Bandung Business Forum untuk Tingkatkan Minat “Go Public”

Bandung Business Forum untuk Tingkatkan Minat “Go Public”

Ilustrasi dari pixabay.com [SHNet/Ist]

SHNet, Jakarta – Kebutuhan dunia usaha terhadap permodalan cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal tersebut seiring dengan makin meningkatnya aktivitas produksi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Pinjaman dari perbankan memang masih menjadi pilihan utama sebagian besar perusahaan, namun tingkat suku bunga dasar yang fluktuatif membuat perusahaan membutuhkan opsi pendanaan lainnya.

Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Yulianto Aji Sadono menyampaikan hal ini melalui keterangannya kepada media, Jumat (25/8), terkait acara Bandung Business Forum, Kamis (24/8).

Ia menyatakan, pasar modal sendiri sudah cukup lama dikenal sebagai wahana untuk memperoleh pendanaan bagi perusahaan. Sayangnya sampai dengan saat ini, perusahaan yang memanfaatkan pasar modal sebagai sarana pendanaan masih tersentral di Jakarta dan sekitarnya.

Data BEI per 16 Agustus 2017 menunjukkan, dari total 555 perusahaan yang telah mencatatkan sahamnya di pasar modal, 449 emiten berkantor pusat di Jakarta, 32 emiten berkantor pusat di Jawa Timur, 30 emiten berkantor pusat di Jawa Barat, 28 emiten berkantor pusat di Banten dan sisanya tersebar di Indonesia. Emiten asal Jakarta menguasai 82,99% kapitalisasi pasar di BEI, yang disusul oleh 4,20%, 1,80% dan 9,32% untuk masing-masing kapitalisasi pasar emiten di Jawa Timur, Jawa Barat dan Banten.

Area Jawa Barat
Atas dasar hal tersebut, BEI, bersama Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyelenggarakan Bandung Business Forum. Menurut Yulianto, Bandung Business Forum diikuti oleh Perusahaan-perusahaan yang berpotensi untuk go public di area Jawa Barat. Acara yang berlangsung pada Kamis (24/8) di Trans Grand Ballroom, The Trans Hotel, Bandung ini bertema “Strategi Menuju Optimalisasi Pertumbuhan Perusahaan Melalui Pasar Modal Indonesia”.

Direktur Pengembangan BEI Nicky Hogan mengatakan penyelenggaraan Bandung Business Forum bertujuan untuk memberikan kesadaran dan konsultasi teknis mengenai proses Go Public. “Selain itu, melalui acara ini diharapkan meningkatkan jumlah perusahaan tercatat di BEI, khususnya kepada Perusahaan-perusahaan baik perusahaan swasta, BUMN, ataupun BUMD yang belum go public,” ujar Nicky saat membuka Bandung Business Forum.

Acara Bandung Business Forum juga dihadiri dan dibuka dengan sambutan dari Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal 1 OJK, Sarjito. Hadir beragam perusahaan tercatat dari berbagai sektor yang siap berbagi pengalaman suksesnya dalam Go Public. Selain itu terdapat 10 Penjamin Emisi dan 2 Konsultan Hukum serta Pefindo sebagai perusahaan pemeringkat efek yang akan diundang di dalam acara Bandung Business Forum untuk menjadi narasumber konsultasi initial public offering (IPO).

“Road to Go Public”
Pada acara bincang-bincang sesi pertama hadir Kepala Divisi Privatisasi Startup-SME dan Foreign Listing PT Bursa Efek Indonesia, Saptono Adi Junarso, Partner Konsultan Hukum Makes & Partner, Iwan Setiawan, Head of Investment Banking PT BNI Sekuritas, Tulus Nababan, Direktur Utama PT Sri Rejeki Isman Tbk, Iwan Setiawan Lukminto, dengan tema Road to Go Public yang dimoderatori oleh Ketua Komite Tetap KADIN, Aviyasa Dwipayana.

Acara talkshow sesi kedua menghadirkan Executive Director Creador Indonesia, Stefanus Ade Hadiwidjaja, Executive Director PT Ernst & Young Indonesia, Edgar Ekaputra, Chief Financial Officer Trisula Corporation (PT Trisula International Tbk. dan PT Chitose International Tbk.), Santoso Widjojo, dengan tema Percepatan Pertumbuhan Perusahaan yang dimoderatori oleh Associate Director PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, Lenie Febriana.

Kedua sesi tersebut dilanjutkan dengan pemaparan Economic Outlook oleh Chief Economist PT Danareksa (Persero), Kahlil Rowter yang dimoderatori oleh Peneliti Senior Bidang Ekonomi PT Bursa Efek Indonesia, Poltak Hotradero.

“Sepanjang acara Bandung Business Forum, peserta juga berkesempatan untuk melakukan konsultasi tentang IPO secara langsung bersama Penjamin Emisi, Konsultan Hukum, BEI dan Pefindo,” demikian keterangan Yulianto.

Ia mengharapkan, makin meningkatnya minat perusahaan di dalam negeri untuk menjadi perusahaan tercatat akan lebih menyemarakkan perdagangan saham di Pasar Modal Indonesia.

“Sehingga Pasar Modal Indonesia dapat semakin menjadi cerminan maupun tolak ukur bagi kemajuan perekonomian Indonesia,” pungkasnya. (whm/PR)