Tentang Ejaan Baru

Tanggapan Prof. Drs. Wojowasito

Tentang Ejaan Baru

Wawancara Koresponden “SH” di Malang

Sinar Harapan, 5 Juli 1972 – Prof. Drs. Wojowasito kini sedang sibuk menyusun sebuah naskah tentang “Penyempurnaan Ejaan Baru Bahasa Indonesia”. Naskah tersebut merupakan suatu tanggapan atas hadirnya konsep LBK dan dimaksudkan sebagai suatu sumbangan pikiran yang disampaikan kepada DPR RI di Jakarta. Pokok masalah dalam wawancara dengan SH adalah berikut ini.

SH : Bagaimanakah pendapat bapak mengenai penbakuan TJ menjadi C ?.
Wjs : Pengubahan ini juga bertentangan dengan konversi IPA (Internasional Phonetic Alphabet). Sesuai dengan IPA, ejaannya haruslah TJ, dan memang itulah yang digunakan, dan negara lain yang ejaan bahasanya sudah sesuai dengan IPA itu, tidak akan mengubahnya lagi, misalnya negeri Belanda.

Dalam bertukar pikiran dengan beberapa sarjana Eropa, sewaktu saya ke Eropa pada tahun 1970 yang lalu, khususnya di Belgia dengan Prof. Van Den Berg – Universitas Ultrecht, dan Prof. Van Passel – Universitas Brussel, soal TJ pernah saya juga singgung. Saya tanyakan kepada mereka, mengapa mereka tidak menulis TJ dengan C saja seperti usul IPA hal 10, misalnya een keertje menjadi keerce.

Jawaban mereka ialah bahwa tradisi mereka memang menulis TJ, lagipula memang mereka rasakan huruf TJ adalah akibat ucapan T yang diikuti J, dan tidak selalu ditemukan dalam satu kesatuan sebagai fonem.

Huruf itu ditemukan pula dalam asimilasi antara dua kata, misalnya :
tjilpen, tj sebagai fonem (cluster)
weet je, tj sebagai asimilasi
kat je, tj sebagai asimilasi
cut you, tj sebagai asilmilasi
(contoh dalam bahasa Inggris dari Dr. RHB. De Conick, 1970)

Semula usul LBK, 1966 ialah penggantian TJ dan C dengan alasan pertimbangan tekhnis (lihat hal 1, alasan B1) yang menghendaki agar setiap fonem dilambangkan oleh satu huruf. Tetapi akhirnya di “Seminar Puncak” telah mengubah C menjadi CH tanpa alasan yang jelas dan masuk akal.0012

Jadi dipandang dari segi :
1. Segi pandang internasional, konvensionil ilmiah (fonetis), penggantian TJ menjadi CH merupakan kemunduran yang amat besar.
2. Dari sudut penghematan, satu fonem satu huruf juga tidak menunjukkan suatu kemajuan.
Atas dasar uraian diatas, maka jika Malaysia mau mengubah CH menjadi TJ hal itu tidak berarti mengalah atau menurut Indonesia, tetapi tidak lain hanyalah menyesuaikan diri dengan IPA.
Dan bila tinjau dari segi kepentingan pendidikan dan ekonomi, lebih baik dan sudah wajar kalau Indonesia tidak mengadakan pergantian apa-apa.

SH : Apakah soal penggunana huruf C untuk bunyi yang ditulis dengan ortografi bahasa Indonesia TJ itu tidak ada didalam buku yang membicarakan IPA itu ?.
Wjs : Memang ada dalam halaman 10, tetapi itu baru merupakan usul dan dalam prakteknya serta pertimbangan tekhnis ilmiah akan tetap digunakan Tj, C hanyalah digunakan dalam kalangan sarjana sendiri untuk membandingkan bahan-bahan.
SH : lalu apa prinsip bapak untuk mengadakan penyempurnaan ejaan yang sekaligus dapat dipakai sebagai dasar pembakuan/standarisasi bersama dengan Malaysia.
Wjs : Prinsip untuk mengadakan perubahan dalam tradisi penulisan/ejaan bahasa Indonesia harus didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut :

a) Penyederhanaan, artinya satu fonem satu huruf, artinya bahwa dimana terdapat dua huruf, harus diadakan penggantian TJ dan CH tidak sesuai dengan ilmu bahasa, dan harus kita ingat bahwa hal tersebut diatas sulit dipraktekkan dalam bahasa manapun dan di negara manapun. Prinsip satu fonem, satu huruf merupakan dalil indah tetapi bersifat utopis/impian. Dengan kalimat lain di dunia ini belum ada/tidak ada sistem ejaan yang sempurna.
b) Huruf yang dipilih sedapatnya sesuai dengan IPA tersebut yang merupakan konversi internasional kebahasaan.
c) Tidak membawakan konsekwensi komunikasi, ekonomi dan pendidikan yang berat, dilihat dari sudut kemampuan biaya dan luasnya akibat perubahan.
d) Tidak meninggalkan tradisi yang baik yang sudah berpuluh-puluh tahun.

SH : Sehubungan dengan hal ini, bagaimanakah penilaian bapak terhadap OE yang diubah menjadi U ? (Berdasarkan Ejaan Suwandi)
Wjs : Kalau saya harus memberi nilai kepada perubahan huruf OE menjadi U berdasarkan ejaan Suwandi, maka saya memberi nilai 10 (sepuluh), sebab perubahan itu memenuhi syarat tersebut diatas, yakni :

a) Penyederhanaan
b) Ilmiah – konvensional
c) Tanpa konsekwensi ekonomi dan tidak mengakibatkan efek psikologis yang negatif, bahkan sebaliknya
d) Tidak mengubah tradisi yang sudah baik karena tidak menimbulkan pergeseran pemakaian huruf.

SH : Menurut pendapat bapak, adakah kekurangannya dalam ejaan Republik Indonesia ini ?.
Wjs : Ada, yang jelas ialah tidak ada huruf E dan E dalam ortografinya, yang berbeda bunyinya dan juga memang membedakan arti (distingtif) misalnya kata memerah = menjadi merah dan memerah = memeras (dalam hubungan memerah susu sapi).

Kekurangan yang lain ialah dalam menghadapi pemasukan kata-kata asing yang sering memiliki fonem yang khas yang memang tidak ada dalam bahasa Indonesia.

SH : Apakah huruf Y itu dalam ortografi bahasa yang bapak ketahui digunakan sama pula dengan bunyi J ?.
Wjs : Ada juga yang menyamakan, tetapi tidak banyak. Dalam pengalaman saya menulis kamus dan bahasa yang saya ketahui, setelah saya bandingkan ternyata yang paling banyak menggunakan Y dengan bunyi J dalam ortografinya ialah bahasa Inggris dan Malaysia, sedang didalam bahasa Jerman misalnya dalam ortografi juga digunakan J dengan J dan orang Jerman sendiri belum pernah berpikir untuk mengubah ortografi J itu dengan huruf Y.

SH : Apakah betul bahwa masa sekarang ini sudah timbul kekacauan ejaan ?, misalnya dalam penulisan seperti “jalesviva jayamahe” yang seharusnya oleh para ahli bahasa kita ditulis “djaleswewa djajamahe”.
Wjs : Kalau itu yang dipakai contoh, maka tidak benarlah. Kita yang mempelajari pelbagai bahasa kebudayaan di dunia ini maka akan berkesimpulan bahwa gejala semacam tersebut diatas adalah gejala yang lazim. Orang memang suka menggunakan ejaan lain dengan kata-kata khas (asing), misalnya dalam nama atau semboyan.

Misal yang lain, dalam bahasa Perancis, Belanda, Jerman sering kita jumpai nama dan semboyan dalam bahasa Latin dengan ejaan yang berlainan.
Dalam bahasa Indonesia sekarang ini, sering kita jumpai nama dan semboyan dalam bahasa Jawa Kuno dan Sankrit beserta ejaannya sekali, oleh karena kedudukan kultural bahasa tersebut seperti bahasa Latin dan Yunani dalam bahasa-bahasa Eropa.

(Henri Supriyanto)
Malang, 14 Juni 1972