Maute Warga Indonesia Pentolan ISIP Paling Dicari di Pilipina

Maute Warga Indonesia Pentolan ISIP Paling Dicari di Pilipina

ist

Oleh: Aju

Militer Pilipina menegaskan, kelompok radikal bernama Maute, pihak bertanggungjawab terbentuknya The Islamic State of Indonesia dan Pilipina (ISIP) sebagai metamorfosa dari Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Asia Tenggara sejak 4 Maret 2015.

ISIP sempat menguasai Kota Marawi, Kepulauan Mindanao, Pilipina Selatan, sejak tanggal 23 Mei 2016, tapi berhasil direbut militer Pilipina, Senin, 12 Juni 2016, melalui operasi militer gabungan dengan bantuan logistik dari Amerika Serikat.

Dengan demikian, kelompok Maute dinyatakan Pilipina sebagai kelompok teroris paling bertanggungjawab, sehingga ISIP sempat menguasai sekitar 20 persen dari keseluruhan wilayah Marawi berpendudukn mayoritas Islam. Omar Maute pun paling dicari di Pilipina.

Maute, adalah sebuah nama orang Indonesia, yakni Omarkhayam Maute atau Omar Maute, warga negara Indonesia yang pernah menetap di Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, sebelum berangkat ke Marawi tahun 2011.

Omar Maute, sebagai kelompok radikal, sangat cepat menyatu dengan jaringan Abbusayaf di Pilipina Selatan. Omar kemudian membentuk kelompok radikal baru bernama Maute yang paling berperan memberikan peluang ISIP menguasai sebagian wilayah Marawi, 23 Mei – 11 Juni 2017.

Pernyataan kemudian, kenapa Omar Maute begitu cepat berpengaruh di kalangan kelompok radikal, sehingga merupakan pihak paling dicari Pemerintah Pilipina?

Kalau melihat dari sejarah radikalisme di Timur Tengah yang kemudian berubah menjadi kelompok teroris, Omar Maute merupakan hasil didikan Amerika Serikat, untuk memperingatkan kepada pimpinan negara di Asia Tenggara, untuk tidak boleh meninggalkan dirinya, untuk berpaling kepada Republik Rakyat Cina (RRC).

Omar Maute yang berhasil memberikan peluang ISIP sempat menguasai Marawi, tidak lebih dari upaya Amerika Serikat untuk menyampaikan pesan kepada Indonesia, Pilipina dan Malaysia, bahwa ada harga yang harus dibayar jika mereka berpaling ke RRC dan meninggalkan Paman Sam yang selama ini pengaruhnya tertancap kuat terutama di Indonesia dan Filipina.

Dengan memanfaatkan Kelompok Islam radikal Maute yang berbaiat kepada ISIP sebagai metamorfosa ISIS, maka Amerika Serikat ingin memberikan peringatan keras kepada Filipina, Indonesia dan Malaysia bahwa ancaman terorisme sudah di depan mata.

Wilayah Mindanao Selatan dan pulau-pulau di sekitarnya yang berpenduduk Muslim akan menjadi lahan subur bagi perekrutan jihadis-jihadis dari ketiga negara tersebut.

Apalagi lewat sekutunya yakni Arab Saudi, Islam Wahabi yang puritan dan konservatif telah diekspor terutama ke Indonesia yang berdampak pada menguatnya pengaruh Islam radikal di Indonesia.

Konflik sektarian dengan memanfaatkan kelompok-kelompok Islam radikal dengan mudah akan disulut di Indonesia, yang tentu saja akan berdampak pada eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jika pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak tunduk pada agenda-agenda kepentingan nasional Amerika Serikat, maka menyulut kemarahan kelompok Islam radikal dan memicu konflik sektarian dengan mudah dilakukan untuk melengserkan Presiden Jokowi.

Amerika Serikat akan menggunakan militer terutama Angkatan Darat dan kelompok Islam radikal untuk mendepak Presiden Jokowi dari tampuk kekuasaan, sebagaimana Gerakan 30 September (G30S) 1965.

Kolaborasi kelompok-kelompok Islam radikal dan militer Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) tetap menjadi kartu truf Amerika Serikat untuk mendikte kebijakannya di Indonesia.

Isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sempat marak akhir-akhir ini, dapat dijadikan contoh, betapa pengaruh Amerika Serikat di lingkungan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dan kelompok radikal agama di Indonesia, masih cukup kuat.

Masyarakat pun akhirnya sadar, kenapa tanpa ujung pangkal partai penguasa, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Presiden Jokowi dituding sebagai kader PKI. (*)