Bagaimana Strategi Mengubah Pola Pikir Orang Desa?

Bagaimana Strategi Mengubah Pola Pikir Orang Desa?

4
0
SHARE
Menyediakan Bacaan untuk Petani / odesa indonesia

Oleh: FAIZ MANSHUR
Ketua Yayasan ODESA Indonesia Bandung

SHNet – Benang kusut bisa diurai jika ketemu sumber kekusutannya. Catatan pendampingan Pendidikan Odesa Indonesia di masyarakat perdesaan tertinggal Cimenyan Kab.Bandung.

Pertanyaan ini akan selalu muncul, terutama dalam konteks konkret para fasilitator pembelajaran. Saya dan teman-teman Odesa Indonesia yang sejak setahun bekerja di Cimenyan Kab.Bandung juga selalu ditantang untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Kami semua berpikir bahwa hak pendidikan adalah mutlak didapatkan oleh siapa saja. Di kampung-kampung Kecamatan Cimenyan bukan lagi soal bagaimana orang desa dari keluarga petani (kebanyakan buruh tani) mendapatkan hak untuk sekolah, melainkan lebih dari itu, kita selalu berusaha mencari formula yang tepat bagi mereka; mereka adalah kumpulan dari individu/subjek yang memiliki keberagaman pola pikir, keunikan personal dan seterusnya. Tidak serta merta hanya karena mereka orang desa dan rendah tingkat pendidikannya lantas kita generalisasi dengan satu metode.

Beruntung saya dan teman-teman di Odesa Indonesia, seperti Budhiana Kartawijaya, Basuki Suhardiman, Didik Harjogi, Enton Supriyatna, Khoiril Anwar, Herry Dim, Ine Arini dan lain-lain cukup peduli dengan “pentingnya pendidikan” sehingga terus mencoba hal-hal yang baru tentang bagaimana seharusnya memasukkan ilmu pengetahuan ke dalam pikiran dan batin warga masyarakat.

Basis pengetahuan kami tentang pendidikan karakter pun ternyata tidak akan banyak menolong. Sebab pada akhirnya implementasi pendidikan karakter senantiasa harus diletakkan pada aspeks konkret keseharian dalam mendampingi warga, terutama anak-anak.

Catatan masalah-masalah problem manusia desa di Cimenyan selalu kita perhatikan, kita diskusikan dan kita carikan celah yang mungkin untuk perubahan pola pikir hingga pada ruang transformasi sosial. Ada tiga ruang lingkup mendasar yang harus mendapatkan perhatian karena ketiganya merupakan benang kusut yang campur aduk; menjadi akibat dan penyebab, yaitu keterbelakangan pendidikan, keterbelakangan ekonomi dan keterbelakangan kesehatan.

Tiga problem ini serupa dengan dua pertanyaan mendasar para Voollunteer yang aktif mengurusi masalah-masalah kemiskinan di Afrika dengan selalu berusaha memecahkan pertanyaan: “apakah mereka miskin karena bodoh atau mereka bodoh lalu miskin?”

Dua hal yang sama-sama tidak akan terjawab oleh kata-kata dan jawabannya hanya akan bisa diproses melalui aksi-aksi konkret pendampingan berkelanjutan.

Keberhasilan pendidikan dalam dimensi kemanusiaan memiliki dimensi yang luas. Tidak bisa sekadar dinilai dari angka rapor, apalagi jika pesertanya adalah orang dewasa, bahkan orang-orang tua. Takaran keberhasilannya pun jauh berbeda dari gebyar visual yang tampak seperti perubahan dari rumah gubuk menjadi rumah gedongan.

Dimensi manusia terkait dengan pendidikan (lebih tepatnya karakter tidak bisa dilihat seperti itu). Dari setiap kegiatan yang kami lakukan, para relawan Odesa Indonesia senantiasa melaporkan pengalaman-pengalaman yang baik; perubahan pola pikir warga yang kita damping dengan pendekatan pertemanan untuk urusan sosial dan ekonomi selalu menghasilkan perbaikan dari waktu ke waktu. Itu artinya “tidak ada kebodohan yang doktriner, sebagaimana tidak ada kecerdasan yang stabil.”
Berbicara soal pendidikan yang baik, prinsipnya memang bukan bagaimana secepat mencerdaskan orang, apalagi dari kacamata rapor.

Pendidikan adalah alat untuk kemanusiaan. Memanusiakan manusia jelas bukan sekadar urusan mengisi ruang kosong dengan bantuan training atau kursus kilat. Sama halnya menyelesaikan kemiskinan tak bisa selesai dengan menurunkan bantuan beras, sandang atau mengubah gubuknya yang kumuhnya menjadi rumah gedongan. Hal-hal yang kosong memang harus diisi. Ibarat botol kosong memang harus diisi.

Tetapi memperlakukan manusia seperti botol kosong lalu kita masukkan air itu bukan penyelesaian. Sebab air bisa hilang entah karena penguapan atau diambil lagi. Maka yang terpenting adalah bagaimana botol (individu) tersebut tak pernah kosong dari air sekalipun setiap waktu diambil airnya dengan kemahiran “botol”/manusia mengisi sendiri pada kemudian hari saat terjadi kekosongan.

Dengan kata lain, akan lebih baik jika ada kesadaran individu tentang pentingnya ilmu pengetahuan sebagai kebutuhan sehingga belajar dengan berbagai cara dan di mana saja merupakan sebuah kebutuhan. Tujuannya pun harus konkret, yakni sampai tahap individu (dengan ilmu-ilmu dan pengalamannya hidupnya) bisa “menyelesaikan problem yang mereka hadapi”. Bukankah pada akhirnya modal hidup yang utama adalah kemampuan menghadapi persoalan dan menyelesaikannya secara mandiri?

Setiap urusan pendidikan saya merasa beruntung pernah menjadi “murid” dua orang kenamaan dalam bidang pendidikan luar sekolah, yaitu Pak Mansour Fakih dan Pak Utomo Dananjaya. Buku-bukunya masih rapi tersimpan dalam ruang perpustakaan pribadi saya, demikian juga saya tidak kehilangan ingatan bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain dalam hal “processing” pengubahan pola pikir.

Salahsatu pedoman yang sangat ingat dari Pak Utomo Dananjaya dalam hal ini adalah soal prinsip memperlakukan mereka (sebagai manusia). Tiga tahun sebelum Pak Utomo Dananjaya wafat kami berdiskusi panjang lebar (Saat itu kebetulan saya bekerja mengedit bukunya, Media Pembelajaran Aktif). Dan hal yang menarik untuk dijadikan prinsip pendidikan adalah tentang urusan individu, ruang dan arah hidup seseorang. Tiga hal ini harus diperhatikan. Mas Tom, demikian panggilan akrab Pak Utomo Dananjaya bilang, “kita harus berpikir setiap individu dari mereka yang hidup di masa tertentu dan memiliki arah tujuan hidup tertentu harus menempati dan mendapatkan kesempatan yang sesuai untuk pengembangan kepribadian mereka secara utuh.”

Pak Utomo mengembangkan pemikiran itu. Saya tidak yakin itu hanya mengutip atau terinspirasi oleh pemikir pendidikan semata, melainkan karena renungan mendalam atas pengalaman panjang sejak menjadi guru di era 1950an sampai pada akhir hayatnya, usia 74 tahun. Itulah mengapa beliau selalu tekun dalam urusan ilmu dan selalu berbicara kontekstual pada setiap orang dengan cara yang berbeda.

Prinsip perhatian pada subjek sebagai hal yang utama karena pada kenyataan manusia akan bisa menjadi aktor yang baik atau terpuruk dalam kehidupannya sangat tergantung kualitas karakter/kepribadiannya.

Pendidikan pada orang desa di Cimenyan (yang tertinggal puluhan tahun dari kehidupan orang Kota Bandung) pada akhirnya bukan meletakkan mereka untuk sekadar meraih kecerdasan tertentu seperti mahir matematika, mahir bahasa inggris cas-cis cus, atau mahir mengutip ayat untuk kemudian menjadi beo. Lebih penting kita meletakkan problem pemikiran (pola pikir) sebagai hal yang paling mendasar. Apa yang dipikirkan? Apa yang diimajinasikan dalam hidup? Apa yang diinginkan dalam hidup? Apa yang baik dan buruk menurutnya?

Dari model interaksi yang rutin semua perkara tersebut pada akhirnya bukan hal yang sulit untuk diurai. Benang kusut memang menyebalkan. Tetapi pada kekusutan benang itu selalu ada ujung. Kekusutan bukanlah satu paket, melainkan hanya unsur dari fenomena ruwet yang terjadi. Cari saja sumber masalahnya di mana.

Saya ambil contoh saja. Misalnya Basuki Suhardiman dan teman-teman yang mendampingi petani Mang Toha dalam beberapa bulan berhasil mengubah pola pikir. Contoh konkret soal kebersihan. Sedikit demi sedikit Mang Toha semakin bersih.

Komunikasi semakin lancar dan baik. Tidak lagi mudah mencurigai orang kota yang sebelumnya (kebanyakan oleh orang desa) dianggap sebagai konsumen hasil tani atau hanya urusan tanah belaka. Mang Toha sekarang sudah mengenal sisi lain orang Kota yang beragam dan bahkan bisa memetakan perbedaan individu-individu. Ia mengenal perbedaan antara profesi wartawan, dosen, pengusaha dan lain sebagainya. Ia pun sadar kalau pengetahuannya tidak lagi mutlak dan harus senantiasa diperbaiki serta diperluas. Makanya, Mang Toha senang sekali setiap menonton video pertanian dari Youtube.

Ada juga kang Ujang Rusmana yang semakin hari jiwa sosialnya meningkat dan mampu menjadi komunikator yang baik terhadap warga. Ada pula Pak Ansor dari Cikadut yang tadinya malas bertani sekarang mampu membenahi pekarangannya semakin hijau dan ladangnya yang puluhan tahun tidak diurus kini mulai diurus sebagai lahan ekonomi.

Dan yang bagus ia pun bekerja pengabdian dengan menawarkan ide-ide baru pada pertanian lahan terbatas pada warga sekitarnya. Ia punya kegiatan yang positif dan produktif melalui kebersamaan menghadapi masyarakat. Itu hanya sedikit contoh yang kami sebut. Masih ada puluhan sosok-sosok lain yang mulai adaptif terhadap hal baru dalam berpikir soal ekonomi, pendidikan dan bagaimana merespon modernitas seperti penggunaan kendaraan atau ponsel.

Dan contoh lebih banyak adalah para siswa kursus bahasa Inggris di Sekebalingbing yang selama setahun mendapatkan pendampingan belajar. Sekali lagi, bukan urusan cas-cis cus bahasa Inggrisnya, melainkan lebih pada perbaikan imajinasi yang lebih kaya, adab (sopan santun) yang lebih baik, rasa percaya diri yang makin matang, dan komunikasi yang lebih interaktif dengan orang baru. Efek di luar dugaan, orang tua siswa yang kebanyakan adalah lulusan Sekolah Dasar pun ikut-ikutan berubah karena perilaku anaknya semakin baik di rumah. Kebersihan, disiplin waktu dan wawasan hidup yang dibawa anak dari hasil pembelajaran bisa memperbaiki keadaan rumah tangga.

Proses pendidikan berbasis pengalaman lapangan ini sering di luar dugaan. Semua juga berangkat dari asumsi tentang sulitnya mengubah keadaan, namun pada sisi lain praktik membuktikan sebaliknya. Mengubah pemikiran tidak sulit. Kebiasaan negatif juga bukan monster yang harus dimatikan. Monster juga bisa berubah karena mungkin menjadi monster juga tidak enak. (odesa.id)