Glintung, Kampung Kumuh yang Bertransformasi Jadi Kampung 3G

Glintung, Kampung Kumuh yang Bertransformasi Jadi Kampung 3G

2
0
SHARE
Foto: SHNet/Eka Susanti

SHNet, MALANG – Bermula dari kampung kumuh dan langganan banjir, kampung Glintung RW 23 Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing Kota Malang kini bertransformasi menjadi Kampung 3G (Glintung Go Green). Tak hanya itu, Rabu (19/7) akan  diresmikan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo sebagai Kampung Konservasi Air pertama di dunia.

Butuh waktu lima tahun untuk menciptakan Glintung menjadi kampung yang hijau asri, berdaya ekonomi dan memiliki wawasan lingkungan yang kuat. Warga diajak mencintai lingkungannya sekaligus berhemat air melalui Gerakan Menabung Air (Gemar).

Bentuk gerakan ini dengan membuat sumur injeksi, lubang biopori dan parit resapan. Air hujan tak lagi mengalir dan hilang begitu saja, melainkan akan meresap ke tanah sehingga cadangan air dalam tanah akan meningkat.

Foto: SHNet/Eka Susanti
Foto: SHNet/Eka Susanti

Belakangan, debit air sumur warga juga meningkat. Kelembaban suhu udara di kampung Glintung mulai terjaga, sekaligus mengurangi global warming.Awalnya, gerakan konservasi air yang digagas Prof. Dr. Ir. Muh. Bisri (Rektor Univeritas Brawijaya Malang) bersama Ir. Bambang Irianto selaku ketua RW 23 Purwantoro pada  Juli 2013 lalu, hanya mampu membuat 4 sumur injeksi dan 100 biopori.

‘’Lubang infiltrasi biopori dan sistem sumur resapan, lebih efektif dan lebih berkelanjutan daripada membangun selokan dan saluran air yang hanya akan mengalihkan kelebihan air,’’ jelas Ir. Bambang Irianto, Ketua RW 23 Purwantoro.

Upaya Bambang didukung Fakultas Teknik UB tak sia-sia. Setelah melihat hasilnya, warga mulai tergerak ikut mendukung. Saat ini Kampung 3G memiliki 700 biopori dan total 11 sumur injeksi, 4 diantaranya berada di RW 10. Setiap 100 meter dipasang parit resapan, dan 5 bak kontrol resapan. Lubang biopori ini memiliki kedalaman 1 meter, dibangun menggunakan cat kaleng 5 kilogram dan 25 kilogram. Sekali hujan turun, sekitar 100 ribu liter air diperkirakan  masuk ke sumur resapan  berkapasitas total  49.000 liter air.

Sebelum Gemar dilaksanakan, kedalaman sumur warga mencapai 15 hingga 20 meter. Saat ini, aliran air bawah tanah di kampung 3G sudah lebih tinggi, sehingga warga tak perlu menempatkan pompa air terlalu dalam. Bahkan, belakangan muncul mata air baru di RW 5 yang bertetangga dengan RW 23. ‘’Ada laporan warga kalau pompa airnya rusak karena tergenang air. Artinya, ketinggian air sumur warga juga meningkat,’’ sambung Bambang.

Foto: SHNet/Eka Susanti
Foto: SHNet/Eka Susanti

Di samping menabung air, warga diwajibkan ‘menghijaukan’ rumah tinggal masing-masing melalui gerakan menanam tanaman hidroponik dengan memanfaatkan berbagai media bekas pakai, seperti pot, botol bekas,atau kaleng. Warga yang tak memiliki cukup lahan, menanam secara vertical di tembok rumah. Sementara sampah organic yang dihasilkan dari tanaman, dikumpulkan dan dijadikan kompos yang dimasukkan ke dalam lubang-lubang biopori.

Di tahun kelima, program Gemar berdampak signifikan terhadap perekonomian Glintung. Tak heran,  Kampung 3G terpilih sebagai inovasi pertama di dunia di ajang Ghuangzou Award Urban Innovation 2016 lalu di China. (Eka Susanti)