Komik Sebagai Mata Kuliah

Komik Sebagai Mata Kuliah

Sinar Harapan, 20 Juni 1972 – Universitas di Amerika selalu berusaha untuk memberikan pelajaran yang sejauh mungkin menyangkut perkembangan dalam masyarakat.

Di Universitas Indiana misalnya, tidak kurang dari 50 mata kuliah eksprimentil diberikan. Dari mata kuliah itu tujuh diberikan oleh mahasiswa yang masih dibawah tingkat sarjana muda dan sepuluh diberikan oleh mahasiswa tingkat doktoral.

Mata kuliah itu berjudul misalnya “Film Bisu Klasik”, “Identitas Kemasyarakatan dalam Musik Rock”, “Anti Maut”, “Orang Tionghoa di Amerika”, dan lain-lain.

Mengapa buku Komik
Mungkin yang paling menarik karena tidak biasa adalah mata kuliah yang disebut “Buku Komik dalam Masyarakat”. Mata kuliah itu diberikan oleh seorang mahasiswa tingkat sebelum sarjana lengkap, baru berumur 20 tahun, bernama Michael Uslan.

Pada masa lampau, kebanyakan buku komik dibuat untuk menghibur. Tetapi menurut mahasiswa merangkap dosen itu, sekarang sedikit saja buku komik yang dimaksudkan untuk membuat pembacanya tertawa atau sekedar tersenyum.

Ketika mahasiswa Michael Uslan mengusulkan pemberian mata kuliah itu, tidak begitu saja diterima, tetapi dipertimbangkan dulu oleh Komite Kurikulum Universitas yang meneliti apakah mata kuliah yang diusulkan itu mempunyai nilai ilmiah.

Pembantu Dekan Rhoda Bunnell menerangkan mengapa komite itu menyetujui mata kuliah tersebut. “Nilai ilmiah yang kami lihat dari mata kuliah yang diusulkan itu”, kata Rhoda, terletak pada inti kuliah yang menitik beratkan pada konsep kepahlawanan dalam komik, masalah sensur, dan pengaruh kejiwaan dari komik mata kuliah. Mata kuliah baru itu  menyorot komik dalam hubungannya dengan masyarakat : bagaimana masyarakat mempengaruhi bentuk kebudayaan populer ini dan sebaliknya. Mata kuliah itu menelaah pahlawan dalam komik, komik sebagai bentuk seni dan persiapan yang diperlukan untuk membuat suatu komik.IMG_0050

Bentuk seni
Komik pada masa lalu terutama digemari oleh anak-anak saja. Tetapi sekarang mahasiswa, bahkan orang dewasa-pun, banyak membaca komik. Itulah salah satu sebab mengapa pemrakarsa mata kulliah ini merasakan perlunya komik dimasukkan dalam rangka kuliah kesusasteraan.

Michael Uslan sendiri memberikan komentar begini : “Pertama-tama komik adalah suatu bentuk seni…. dalam masa dua tahun ini komik telah mengalami pendewasan dan profesionalisme sehingga menjadi buku komik baru yang lebih mendalam isinya.

Masalah yang menjadi tema-nya pun banyak menyangkut dengan masalah kemasyarakatan masa kini. Masalah alam sekitar, pengotoran alam atau juga masalah rasialisme”.

Setelah mata kuliah baru itu diberikan, 35 mahasiswa mendaftarkan untuk mengikuti dan tidak kurang dari 100 mahasiswa lainnya menyatakan akan mengikuti diwaktu yang akan datang. (VOA)