Bahasa Masih Jadi Kendala bagi Wisman Tiongkok

Bahasa Masih Jadi Kendala bagi Wisman Tiongkok

2
0
SHARE
Para peserta Fam Trip dari Tiongkok foto bersama dengan pemerintah Kabupaten Belitung, ASITA Babel dan steakholder pariwisata Kabupaten Belitung di Rumah Adat Belitong, Rabu (9/8) malam. (Dok. Kementerian Pariwisata)

SHNet, Belitung- Kunjungan wisatawan dari Tiongkok ke Belitung dari tahun ke tahun terus bertambah jumlahnya. Sayangnya, mereka terkendala oleh bahasa.

Banyak dari mereka yang tidak bisa berbahasa Inggris saat berkomunikasi dengan pemandu wisata, petugas hotel, pengemudi bus wisata ataupun pengemudi taksi dan lain-lain. Termasuk tour operator dari Tiongkok yang sedang Fam Trip ke Belitung.

“Dari 7 orang, hanya dua yang bisa Bahasa Inggris. Itu pun kadang-kadang bercampur dengan Bahasa Mandarin,” ujar Rusmin, EO yang mendampingi tour operator dari Tiongkok selama di Belitung kepada SHNet, Kamis (10/8).

Hal yang sama juga diakui oleh Willys Widiyanto, pemandu wisata di Belitung. Willys yang fasih Bahasa Mandari ini memang diberi tugas mendampingi peserta Fam Trip dari Tiongkok ini.

Menurutnya, wisman asal Tiongkok memang mulai banyak yang berkunjung ke negeri “Laskar Pelangi”. Sayangnya, mereka tidak menggunakan paket wisata, tetapi datang sendiri.

“Akibatnya sering kesulitan berkomunikasi dengan masyarakat lokal seperti pengemudi taksi, pengelola penginapan, dan sebagainya. Tak jarang, komunikasi dilakukan dengan bahasa tubuh,” ujarnya.

Willys mengatakan, para pelancong dari negeri tirai bambu ini umumnya memperoleh informasi tentang destinasi wisata Belitung dari teman-teman mereka yang punya bisnis di Jakarta dan pernah berlibur ke daerah ini.

“Teman-teman mereka itu juga sedikit yang bisa berbahasa Inggris,” kata Willys. Di Belitung sendiri, pemandu wisata yang bisa berbahasa Mandarin jumlahnya tidak banyak.

Mengatasi kesulitan bahasa, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung Hermanto menjelaskan, pihaknya tengah berkoordinasi dengan Kementerian Tenaga Kerja untuk membangun Balai Latihan Kerja (BLK) untuk melatih SDM di Belitung agar bisa berbahasa Inggris dan Mandarin.

“Secara mandiri, beberapa travel di sini telah mendidik dan mengirimkan anak-anak muda kita ke Tiongkok untuk belajar Bahasa Mandarin dan kehidupan sehari-hari masyarakat di sana. Kami juga telah mengiri 2 pegawai kami ke Hanan, Tiongkok selama 21 hari untuk belajar Bahasa Mandarin dan mengenal kebiasaan masyarakat di sana,” papar Hermanto.

Selain itu, sebagian dana desa dialokasikan untuk membangun tempat-tempat kursus Bahasa Mandarin dan Inggris di desa-desa. Tujuannya, agar masyarakat desa siap menyambut dan melayani dengan baik wisman yang berkunjung ke desanya. (Stevani Elisabeth)