Menengok Keindahan Seni Ukir Rumah Adat Kudus (Bagian III)

Menengok Keindahan Seni Ukir Rumah Adat Kudus (Bagian III)

Sumber Foto: http://rumah.joglokudus.com

SHNet, Kudus – Keunikan dan keistimewaan Rumah Adat Kudus tidak hanya terletak pada keindahan arsitekturnya yang didominasi dengan seni ukir kualitas tinggi, tetapi juga pada kelengkapan komponen-komponen pembentuknya yang memiliki makna filosofis berbeda-beda.

Pertama, bentuk dan motif  ukirannya mengikuti pola kala (binatang sejenis laba-laba berkaki banyak), gajah penunggu, rangkaian bunga melati (sekar rinonce), motif ular naga, buah nanas (sarang lebah), motif burung phoenix, dan lain-lain.

Sumber Foto: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id
Sumber Foto: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id

Kedua, tata ruang rumah adat yang memiliki jogo satru (ruang tamu) dengan soko geder-nya/tiang tunggal sebagai simbol bahwa Allah SWT bersifat Esa/Tunggal. Bagian ini berfungsi sebagai pengingat bagi penghuni rumah agar senantiasa beriman dan bertakwa kepada-Nya.

Sumber Foto: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id
Sumber Foto: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id

Ketiga, gedhongan dan senthong (ruang keluarga) yang ditopang empat buah soko guru/tiang penyangga. Keempat tiang tersebut adalah simbol yang memberi petunjuk bagi penghuni rumah supaya mampu menyangga kehidupannya sehari-hari dengan mengendalikan empat sifat manusia: amarah (dorongan untuk melakukan kemaksiatan), lawwamah (dorongan mengkoreksi diri sendiri), shofiyah (kelembutan hati)dan mutmainnah (dorongan untuk berbuat kebajikan).

Sumber Foto: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id
Sumber Foto: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id

Keempat, pawon (dapur) di bagian paling belakang bangunan rumah.

Kelima, pakiwan (kamar mandi) sebagai simbol agar manusia selalu membersihkan diri baik fisik maupun rohani.

Keenam, tanaman di sekeliling pakiwan, antara lain: pohon belimbing, yang melambangkan lima rukun Islam; pandan wangi, sebagai simbol rejeki yang harum/halal dan baik; bunga melati, yang melambangkan keharuman, perilaku yang baik dan budi pekerti luhur, serta kesucian.

Ketujuh, tata letak rumah yang menghadap ke arah selatan mengandung makna agar si pemilik rumah seolah-olah tidak “memangku” Gunung Muria (yang terletak di sebelah utara), sehingga tidak memperberat kehidupannya sehari-hari. Hal ini berbeda dengan konsep rumah di Jogja dan Solo yang menghadap ke Laut Selatan karena mitos untuk menghormati penguasa laut Selatan.

Jadi, pada umumnya rumah adat Kudus menghadap ke arah Selatan. Berikut adalah alasan mengapa rumah adat Kudus menghadap ke selatan karena :

  1. Sinar matahari pagi bisa masuk kedalam rumah sehingga kesehatan penghuninya terjamin.
  2. Bila musim kemarau tritisan depan rumah tidak langsung terkena sinar matahari sehingga tetap adem
  3. Bila musim penghujan tritisan rumah terlindung dari hujan sehingga bagian depan rumah tidak diterpa air hujan terus menerus dan aman dari bahaya lapuk.

Demikianlah sekilas seluk beluk dan sejarah tentang rumah adat Kudus. Semoga menambah khasanah perbendaharaan kita tentang kekayaan adat dan budaya Indonesia. (Siti Rubaidah)