Menengok Keindahan Seni Ukir Rumah Adat Kudus (Bagian II)

Menengok Keindahan Seni Ukir Rumah Adat Kudus (Bagian II)

Sumber Foto: http://rumah.joglokudus.com

SHNet, Kudus – Ciri ukiran rumah adat Kudus adalah tiga dimensi, kecil-kecil, rapi, berpola dan kaya filosofi hidup. Rumah Adat Kudus menjadi penanda bahwa Bangsa Indonesia sangat menghargai karya seni dan budaya.

Ukiran khas Kudus ini tersohor dan paling terkenal di jagad seni ukir kuno di Indonesia. Bahkan melebihi tradisi ukir Jogjakarta dan Surakarta yang memiliki keraton, serta seni ukir Jepara sendiri yang terkenal sebagai Kota Ukir. Pertanyaannya kemudian mengapa ukiran khas Kudus tersohor dan mahal?

Sejarah seni ukir di Kudus sejatinya sudah dimulai sejak datangnya imigran dari Tiongkok bernama The Ling Sing pada abad 15. Selain menyebarkan Islam ke lereng Gunung Muria kedatangannya juga untuk menekuni keahliannya dalam seni ukir. Berkiblat pada aliran kesenian Sun Ging, The Ling Sing menjadikan seni ukir Kudus yang bermotif indah dan halus. Dari sinilah dia menerima murid untuk mempelajari Islam dan seni ukir.

Perbedaan antara ukiran Kudus dan Jepara adalah; seni ukir di Kudus berkembang pada pembuatan rumah, ukirannya halus dan indah dengan bunga kecil-kecil berdimensi dua atau tiga. Sedangkan ukiran Jepara berkembang pada peralatan rumah tangga, seperti: almari, meja , tempat tidur, kursi dan lain-lain. Adapun ukirannya berbentuk sulur dengan ukir-ukiran yang besar.

Ukiran khas Kudus ini tercermin dalam rumah adat Kudus yang terdiri dari beberapa motif ukiran pengaruh budaya Cina, Hindu, Persia/Islam dan Eropa.

  1. Motif Cina berupa ukiran naga yang terletak pada bangku kecil untuk masuk ruang dalam.
  2. Motif Hindu digambarkan dalam bentuk perpaduan yang terdapat di gebyok (pembatas antara ruang Jogo Satru dan ruang dalam).
  3. Motif Persia/Islam digambarkan dalam bentuk bunga, terdapat dalam ruang Jogo Satru.
  4. Motif Eropa digambarkan dalam bentuk mahkota yang terdapat di atas pintu masuk ke gedongan.

Adapun ragam hias ukiran antara lain: pola kala dan gajah penunggu, rangkaian bunga melati (sekar rinonce), motif ular naga, buah nanas (sarang lebah), motif burung phoenix, dan lain-lain. (*SR)