Paham Wahabi, Inggris Tuding Arab Saudi Produsen Ulama Radikal

Paham Wahabi, Inggris Tuding Arab Saudi Produsen Ulama Radikal

Ilustrasi / ist

Oleh: Aju

SHNet, JAKARTA –  Pernyataan keras Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal TNI Gatot Nurmantyo di Islamic Center Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, Minggu, 18 Juni 2017, dapat dijadikan salah satu rujukan penyebab maraknya radikalisme agama yang berkolerasi dengan aksi terorisme di Indonesia.

Radikalisme agama, telah menyebabkan memunculkan disintregrasi bangsa, karena mengancam implementasi 4 Pilar Kebangsaan, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ini ditandai maraknya aksim takfiri (tukang mengkafirkan orang di luar Islam) melalui ujaran kebencian dilakonkan tersangka chat pornografi dengan Firza Hussein terhitung 25 Mei 2017, yakni Muhammad Rizieq Syihab (52 tahun) melalui Front Pembela Islam (FPI) yang kini bersembunyi di Arab Saudi sejak April 2017.

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berhaluan islam garis keras sekarang, wahabi, sekarang dalam tahap finalisasi pembubaran dari Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), kartena sejak 2007 secara terbuka mengkumandangkan mengganti ideologi Pancasila ke dalam ideologi syariat islam kekhilafahan.

Berkaitan dengan itu, Panglima Gatot, mengharapkan, segenap bangsa agar tidak mengikuti ulama yang menginginkan agar bangsa Indonesia mengalami perpecahan.

“Kalau ada yang mencoba pecah belah bangsa dan mencaci maki dengan berpakaian ulama, pasti bukan ulama. Oleh karenanya, jangan diikuti,” kata Gatot.

Walaupun ulama, kata Gatot, kalau justru menginginkan perpecahan di Indonesia, berarti orang itu bukan Muslim asal Indonesia.

“Jadi, kalau ada orang bersorban mengaku ulama atau kiai, tetapi berbicaara soal memecah belah bangsa, bukan kiai dari Indonesia atau orang tersebut belajar Islam dari luar negeri,” tegas Gatot.

Umat Islam atau kiai asal Indonesia tidak menginginkan adanya perpecahan dalam bangsa ini. Bahkan, para ulama dan kiai juga ikut bersama rakyat merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah.

“Sejarah kemerdekaan, bahwa yang memerdekan Indonesia bukan TNI. Yang berjuang untuk kemerdekaan adalah rakyat Indonesia. Kalau ada yang ingin pecah belah bangsa, apalagi ingin merusak Pancasila berarti ulama palsu. Dalam hadits disebutkan, seorang mukmin tidak Boleh mencaci maki dan mengadu domba,” ucap Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Gatot memang menunjuk batang hidung Muhamad Rizieq Syihab, pria nyentrik keturunan Yaman, Timur Tengah, ini, dalam aktifitas kesehariannya, selalu memakai sorban, jubah putih, tapi kelakuannya hanya tukang memusuhi pihak lain.

Dalam aksi unjukrasa di Jakarta, Jumat, 4 November 2016, Rizieq menegaskan, haram hukumnya memilih calon pemimpin dari kalangan kafir, yakni kalangan non Islam.

Paham wahabi sekarang yang lagi marak di Indonesia, kini malah dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Mesir dan Arab Saudi. Sebagian imam penganut wahabi, masuk daftar pencarian orang Pemerintah Arab Saudi dan Mesir di Timur Tengah, karena tukar tebar sikap kebencian antar sesama islam itu sendiri.

Arab Saudi sebagai salah satu negara sekutu utama Amerika Serikat (AS), sekarang dikenal sebagai salah satu negara paling moderat di Timur Tengah. Arab Saudi sekarang bisa dijadikan proyek percontohan bagaimana menata sebuah negara berpenduduk mayoritas Islam, tapi bergaya moderat.

Untuk menjadi sebuah negara Islam yang moderat, Arab Saudi, memiliki cerita panjang. Lembaga  Lembaga penelitian Inggris bernama Henry Jackson Society, menyebut, Arab Saudi adalah negara pendukung utama ekstremisme di Inggris.

“Sejak 1960-an Arab Saudi mendukung upaya penyebaran paham radikal Wahabi di seantero dunia Islam dengan menggelontorkan dana jutaan dolar, termasuk kepada komunitas muslim di negara Barat,” kata laporan lembaga itu, seperti dilansir laman Press Televisi, Rabu, 5 Juli 2017.

Selain itu, Arab Saudi menjadi negara asing yang mendanai paham ekstremisme di Inggris lewat berbagai institusi yang menghadirkan ulama radikal dan menyebarkan literatur berpaham ekstrem.

“Pengaruh Arab Saudi juga disusupkan melalui pelatihan para ulama Inggris ke Arab Saudi serta penggunaan buku-buku teks di sejumlah sekolah Islam di Inggris,” lanjut laporan Henry Jackson Society.

Sejumlah ulama radikal di Inggris menganut ideologi Wahabi yang menjalin hubungan dengan pendukung ekstremisme di luar negeri.

Menurut laporan tersebut, sokongan dana dari Arab Saudi untuk menyebarkan paham Wahabi ke seluruh dunia meningkat dua kali lipat pada 2015 dibanding pada 2007 yang mencapai US$2 miliar.

Diketahui pula, sejumlah warga Inggris yang ikut berperang di Irak dan Suriah bersama kelompok takfiri ternyata sebelumnya telah mengalami radikalisasi lewat lembaga didanai asing dan ulamanya.

Henry Jackson Society, menyebut, Wahabisme adalah ideologi ekstremis yang dominan di Arab Saudi dan disebarkan oleh para ulama didukung rezim Riyadh.

Tom Wilson, penulis laporan Henry Jackson Society menulis, “Arab Saudi tidak diragukan lagi sebagai penyokong utama negara-negara yang menyebarkan paham ekstremisme.”

Kedutaan Arab Saudi di London tentu berang dengan isi laporan Henry Jackson Society ini dan menyebutnya sebagai ‘tidak berdasar’.

Tudingan Arab Saudi produsen paham radikal berbasiskan Agmaa Islam, pernah pula dilayangkan Pemimpin Hizbullah di Lebanon, Sayyed Hassan Nasralah, dengan mengungkapan sejumlah rahasia mengenai Arab Saudi.

Menurut Sayyed, negeri Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud tersebut adalah pihak yang membiayai gerombolan The Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Suriah.

Tak hanya itu, pemimpin pergerakan Islam Syiah itu juga mengungkapkan, rezim Raja Salman di Riyadh merupakan dalang kekejaman di Yaman. Saudi kekinian terlibat perang agresi di Yaman.

Secara umum, Nasrallah menegaskan, Arab Saudi adalah “negara teror”. Hal itu Sayyed ungkapkan dalam pidato memperingati 17 tahun pembebasan Lebanon selatan dari agresi Israel, Jumat, 26 Mei 2017.

“ISIS secara historis berasal dari Arab Saudi. Gerombolan itu juga dibiayai oleh orang-orang Saudi. Perang yang menimbulkan kekejaman di Yaman juga ulah mereka. Apa yang dilakukan Arab Saudi adalah wujud terorisme negara,” tegas Nasrallah, seperti dilansir Sputniknews.

Namun, kata Sayyed, upaya Arab Saudi untuk membangun barisan tentara dari kalangan fundamentalis radikal di kawasan Timur Tengah gagal.

Sebab, menurut Sayyed Nasrallah, banyak warga dunia yang sudah mengetahui Saudi sebagai sentral penyebaran ideologi takfiri dianut oleh ISIS maupun kelompok teror lain.

“Karenanya, Arab Saudi memerlukan bantuan AS untuk memperkuat posisinya di Timur Tengah untuk menentang Iran. Arab Saudi meminta dukungan AS untuk melawan Iran dan gerakan perlawanan terhadap teror lainnya,” terang Sayyed.