Jangan Membuat Luka Baru

Jangan Membuat Luka Baru

ilustrasi / dakwatuna.com

Setelah berlangsungnya Pilkada DKI dengan terpilihnya Anies Baswedan dan Sandiago Uno, dan berlangsungnya bulan Ramadhan serta Idul Fitri 1438 H, suasana damai mulai menyelimuti masyarakat Jakarta dan sekitarnya semoga juga di daerah lain.

Kita dapat menyaksikan penunaian ibadah puasa berjalan lancar walaupun menjelangnya terjadi bom bunuh diri di terminal Kampung Melayu Jakarta Timur, serta di malam Idul Fitri terjadi penyerangan teroris Pos Jaga di Mapolda Sumut, namun tidak mengusik rasa syukur kita dalam menunaikan ibadah tersebut.

Apa yang kita alami dan saksikan tersebut bukanlah hasil kerja satu orang, tetapi hasil dari kerja semua pihak terutama para petinggi negara dan pemerintahan, negarawan, elit politik, tokoh ulama, pemuka masyarakat, dan masyarakat itu sendiri.

Ternyata kita bisa rukun dan saling mengasihi, sehingga menjadi tantangan bagi semua anak negeri ini untuk mempertahankan kerukunan itu dan harus meningkatkan sehingga kedamaian dan kerukunan itu terus dapat berlangsung sampai kita memasuki bulan suci Ramadhan tahun depan.

Menurut hemat kita tidak ada jalan lain untuk memperbaiki bangsa ini selain melaksanakan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila, dengan tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke tanpa kecuali.

Pemerintah Jokowi-JK telah berupaya melakukan terobosan-terobosan yang tidak pernah terpikirkan apalagi diupayakan pada periode lalu seperti penyamaan harga BBM di seluruh Indonesia baru sekarang setelah 71 tahun kita merdeka, pembukaan jalan lintas Papua, dan Papua Barat, tol laut, sehingga pulau-pulau terdepan tidak terus menerus tertinggal.

Peningkatan mutu kesehatan serta pemerataan dan peningkatan pendidikan serta penciptaan lapangan kerja. Harus diapressiasi juga dengan adanya pengampunan pajak (tax amnesty) dana-dana yang selama ini tidur tidak terkena pajak mulai tercover jadi objek pajak.

Sebagai negara yang demokratis, adalah hal wajib untuk mengoreksi pemerintah untuk pembaruan tetapi harus juga melalui saluran demokrasi tidak melalui lembaga perwakilan jalanan. Di negara demokratis ada aturan dan prosedurnya dan tidak melanggar hukum.

Karena itu kita berharap agar semua pihak bekerja dan berkarya sesuai dengan fungsi, tugas, dan tanggunggung jawab masing-masing sesuai dengan rujukan demokrasi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang dibentuk secara demokrasi, dan tidak ada satu pun lembaga di negara demokrasi yang bisa melanggar sistem demokrasi itu sendiri.

Dengan penghormatan pada nilai-nilai demokrasi, kita berharap agar semua pihak kembali ke Pancasila dan UUD 1945, Bhinneka Tungal Ika dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan bukan jamannya lagi memaksakan kehendak, sebab yang rugi adalah kita semua sebagai bangsa, negara dan masyarakat Indonesia.

Apalagi menganggap bahwa negara ini tidak maju kalau bukan karena saya, sebab negara ini dibangun bukan hanya tangan atau jasa satu orang atau satu kelompok, tetapi oleh seluruh founding fathers dari Sabang sampai Merauke.

Mengawali hari-hari setelah Ramadhan dan Idul Fitri kita menatap masa depan bersama, di mana masih banyak tugas dan tanggung jawab para pemimpin bangsa ini untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat untuk mencapai keadilan social bagi seluruh rakayat Indonesia.

Adalah omong kosong kita mencintai Indonesia bila kita tetap melihat kelemahan dan kekurangan yang kita alami saat ini seharusnya kita menoleh ke belakang dengan melakukan koreksi dan pembaharuan.

Sebagai negara yang demokratis harus menghormati putusan-putusan yang telah dibuat secara demokratis dan putusan yang demokratis itu juga hendaknya dipertanggung jawabkan dan ditagih secara demokratis. Sehingga kondisi penyelenggaraan kenegaraan dan pembangunan saat ini saat ini hendaknya tidak diganggu untuk tujuan-tujuan di periode mendatang.

Kita juga berharap masalah besar supaya diupayakan diperkecil dan masalah kecil dihilangkan untuk kemaslahatan bangsa, dan harapan kita luka-luka lama yang sudah sembuh diupayakan bersama tidak kambuh dan jangan sekali-kali membuat luka baru, sebab akan menyakitkan kita semua. (*)