Indonesia Paling Agresif Kembangkan Aplikasi “Mobile”

Indonesia Paling Agresif Kembangkan Aplikasi “Mobile”

Dari kiri, Head of Business Development, Mobile, Red Hat Asia Pacific, Gerald Khor berbincang dengan Associate Research Director, Asia/Pacific Practice Research Group, IDC, Avinav Trigunait dan Country Manager PT Red Hat Indonesia Rully Moulany saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (25/7). (SHNet/Job Palar)

SHNet, Jakarta – Indonesia menjadi negara yang paling agresif dalam membangun aplikasi mobile untuk menunjang berbagai proyek pendukung dalam bisnis perusahaan.

Sebanyak satu dari empat perusahaan di Indonesia telah menyiapkan dana untuk proyek-proyek aplikasi mobile. Begitu juga, satu dari tiga perusahaan telah berencana untuk berinvestasi dalam 12 bulan ke depan.

Demikian hasil survei yang diumumkan Red Hat, penyedia program open source, tentang adopsi mobilitas enterprise di tiga negara, yakni Singapura, Malaysia dan Indonesia. Survei ini dilakukan bekerja sama dengan oleh International Data Corporation (IDC) atas dukungan Red Hat dengan meminta tanggapan dari 275 profesional Teknologi Informasi (TI).

“Banyak perusahaan yang terus memproses bisnis inti mereka secara mobile dengan membangun berbagai aplikasi dan layanan terkait guna membantu mendorong nilai bisnis yang berkelanjutan dan pengalaman pengguna yang lebih baik,” kata Avinav Trigunait, Associate Director for Enterprise Mobility Research, IDC Asia Pacific, di Jakarta, Selasa (25/7), saat jumpa pers.

Avinav Trigunait juga menjelaskan hasil survei menemukan bahwa sejumlah besar responden menyatakan bahwa mereka telah memiliki strategi terkait mobilitas.

Hasil survei yang didapat di antaranya adalah responden di Singapura, Malaysia dan Indonesia tengah beralih melampaui perangkat menuju mobilitas alur kerja, sebanyak 56% responden yang disurvei menganggap mobilitas penting bagi bisnis mereka. Sementara itu, 40% berencana untuk fokus pada proyek-proyek terkait aplikasi mobile dalam 12 hingga 24 bulan ke depan.

Permintaan mengembangkan aplikasi-aplikasi mobile di tiga negara tersebut sedang berkembang. Sebanyak 76% responden memiliki alokasi anggaran atau berencana untuk berinvestasi di proyek-proyek aplikasi mobile dalam 24 bulan ke depan. Sementara itu, 58% berencana untuk menerapkan antara satu hingga lima aplikasi mobile dalam 24 bulan ke depan.

Survei dari Indonesia sendiri, selain agresif dalam pengembangan aplikasi mobile, responden juga berinvetasi dengan hati-hati dan berfokus pada pengalaman pelanggan. Dari survei itu, sebanyak 37% responden menggangap mobilitas sebagai bagian dari strategi bisnis mereka, namun berinvetasi dengan hati-hati karena keterbatasan sumber daya.

Sementara itu, 27% telah memiliki anggaran terkait aplikasi mobile yang merupakan presentase tertinggi di wilayah Asean, selain itu 26% berfokus pada peningkatan pengalaman pelanggan melalui inisiatif mobilitas mereka.

“Di Indonesia, satu dari tiga perusahaan atau organisasi telah mempertimbangkan bahwa mobilitas itu penting menunjang bisnis mereka, namun responden cukupberhati-hati karena keterbatasan sumber daya,” kata Head of Business Development, Mobile, Red Hat Asia Pacific, Gerald Khor.

Sementara itu, hampir 50% responden meyakini bahwa perusahaan mereka memiliki keterampilan minimal atau standar untuk mendukung proyek-proyek mobile.

“Mobilitas enterprise tetap menjadi prioritas utama dalam rapat-rapat pimpinan sebagian besar wilayah Asia Pasifik, seiring perusahaan enterprise beegerak melewati tahap eksperimen dan mulai menjadikan mobilitas sebagai pendorong utama transformasi digital,” kata Avinav.