Wisata Adat Bali di Desa Panglipuran

Wisata Adat Bali di Desa Panglipuran

5
0
SHARE
Suasana bersih, rapi dan asri di Desa Panglipuran (Dok: www.indonesia-heritage.net)

Shnet, Bali – Wisata di Bali sudah terkenal se-antero dunia. Namun, Bali lebih terkenal dengan wisata pantai dan wisata alam lainnya. Padahal, wisata budaya dan adat Bali tak kalah menarik untuk dikunjungi.

Kali ini pelesir mengajak para pembaca Sinar Harapan Net mengunjung sebuah desa wisata di Bali yang menyajikan ragam adat budaya tradisional di Bali. Ya, desa Panglipuran, namanya. Desa ini terletak di Kabupaten Bangli, Bali atau sekitar 2 jam perjalanan dari pusat Kota Denpasar.

Sebagai pengetahuan kita, Desa Panglipuran ini masuk dalam tiga desa terbersih di dunia bersama dengan Desa Giethoorn di Belanda. Kondisi ini bisa kita lihat pada tata letak bangunan rumah tradisional Bali yang terlihat berjejer rapi dan presisi. Halaman rumah-rumah di desa ini juga tampak bersih tanpa sampah yang berserakan.

Pemandangan hijau nampak indah di mata. Ditambah warna-warni bunga yang tumbuh di pekarangan rumah menghiasi jalanan desa. Udaranya yang bersih tanpa polusi, karena kendaraan juga dilarang masuk ke desa ini. Tak heran jika Desa Panglipuran mendapat penghargaan kalpataru dan ditetapkan sebagai desa wisata tahun 1995. Sejak saat itulah Desa Panglipuran ramai dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun manca negara.

Mengenal Desa Panglipuran Lebih Dekat

Panglipuran diambil dari kata Pangeling Pura yang berarti tempat suci untuk mengenang para leluhur. Ini menandakan bahwa masyarakat desanya sangat menjunjung tinggi amanat dari para leluhur. Sedangkan, penataan fisik desa diwariskan secara turun temurun oleh para leluhurnya yang memegang teguh ‘falsafah Tri Hitakarana’. Falsafah ini mengajarkan kita untuk selalu mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan sesama, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan tuhan.

Ciri khas yang sangat menonjol dari desa ini adalah arsitektur bangunan tradisional desa yang memiliki arsitektur sama persis dari ujung desa ke ujung lainnya. Sehingga nampak desa yang  indah, simetris dan tertata rapi antara satu rumah dengan rumah lainnya.

Jejeran Angkul-Angkul (Pintu Gerbang Khas Bali) Di Desa Penglipuran Dok: travel.kompas.com)
Jejeran Angkul-Angkul (Pintu Gerbang Khas Bali) Di Desa Penglipuran
Dok: travel.kompas.com)

Pintu gerbang di setiap rumah saling berhadapan satu sama lain dan hanya dibatasi oleh jalan utama kecil di tengahnya. Pintu gerbang ini disebut dengan angkul-angkul (pintu gerbang khas bali) yang juga ber-arsitektur sama di setiap rumah. Jalan utama yang ada di desa ini mengarah di bagian utama desa yang berada di puncak paling tinggi.

Di sekitar pintu gerbang masuk desa terdapat catus pata atau area yang terdiri dari balai desa, fasilitas masyarakat dan ruang terbuka hijau berupa taman. Anda tidak diperkenankan menggunakan mobil ataupun sepeda motor jika masuk ke kawasan ini. Kendaraan Anda harus diparkir di lahan parkir yang tidak jauh dari kawasan wisata.

Suasana Hari Raya Galungan di Desa Panglipuran (Dok: apelphotography.blogspot.com)
Suasana Hari Raya Galungan di Desa Panglipuran (Dok: apelphotography.blogspot.com)

Ada baiknya Anda berwisata sebelum dan sesudah hari raya galungan, yakni hari raya umat Hindu yang diperingati setiap 6 bulan sekali. Saat itulah kita akan melihat jejaran penjor (pohon bambu panjang yang dihias dan ditancapkan di depan pekarangan rumah). Selain itu, ada gadis-gadis Bali dengan pakaian adatnya yang membawa banten menuju pura. (Siti Rubaidah)