Soto Kerbau: Cita Rasa Jawa, Hindu dan Tionghoa

Soto Kerbau: Cita Rasa Jawa, Hindu dan Tionghoa

Ilustrasi: Semangkuk soto kerbau Pak Ramidjan di Taman Bojana Alun-alun Simpang Tujuh Kudus

 

SHNet, Kudus – Mudik dan berlebaran di kampung halaman belum afdhol rasanya sebelum menikmati masakan khas setempat. Ketika Anda berada di Kudus masakan khas yang wajib Anda cicipi adalah Soto Kerbau. Nah, sudahkah Anda menyantap hidangan soto kerbau khas Kudus ini?

Mengapa soto daging kerbau dan bukan daging sapi atau daging ayam sih? Pertanyaan tersebut mungkin akan menggelitik benak kita. Selain itu kita juga pasti membayangkan betapa kerasnya daging kerbau bila dibandingkan dengan daging sapi yang lembut.

Memang! Serat daging kerbau memang lebih kasar dibandingkan serat daging sapi yang bertekstur lembut. Namun, dengan cita rasa dan cara masak yang tepat maka kita mendapatkan cita rasa soto kerbau yang nikmat dan menggoda.

Soto kerbau biasanya disajikan dalam semangkuk soto berisi nasi, irisan daging kerbau, mie putih, tauge, kol, butiran kacang kedelai, yang ditaburi daun seledri dan bawang goreng yang disiram kuah dari kaldu kerbau yang hangat, dengan bumbu dan aroma rempah-rempah yang khas. Hmmm, sajian yang dijamin akan menggoyang lidah.

Bila ingin menikmati secara total cita rasa daging kerbau, kita bisa juga menaruh lauk daging kerbau sebagai tambahan, yang diolah menjadi daging lapis dengan tambahan taburan bawang goreng. Sebagai tambahan disediakan kecap, jeruk limau dan sambal.

Sejarah Soto Kerbau

Soto kerbau selain mempunyai cita rasa unik juga memiliki sejarah panjang. Asal usul makanan khas Kudus ini tidak bisa dilepaskan dengan sejarah pengembangan dan syiar Islam di Kudus yang dilakukan oleh Sunan Kudus.

Ketika mengajarkan Islam, Sunan Kudus sangat berhati-hati dan tidak ingin menyakiti perasaan umat Hindu. Bagi umat Hindu, sapi dianggap sebagai binatang suci sebagai tunggangan Dewa Shiwa sehingga harus dihormati. Sunan Kudus mengajarkan sikap toleran dengan cara melarang umat Islam menyembelih sapi, walaupun sebenarnya dalam Islam tidak dilarang.

Sebuah sikap toleransi yang indah yang kita lihat di sini. Meski pengaruh Hindu di Jawa sudah mulai pudar sejak 700 tahun silam, namun tradisi tidak menyembelih dan memakan daging sapi tetap diwariskan hingga sekarang. Nah, sebagai ganti daging sapi maka diperkenalkanlah daging kerbau dengan aneka ragam olahan, seperti: sate kerbau, soto kerbau dan pindang kerbau.

Kuah soto yang berwarna bening, sedikit berminyak dan terasa tarikan rasa asam jawanya merupakan representasi dari budaya Jawa yang tampak mendominasi dalam semangkuk soto kerbau. Bumbu-bumbu yang digunakan pun bercitarasa Jawa, seperti penggunaan kemiri dan perasan jeruk limau. Cara menghidangkannya bisa dipilih, nasi langsung dicampur dengan kuah sotonya atau terpisah. Penyajian yang asli adalah nasi langsung dicampur dengan soto kerbau, sesuai dengan selera Jawa yang selalu menjadikan nasi sebagai makanan pokok.

Adapun unsur Tionghoa secara eksplisit terlihat dari penggunanaan serbuk koya dan bawang putih goreng. Serbuk koya adalah budaya kuliner Tionghoa peranakan. Serbuk ini terbuat dari santan kelapa yang dikeringkan, berfungsi sebagai penyedap rasa dan penambah tekstur. Masakan Jawa biasanya menggunakan bawang merah goreng, bukan bawang putih, untuk digoreng sebagai taburan. Namun di soto kerbau, bawang putih gorenglah yang dijadikan campuran.

Alhasil, dari pertemuan tiga budaya yang saling melengkapi dalam semangkuk soto kerbau inilah, tercipta cita rasa yang khas dan membumi. Demikianlah, asal-usul soto kerbau yang merupakan perpaduan dan asimilasi budaya Jawa, Hindu dan Tionghoa. Soto kerbau adalah bukti bahwa perbedaan, bila berjalan selaras, akan menghasilkan ‘kreasi baru’ yang indah. (Siti Rubaidah)