Jangan Terlantarkan Anak Didik Hanya Karena Perbedaan Pendapat

Presiden Soeharto Didepan PGRI :

Jangan Terlantarkan Anak Didik Hanya Karena Perbedaan Pendapat

Jakarta, 6 Juli 1970 – Pendidikan jangan hanya menjadi beban yang konsumtif melainkan harus menjadi sumber potensi yang produktif dalam proses pembangunan dewasa ini, demikian antara lain Presiden Soeharto didepan Kongres Persatuan Guru Republik Indonesia dalam penutupan kongres tersebut Sabtu malam di Bandung.

Presiden mengemukakan selanjutnya agar jangan kiranya perbedaan pendapat dalam menghadapi masalah pendidikan menjadi arena perdebatan yang tak habis-habisnya, yang mengakibatkan terlantarnya anak didik, hendaknya perbedaan pendapat itu diarahkan kepada penyempurnaan program bidang pendidikan yang telah digariskan oleh pemerintah, demikian Presiden.
0014-1
Investasi manusia
“pendidikan”, demikian ditambahkan, harus kita arahkan untuk membentuk warganegara yang kuat wataknya dan tinggi moralnya yang mampu berdiri sendiri dan mau bekerjasama dengan orang lain, yang berkepribadian tetapi tetap toleran dan yang cerdas pikirannya serta sehat jasmaninya.

Melalui pendidikan inilah, kata Presiden, “kita melakukan investasi manusia untuk mengantarkan lahirnya warganegara yang bertanggung jawab dalam membangun bangsa dimasa depan disegala bidang, baik politik, ekonomi, sosial maupun kebudayaan“.

Oleh Kepala Negara ditandaskan pula, bahwa sikap mental masyarakat harus berubah dan pendidikan tidak boleh dianggap hanya sebagai lambang status sosial.

“Pendidikan” kata Presiden lebih lanjut, bukan hanya ditunjukkan untuk mengejar ijazah dan juga bukan hanya untuk menjadi pegawai negeri atau pemimpin yang duduk dibelakang meja, melainkan melalui pendidikan itu kita harus membentuk warganegara yang cakap bekerja untuk pembangunan bangsa.

Nasib guru
Menurut Presiden, pemerintah harus mengusahakan perbaikan nasib guru secara menyeluruh dalam rangka perbaikan kehidupan bangsa dan negara.

Betapa beratpun keadaan yang dihadapi sebagai guru dan sebagai pendidik, tetaplah tahan uji, tetaplah penuh dengan cita-cita dan berbudi luhur.

Tugas guru sungguh mulia, walaupun hasil pengabdiannya tidak segera tampak, demikian Presiden. (SH)