Asean Literacy Festifal 2017: Lomba Menulis dan Liputan Keberagaman Gender dan Seksualitas

Asean Literacy Festifal 2017: Lomba Menulis dan Liputan Keberagaman Gender dan Seksualitas

Bissu Acce hingga sekarang setia menjaga bola ridie (rumah kuning) yang berisi banyak pusaka peninggalan kerajaan Soppeng © Hariandi Hafid /Beritagar.id

SHNet, Jakarta – Panitia mengumumkan 12 pemenang lomba menulis dan liputan “Keberagaman gender dan seksualitas” yang diselenggarakan oleh Asean Literacy Festifal 2017, Ardhanary Institute, Aliansi Jurnalis Independen (6/8/2017).

Tingginya antusiasme dan perhatian publik terhadap lomba menulis artikel dan liputan dengan tema Keberagaman Gender dan Seksualitas ini terlihat dari antusiasme masyarakat mengirimkan tulisannya yang dimuat di media umum maupun elektronik periode antara 1 Januari s/d 16 Juli 2017. Lomba terdiri dari  tiga kategori, yakni untuk Jurnalis, Mahasiswa dan Umum.

Okky Madasari, Direktur Asean Literacy Festifal menyampaikan bahwa terdapat 410 karya yang dikirim kepada tim juri dari seluruh Indonesia, untuk diikutsertakan dalam tiga kategori lomba menulis dan liputan “Keberagaman gender dan seksualitas” Asean Literacy Festival  2017, Ardhanary Institute, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.

“Yang menarik, kendati judulnya lomba menulis, ada setidaknya dua peserta yang mengirim bukan karya tulis, namun film pendek bertemakan keberagaman gender. Ada pula yang mengirim foto esai, kendati dilengkapi dengan tulisan yang cukup panjang,” terang Okky Madasari.

Yang juga menarik, di seluruh tiga kategori, yakni Umum, Wartawan, dan mahasiswa, terdapat dua topik dominan. Yakni topik tentang kaum Bissu, di kalangan adat masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan, dan Pesantren Al Fallah, sebuah pesantren yang didirikan oleh dan bagi kaum waria di Yogyakarta. Terdapat sekitar 20% yang menulis tentang Bissu dan 15% yang menulis tentang pesantren Al Fallah.

Ini juga bisa dipandang sebagai gejala bagus tentang tingginya perhatian, solidaritas dan kepedulian masyarakat tentang masyarakat bissu yang makin tersudutkan, dan pesantren yang terancam oleh meningkatnya konservatisme dan radikalisme.

Hal lain yang dicatat tim juri adalah sejumlah artikel yang menyoroti beberapa hal baru, yang tak banyak diketahui atau dibicarakan sebelumnya, seperti jenis-jenis kesenian yang kuat diwarnai keberagaman gender dan seksualitas, serta diskriminasi di kehidupan professional terkait identitas gender. Tinjauan yang ramah dari sudut agama juga muncul dalam beberapa karya.

“Inilah antara lain yang mendorong kami untuk memperbanyak jumlah pemenang, dari asalnya Sembilan, terdiri dari tiga untuk setiap kategori, menjadi 12, terdiri dari empat untuk setiap kategori,” lanjutnya.

Dewan juri lomba menulis keberagaman gender dan seksualitas ALF 2017, Ardhanary Institute, Aliansi Jurnalis Independen, yang terdiri dari Direktur ALF Okky Madasari, Sekjen AJI Indonesia Arfi Bambani, Direktur Ardhanary Institute Sri Agustine, dan Desk Editor BBC Indonesia Ging Ginanjar, memutuskan 12 pemenang dari 410 karya.

Pemenang pertama kategori Mahasiswa adalah Faisal Odang dari Universitas Hasanuddin berjudul Mematut diri pada cermin buram yang retak: Proto sejarah, Islamisasi hingga kini – sebuah linimasa untuk Bissu. Pemenang pertama kategori Wartawan adalah Eko Widiatno (malang) berjudul Sang Primadona. Sedangkan untuk kategori umum pemenang pertama adalah berjudul Lengger Lanang dan Kesaksian Otniel Tasman.

Selain itu, Dewan Juri juga memberi penghargaan khusus kepada Ananda Sukarlan, Dede Oetomo, dan Eric Sasono, untuk karya-karya yang mereka sertakan, yang memberikan perspektif dan wawasan tersendiri tentang tema lomba ini. (Siti Rubaidah)