakukan di pabrik Pieper, Belgia, karena Jerman yang baru kaah perang dilarang memproduksi sesuai Perjanjian Versailles 1919.

Kalau anda gemar nonton film seri “The Untouchables”, anda sering melihat sejenis senjata otomatis yang banyak dipakai gangster Amerika dalam periode pelarangan minuman keras. Namanya Thompson sub-machinegun menurut terminologi Yankee.

Agak membingungkan barangkali, tetapi sub-machinegun sinonim dengan machine pistol alias pistol mesin atau pistol Mitraliur. Thompson populer pula di kalangan para pejuang kita karena ampuh, mantab dan berwibawa. Juga sebab senjata otomatis macam apapun selalu welcome pada waktu itu. Tentara pendudukan tak pernah menggunakannya secara resmi. Maka yang ada selalu Ex-perlengkapan Sekutu keluaran tahun 1921 bergagang pistol di muka dan tengah.

Model 1928 A-1 bergagang depan seperti bedil biasa, Magasen dua macam. Kotak panjang untuk 20 dan teromol (seperti kaleng penyimpan gulungan film bioskop) berisi 50 patrum pistol kaliber 0,45. diterapkan dibawah rumah mekanisme, tepat di depan pelindung memetik. Konstruksinya serumit tek-teki silang dan amunisi sukar diperoleh di jaman itu. Pistol mesin ini dikembangkan oleh Jenderal John T Thompson dari AS.
Pistol mitraliur yang terkenal mulai dari Casablanca sampai Rogojampi ialah Stengun.

Nama diperoleh dari huruf pertama Shepperd, Turpin dan Enfiled, yakni kedua orang pencipta dan pabrik di Inggris yang mula-mula mengeluarkan. Konstruksi sangat sederhana, buatan amat kasar, popor dan pisir serba primitif.

Keseluruhan membentuk semacam alat penembak yang lebih menyerupai dongkrak mobil daripada senjata otomatis. Orang Amerika memberi predikat ejekan “Sten Gun” – senjata busuk.

Ternyata barang rombeng ini bisa juga memberondongkan peluru dan meperbanyak kuburan musuh. Meskipun tidak jarang pula mogok. Biang kerok adalah magasennya yang bermulut ciut. Sten gun ditangan prajurit kita semua rampasan dari serdadu Gurkha/Inggris atau Belanda. Bekas Gurkha merupakan tipe mutakhir bermutu lebih tinggi, Sten Mk V ini dilengkapi gagang pistol dan popor dari kayu, pejera dengan daun pelindung serta bayonet “paku” senapan LE No. 4 Mk I. Model yang digunakan Belanda kebanyakan Sten Mk II dengan popor besi berbentuk T atau rangka. Kaliber semua model 9 Mm Parabellum Magasen merentang ke kiri dan berisi 30 patrum. Cepat tembak otomatis kira-kira 550/menit.