Demonstran dan Polisi Bentrok, Jelang KTT G20 di Hamburg

Demonstran dan Polisi Bentrok, Jelang KTT G20 di Hamburg

Tak kurang dari 20.000 personel kepolisian dikerahkan untuk mengamankan pertemuan puncak G20 di Hamburg, Jerman. Foto: Getty Images

SHNet, Hamburg – Polisi anti huru-hara Jerman bentrok dengan para pengunjuk rasa di kota Hamburg, menjelang pertemuan puncak G20 yang digelar di kota tersebut mulai Jumat hingga Sabtu, 7-8 Juli.

Dilansir BBC news Jumat (7/7), Personel polisi dalam jumlah besar turun tangan ketika sekitar seribuan demonstran yang berpakaian hitam-hitam menolak melepas penyamaran mereka.

Polisi antara lain menggunakan meriam air dan semprotan merica, sementara para pengunjuk rasa melemparkan botol minuman dan benda-benda lain. Di bagain lain di Hamburg dilangsungkan berbagai unjuk rasa yang secara umum berlangsung damai.
Pemerintah kota dan aparat keamanan sudah mengantisipasi kerusuhan. Toko-toko mulai ditutup dengan lapisan kayu, juga lobang yang memungkinkan orang masuk ke arena KTT.

Toko-toko sudah mengamankan diri dari ancaman kerusakan.
Toko-toko sudah mengamankan diri dari ancaman kerusakan.

Awal pekan ini, polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan pengunjuk rasa dan sempat terjadi bentrokan ketika pihak berwenang ingin membersihkan tenda-tenda yang didirikan para pengunjuk rasa.

Rabu (06/07) malam, satu bengkel mobil Porsche yang dibakar dan Kamis (07/07) malam para pengunjuk rasa rencananya akan menggelar aksi dan berupaya menggagalkan pertemuan yang akan dibuka Jumat (08/07).

Di kantor pusat polisi Hamburg, ketegangan amat terasa. Aparat dengan minibus dan mobil barang serta meriam air tampak disiapkan. Sebanyak 20.000 aparat dikerahkan untuk mengamankan KTT G20.
Polisi memperkirakan sekitar 8.000 pengunjuk asa ekstremis dengan senjata rakitan juga siap untuk mengacaukan acara.

Sebuah bengkel Porsche dibakar oleh para pengunjuk rasa antikapitalisme. Foto: Reuters
Sebuah bengkel Porsche dibakar oleh para pengunjuk rasa antikapitalisme. Foto: Reuters

“Beberapa militan akan sangat agresif,” kata Ralf Martin Meyer, Kepala Kepolisian Hamburg. “Dalam beberapa hari belakangan, kami menyita beberapa senjata yang dicanggihkan seperti katapel, pelempar bola, dan alat pemadam kebakaran yang diisi dengan bahan yang mudah terbakar yang akan digunakan untuk melawan polisi.”
“Jumlah peralatan dan senjata itu membuat kami amat prihatin.”

Bagaimanapun operasi besar-besaran polisi ini mengundang pro dan kontra di Jerman. Sejumlah pihak berpendapat terlalu banyak aparat yang dikerahkan dan terlalu keras.
Mereka juga melihat penutupan kota dan upaya untuk menahan para pengunjuk rasa tidak masuk ke dalam kota merupakan pelanggaran hak-hak untuk menggelar unjuk rasa damai yang dijamin di Jerman.
Sebagian pihak juga mempertanyakan pertimbangan untuk melaksanaan dari peristiwa ini di pusat kota yang padat.

Menteri Luar Negeri Jerman, Sigmar Gabriel, sudah mengajukan saran agar KTT G20 dilakukan secara teratur di Gedung PBB di New York dan bukan secara bergantian oleh negara yang sedang menjabat presiden secara bergantian.

Gabriel mengatakan biaya untuk pelaksanaan KTT G20 di Hamburg bisa jadi akan mencapai 150 juta euro atau sekitar Rp2,6 triliun, ditambah lagi dengan kekhawatiran akan keamanan.

Tak kalah kontroversialnya adalah ‘drama politik yang akan dimainkan’ saat pertemuan puncak, yang sudah ditetapkan oleh Jerman, bertema perubahan iklim, perdagangan, migrasi, terorisme, dan kesehatan.

Para pengunjuk rasa sudah bersiap-siap pula, Kamis (07/07), sehari menjelang pembukaan KTT. Foto: EPA
Para pengunjuk rasa sudah bersiap-siap pula, Kamis (07/07), sehari menjelang pembukaan KTT. Foto: EPA

Para pengamat menduga tidak akan banyak yang dicapai dan komunike akhir mungkin bakal dilunakkan. Bagaimanapun Cord Jakobeit dari Universitas Hamburg mengatakan ada satu karakter dalam KTT di negaranya.
“Setidaknya di dalam DNA Jerman untuk memahami kebijakan luar negeri, jelas amat diperlukan untuk berbicara, untuk terus berbicara, walaupun dengan orang yang Anda tidak setujui.”

Dan Kanselir Angela Merkel sudah menggalang dukungan lewat pertemuan dengan para pemimpin Eropa, India, Cina, dan Australia sebelum berlangsungnya pertemuan puncak, dengan harapan untuk menjadi satu kekuatan melawan Presiden Donald Trump dalam hal perubahan iklim.
Memang, yang agaknya akan menjadi pusat perhatian adalah Presiden Trump, yang untuk pertama kalinya pula akan bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. demikian BBC. (Pri)