Soekarno – Hatta Diculik, Dibawa Ke Rengasdengklok Karena Belum Mau Memproklamasikan Kemerdakaan

Soekarno – Hatta Diculik, Dibawa Ke Rengasdengklok Karena Belum Mau Memproklamasikan Kemerdakaan

Dirangkaikan oleh : J. Tuk Suprapto

Sinar Harapan, 10 Agustus 1970 – Proklamasikan Sekarang. Kembali dari rumah Bung Karno para pemuda tidak terus pulang ke rumah masing-masing, melainkan mengadakan rapat lagi di bagian belakang rumah di jalan Cikini No. 71, asrama mahasiswa, yang dimulai kurang lebih jam 24:00. Dengan muka serius, pemuda itu memikirkan langkah selanjutnya dan macam kemungkinan yang akan timbul. Mereka masing-masing menyadari bahwa waktu itu menghadapi satu saat yang sangat genting, saat akan menentukan sejarah kehidupan bangsa dan negara.

Chairul Saleh sebagai pimpinan rapat membuka pertemuan itu jam 12 tengah malam lebih sedikit dan pertemuan ini lebih lengkap atau banyak yang hadir daripada rapat Pegangsaan Timur. Semua mengikuti dengan cermat laporan dari para utusan yang telah menghadap Bung Karno dan Bung Hatta satu jam sebelumnya.

Semua menjadi heran mendengar sikap Bung Karno. Masing-masing mengemukakan pendapatnya, langkah apa yang harus diambil untuk melancarkan perjuangan ini. Diantaranya dikemukakan suatu pendapat bahwa kalau benar Bung Karno dan Bung Hatta tidak mau mengumumkan proklamasi saat sekarang juga, maka biarlah proklamasi itu diumumkan sendiri oleh rakyat dengan bimbingan pemuda dalam suatu rapat samudera, rapat raksasa. Pendapat lain mengusulkan supaya Bung Karno dan Bung Hatta diajak berunding sekali lagi, di tempat ditengah-tengah massa dimana rakyat sendiri nanti yang mendesaknya.
Sukarni dan J. Kunto tiba sebelum rapat mengambil suatu keputusan dan mereka ikut memberikan pandangan-pandangan.

Sukarni bilang, bahwa massa rakyat sudah siap-siap dipinggiran kota, tunggu komando menyerbu masuk kota.
Rapat ini tidak banyak debat, akhirnya dicapai kata sepakat bahwa kemerdekaan harus terus dinyatakan sendiri oleh rakyat, jangan menuggu kemerdekaan hadiah dari Jepang. Terhadap Bung Karni dan Bung Hatta diambilnya keputusan bahwa kedua tokoh ini harus disingkirkan keluar kota, di daerah dimana rakyat dan tentara (PETA) siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang timbul, jika proklamasi sudah diumumkan. Karena jika Bung Karno masih ada di dalam kota Jakarta, mungkin mereka dipergunakan lagi oleh Jepang untuk menindas atau menghalangi pernyatan kemerdekaan itu.

Rapat istirahat sebentar, Chairul Saleh, Sukarni, Singgih dari PETA, J. Kunto dan Muwardi berkumpul membicarakan bagaimana cara membawa Bung Karno dan Bung Hatta keluar kota dan mereka yang melaksanakan tugas itu. Singgih dari PETA sanggup membantu usaha tersebut.

Selesai “Ribut” dengan utusan pemuda, malam itu Bung Karno tidak dapat tidur, hatinya gelisah. Teringat ucapan pemuda yang yang terakhir, bahwa besok situasinya mungkin semakin bertambah buruk. Pengikut pemuda katanya sudah gelisah menunggu pengumuman proklamasi kemerdekaan. Kalau Bung Karno tidak bertindak seperti yang telah dijanjikan, mereka akan menjadi galak dan Bung Karno yang harus memikul akibatnya.
Bung Karno dalam hatinya mengumpat “Syahrir-lah orang yang menyalakan api kemarahan para pemuda itu. Dia tertawa mengejek dengan diam-diam dan tidak pernah dihadapanku”. Bung Karno teringat ejekan Syahrir : “Soekarno itu gila…….Soekarno Ke-Jepang-Jepangan………Soekarno pengecut !”.

“dia berbuat curang”, dalam hati Bung Karno mencaci. “Dan apa sesungguhnya yang telah dikerjakan oleh Syahrir untuk Indonesia ? Tidak ada selain mengkritikku…….dan sebagainya”, kata hati Bung Karno.

Sekalipun Syahrir tidak tampak dalam utusan pemuda yang menghadapinya semalam, tetapi berhubung Syahrir telah menghadapnya waktu malam sehari sebelumnya juga mendesak diumumkan proklamasi oleh Bung Karno dan jangan menunggu.
0091
Jepang kalah
“Kemerdekaan hadiah”, maka pemuda yang marah itu dicapnya sebagai telah dihasut Syahrir. Ya memang diantara pemuda dan mahasiswa tersebut terdapat kader-kader Syahrir.
Ditengah Bung Karno bergulat dengan pikirannya yang ruwet dan duduk di kamar makan seorang diri makan sahur (waktu itu bulan puasa) jam 3 pagi hari Kamis tanggal 16 Agustus 1945 datanglah Chairul Saleh mengetuk pintu dengan sikap yang garang. Dengan menyandang pistol dan pisaunya ditangan berkatalah kepada Bung Karno : “Berpakaianlah Bung. Sudah tiba saatnya !”.
sebenarnya Dr. Mawardi yang sudah tiba lebih dahulu di jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang jalan Proklamasi) tetapi ia tidak berani mengetuk pintu membangunkan Bung Karno, karena dianggapnya jam seperti itu masih nyenyaknya Bung Karno tidur. Setelah Chairul Saleh tiba bersama D. Asmoro, barulah bersama-sama mengetuk pintu, yang ternyata Bung Karno tidak tidur semalam itu.

Bung Karno menanyakan maksudnya datang ke rumahnya pagi-pagi subuh itu. Chairul Saleh selanjutnya menjelaskan bahwa keadaan sudah memuncak, kegentingan harus diatasi. Orang Belanda dan Jepang sudah bersiap-siap untuk menghadapi kegentingan ini, sebab mereka juga telah menanti suatu tindakan rakyat di dalam kota. Karena itu mungkin keamanan di dalam kota dan keamanan Bung Karno dan Bung Hatta tidak dapat lagi ditanggung oleh rakyat dan pemuda.

“Oleh karenanya diminta supaya Bung Karno pada jam ini juga 04:15 meninggalkan kota”, demikian tipu daya Chairul Saleh.
Dengan perasaan terpaksa Bung Karno menyetujui ajakan menyingkir keluar kota untuk menghindari kekacauan dan kericuhan yang mungkin timbul seperti diceritakan Chairul Saleh.
Kemudian tibalah Sukarni, J. Kunto bersama Bung Hatta. Tetapi Bung Karno diantar kembali ke rumahnya mengambil jas yang tadinya lupa dibawa. Bung Hatta demikian juga waktu Sukarni dan J. Kunto datang ke rumahnya, sedang makan sahur dan dengan alasan yang sama dengan yang dikemukakan Bung Karno, maka Bung Hatta mengikutinya pergi keluar kota.

Kurang lebih jam 04:30 menjelang matahari terbit tanggal 16 Agustus 1945 Bung Karno, Ibu Fatmawati dan Guntur yang masih bayi sembilan bulan berangkat dalam satu mobil, sedang Bung Hatta, Sukarni dan J. Kunto pada mobil yang lain dikawal kendaraan pick-up militer (PETA).

Chairul Saleh tidak mengikuti keluar kota, melainkan kembali ke jalan Cikini 71 tempat rapat tadi, karena teman-temannya menunggu kabar dalam menghadapi saat-saat sulit itu. Chairul Saleh menerangkan kepada kawan-kawan pemuda bahwa Bung Karno sudah dibawa pergi keluar kota dengan dikawal oleh kendaraan militer PETA.

Rapat kemudian bubar dan pemuda kembali ketempat “markas gelapnya” masing-masing, menunggu perkembangan selanjutnya dan komando gerak dari pimpinannya.
Di pagi hari yang sepi itu mobil yang membawa Bung Karno dan Bung Hatta berjalan meluncur keluar kota tanpa mendapat gangguan. Dalam perjalanan tidak ada yang memperhatikan dan tidak menimbulkan kecurigaan bagi penjaga sewaktu melewati pos penjagaan tentara Jepang. Bung Karno bertanya : “Daerah mana yang dituju ini ?”.

Sukarni tidak mau menerangkan daerah mana yang akan dituju itu. Bung Karno menjadi gelisah, timbul curiga dan was-was, takut kalau ucapan yang diucapkan selama itu menimbulkan kemarahan para pemuda, sehingga mereka bermaksud jahat. Sukarni menerangkan bahwa Bung Karno tidak usah ragu-ragu, gelisah, sebab kita akan menuju suatu tempat yang aman, tempat yang akan menjadi bagian pertama dari daerah pertahanan Republik nanti.

Bung Karno mendesak terus. Lebih baik kembali ke Jakarta saja dan di kota dapat dirembugkan dengan pihak Jepang.
Sukarni tidak dapat merubah rencana. Dalam keadaan demikian itu, terdengarlah letusan tembakan senjata api disepanjang jalan yang dilewati, begitu akan masuk daerah Cakung (daerah Bekasi setelah lewat keluar perbatasan Jakarta) mobil berhenti dan memindahkan Bung Karno dan Bung Hatta ke dalam pick-up militer PETA yang mengikuti dari belakang. Bung Karno diberi pakaian PETA dan diminta supaya menukar pakaiannya,  karena tempat yang dituju mungkin telah diketahui Jepang.

Mungkin mereka (lawan) mencoba mengepung daerah itu, kata Sukarni. Dengan perasaan bertambaha bingung, Bung Karno dan Bung Hatta pindah ke mobil tentara PETA bersama-sama Sukarni, sedang Ibu Fatmawati dan Guntur tetap di mobil menyusul di belakang.

Setelah sampai di Cakung, rombongan dihentikan oleh penjaga pos perbatasan. Dilakukan pemeriksaan seperlunya. Setelah selesai dan dianggap tidak mencurigakan, barulah Sukarni, J. Kunto, Bung Karno, Bung Hatta, Ibu Fatmawati dan bayinya bersama-sama satu mobil pick-up tentara PETA dibolehkan melanjutkan perjalanan.

Mobil yang dibawa dari Jakarta bersama D. Asmoro terpaksa disuruh kembali di tengah jalan. Rombongan selanjutnya dikawal oleh anggota PETA penjaga perbatasan, sampai ke tempat yang dituju, tangsi pasukan sukarela PETA di Rengasdengklok, Karawang.

Utusan pemuda melalui anggota PETA Singgih dan Dr. Satjipto telah memberitahu kepada Daidan Purwakarta yang membawahi pula daerah Rengasdengklok dan seluruh tangsi serta opsir PETA yang berada di daerah Purwakarta-pun telah diberitahu pula beberapa jam sebelum rombongan Bung Karno tiba, guna menyiapkan dan menduduki daerah Rengasdengklok untuk dijadikan basis pertama dari daerah Republik Indonesia jika proklamasi telah diumumkan. Oleh karena itu ketika rombongan tiba di daerah perbatasan, penjagaan sudah ditangan tangsi Rengasdengklok dibawah pimpinan Umar Bachsan.

Suasana kota kecamatan Rengasdengklok sejak tanggal 15 Agustus 1945 setelah rombongan Bung Karno datang, senyap, orang bertanya-tanya ada apa ini, genting disana-sini terutama dekat tempat tinggal kedua pimpinan itu dijaga keras oleh tentara PETA yang membantu usaha pemuda revolusioner tersebut. Jalan masuk daerah tersebut dikawal oleh tentara PETA.

Dalam sejarah berdirnya negara Republik Indonesia, nama kota Rengasdengklok tercatat sebagai daerah republik pertama. Beberapa jam sebelum proklamasi kemerdekaan diumumkan, daerah tersebut sudah dikuasai tentara PETA, sebagai tentara pemberontak terhadap penjajah dan menjadi benih pertama dari tentara Republik Indonesia. Kekuasaan Jepang di daerah ini yang pertama kali dibebaskan oleh pemuda harapan bangsa dan berlaku peraturan baru sehingga orang yang akan keluar masuk daerah tersebut harus mendapatkan ijin tangsi PETA Rengasdengklok. Di daerah ini pertama kali orang Jepang ditangkap dan ditahan karena tidak tunduk dengan peraturan komandan tangsi.

Sutardjo, residen Jakarta, ditahan oleh petugas penjara di pos PETA sewaktu akan kembali ke Jakarta tanggal 16 Agustus 1945, setelah selesai memeriksa persedian berat, sekalipun sudah diterangkan olehnya bahwa ia juga kawan dari pejuang kemerdekaan tersebut.

Suyono Hadipranoto, Asisten Wedana Rengasdengklok telah menyatakan daerah kekuasaannya itu sebagai daerah Republik Indonesia, karena menurut komandan pendudukan daerah Rengasdengklok dengan utusan ke Jakarta, Singgih dan Dr. Sutjipto bahwa pengumuman prolamasi kemerdekaan ditetapkan tanggal 16 Agustus 1945.

Sewaktu rombongan Bung Karno tiba di Rengasdengklok, diterima oleh komandan tangsi dan stafnya dan keduan pimpinan itu terus dibawa ketempat atau ruangan yang telah disediakan. Bung Karno dan keluarganya satu ruangan sedang Bung Hatta di ruangan yang lain.

Setelah istirahat beberapa jam disebuah tangsi yang sangat sederhana itu, Bung Karno dan Bung Hatta dibawa kesebuah rumah milik seorang Tionghoa dimana sudah siap menunggu Sukarni, J. Kunto, Dr. Sutjipto, Umar Bachsan komandan tangsi dan beberapa anggota stafnya.

Sukarni menjelaskan bahwa maksud membawa kedua pemimpin tersebut ke daerah ini, tidak lain hanya untuk mempersilahkan mreka selekasnya menyatakan kemerdekaan Indonesia atas nama seluruh rakyat, karena keadaan sudah mendesak dan suasana pun sudah sanagat memuncak. Jika tidak dilakukan proklamasi selekas-lekasnya, maka pemberontakan akan menjadi hebat, pemberontakan melawan tiap-tiap penghalang kemerdekaan tentu akan berkobar.

Oleh karen itu atas nama segenap rakyat, buruh, tani, dan tentara supaya saudara turut melakukan proklamasi itu. Jika tidak, maka segala akibatnya, terutama yang mengenai keselamatan diri saudara berdua tidk akan dapat ditanggung lagi oleh rakyat, demikian Sukarni menekankan.

Suasana menjadi hening, Bung Karno dan Bung Hatta pikirannya dalam persimpangan jalan, dilihatnya suasana sekelilingnnya, teringat akan tugas kewajibannya sebagai pemimpin rakyat, tetapi dibalik itu terlayang pikirannya kewajah Seiko Sikikan, Gunseikan dan air muka tiap-tiap Jenderal Jepang yang ganas itu, haus darah dan segala janji yang telah diberikan.

Didalam kebimbangan itu diarahkan pandangannya kearah wajah pemuda yang dihadapi waktu itu, semua masih muda, berseri-seri, gagah dengan air muka yang tidak ragu-ragu. Tetapi pemuda ini tidak pegang senjata, sedang Jepang ditangannya masih terdapat persenjataan yang lengkap. Mau mengadakan pertumpahan darah……?.

Bung Karno yang terkenal tidak takut bui, tidak takut tempat pengasingan itu, ternyata takut terhadap darah mengalir……….
lama Bung Karno dan Bung Hatta tidak menjawab. Kembali lagi tanya : “Apakah benar Jepang sudah menyerah ?”. Sukarnio menjawab : “Saudara berdua saksikan sendiri !”, sambil menunjuk kearah pahlawan PETA yang sudah siap sedia dengan pasukannya itu untuk menyerbu dan menghadapi segala kemungkinan. Mereka telah bertekad melindungi Kemerdekaan rakyat Indonesia.

Ditegaskan kembali oleh Sukarni : “Tentang penyerahan Jepang tidak perlu diragu-ragukan lagi”.
Berhubung Bung Karno belum dapat memberikan jawaban yang pasti dan masih bimbang, maka Sukarni mengambil keputusan menyuruh J. Kunto melaporkan dan merundingkan dengan kelompok yang ada di Jakarta.