Tradisi Idul Fitri di Indonesia: Festival Meriam Karbit

Tradisi Idul Fitri di Indonesia: Festival Meriam Karbit

Festival meriam karbit merupakan tradisi lebaran masyarakat Pontianak khususnya di sepanjang sungai Kapuas. (Ist)

Pengantar: Idul Fitri tidak hanya tentang berkunjung ke rumah sanak saudara dan kolega tapi juga tentang tradisi perayaan yang telah dilestarikan dari generasi ke generasi. Dalam beberapa artikel, SHNet akan menyajikan sejumlah tradisi tersebut dari berbagai desa di Indonesia. Selamat membaca!

Festival Meriam Karbit merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Pontianak, terutama penduduk yang berada di tepian sungai Kapuas. Meriam yang dimaksud bukanlah meriam yang kita kenal yang berisikan mesiu, melainkan meriam yang dibuat dari ruas-ruas bambu, batang kelapa dan akhir-akhir ini langsung diambil dari batang pohon, diameternya bisa mencapai 60 cm.

Semua meriam itu diletakkan berderetan di sepanjang sungai Kapuas dari Kuantan hingga Bansir Laut (Pontianak Selatan) dan dari Saigon hingga Parit Mayor (Pontianak Timur). Bunyi dentuman meriam karbit ini bisa terdengar hingga radius lebih dari 3 kilometer.

Festival ini biasa diikuti oleh 400 hingga 500 meriam, pada tiga hari sebelum sampai dua hari setelah lebaran. Tak heran, festival ini berhasil memecahkan rekor Indonesia di tahun 2007 dan terulang kembali di tahun 2009.

Membunyikan meriam adalah untuk membuang sial dan mengusir hantu kuntilanak yang ada di Kota Pontianak. Disebut-sebut, Pontianak sebenarnya adalah sebuah kota yang memiliki hantu kuntilanak karena pada dasarnya Pontianak berasal dari kata Bunting dan anak, atau dalam bahasa malaysianya adalah Buntinganak.

Memang, menurut sejarahnya, Festival Meriam Karbit dimulai ketika raja pertama Pontianak Syarif Abdurrahman Alkadrie merasa diganggu hantu-hantu ketika membuka lahan untuk bertempat tinggal di Pontianak. Lalu Sultan kemudian memerintahan pasukannya mengusir hantu-hantu itu dengan meriam.

Membunyikan meriam juga dilakukan di istana untuk menandakan waktu sahur dan berbuka setiap hari di bulan Ramadan. Pada zaman penjajahan Belanda, meriam ini hanya boleh dipergunakan terbatas untuk kalangan istana.

Sekarang meriam yang asli milik raja pertama Pontianak masih dapat ditemukan di muka keraton Kadariyah, yaitu pada kaki tangga bangunan. Oleh masyarakat setempat meriam kuning ini dinamakan Meriam Timbul.

Seiring dengan perubahan waktu, permainan meriam ini boleh dilakukan oleh siapa saja. (DM)