Tradisi Idul Fitri di Indonesia: Pukul Manyapu (3)

Tradisi Idul Fitri di Indonesia: Pukul Manyapu (3)

Tradisi Pukul Manyapu menjadi tradisi perayaan Idul Fitri di desa Morela dan desa Mamala, Maluku Tengah. (Ist)

Pengantar: Idul Fitri tidak hanya tentang berkunjung ke rumah sanak saudara dan kolega tapi juga tentang tradisi perayaan yang telah dilestarikan dari generasi ke generasi. Dalam beberapa artikel, SHNet akan menyajikan sejumlah tradisi tersebut dari berbagai desa di Indonesia. Selamat membaca!

Sejarah panjang tradisi Pukul Manyapu tidak hanya tentang keberhasilan membangun mesjid ataupun tentang kekalahan melawan penjajah. Masyarakat desa Morela dan Mamala secara spiritual juga meyakininya sebagai bukti keagungan Tuhan.

Dimulai ketika Latu Liu, pimpinan pemerintahan adat Negeri Mamala, Patti Tiang Bessy / Patti Tembessi (Tukang Besar yang memimpin pembangunan mesjid), dan Imam Tuny (Imam Masjid) bermufakat mendirikan masjid di sekitar abad ke-16. Perlengkapan pembangunan mesjid pun dikumpulkan dengan mengerahkan rakyat untuk menebang kayu di lereng-lereng gunung dan perbukitan disekitar Mamala.

Kayu-kayu itu diangkut atau dipikul bersama-sama ke lokasi masjid. Dalam perjalanan, salah satu di antara kayu tersebut jatuh dari pikulan dan patah. Kayu yang patah ini panjangnya 20 meter. Padahal, kayu yang dibutuhkan harus berukuran panjang dan dalam keadaan utuh atau tidak boleh disambung.

Hal itulah yang membuat ketiga pemimpin di atas dan masyarakat negeri Mamala mencari solusi yang tepat untuk menyambungkan kayu. Imam Tuny mendapatkan ilham yaitu menyambungkannya dengan mengoleskan minyak yang telah didoakan sebelumnya.

Keesokan harinya ilham yang diperoleh Imam Tuny segera dilaporkan kepada Latu Liu dan Patti Tiang Besy. Ketiga pemimpin tersebut bermufakat untuk mempraktekkannya dan ternyata memberikan hasil yang sangat menggembirakan yakni balok kayu yang patah itu kembali tersambung.

Berdasarkan hal tersebut, ketiga pemimpin mereka berpendapat bahwa minyak yang telah dibacakan ayat-ayat suci al-Qur’an dapat berkhasiat terhadap kayu yang patah, maka kepada manusiapun akan bermanfaat.

Mereka pun bermusyawarah untuk mempraktikan itu ke manusia hingga akhirnya musyawarah tercapai yaitu dengan ditetapkannya tanggal dilakukan percobaan terhadap manusia dengan menggunakan lidi aren yang menurut kepercayaan masyarakat merupakan senjata yang bertuah.

Cara yang dilakukan adalah dengan membentuk kelompok kemudian saling memukul. Pada luka-luka yang ditimbulkan oleh pukulan lidi aren kemudian dioleskan minyak yang telah dibacakan ayat-ayat suci al-Qur’an. Beberapa saat kemudian ternyata luka-luka tersebut mengering dan sembuh.

Dari sinilah, atas musyawarah bersama masyarakat Negeri Mamala pada tahun 1545 Masehi, ditetapkan bahwa acara ukuwala mahiate (pukul sapu) pertama kali sebagai percobaan terhadap manusia dengan menggunakan ukuwala / lidi aren itu dijadikan sebagai senjata dalam tarian adat ukuwala mahiate.

Keberadaan masjid melahirkan adanya upacara ukuwala mahiate sehingga dalam pelaksanaan upacara ini makna-makna simbol yang diuraikan di atas yakni masjid, nyuwelain matehu (Minyak Mamala) dan ukuwala mahiate, merupakan satu rangkain yang utuh dalam pelaksanaan upacara ritual ini. (DM)

Tamat.