Asian Games 2018 Jadi Pion

Asian Games 2018 Jadi Pion

MENJAGA - Sukses Indonesia sebagai tuan rumah tak sekadar menjaga pertandingan berlangsung dengan aman dan fair play, tapi tuan rumah juga harus bisa menyiapkan agar setiap tayangan pertandingan demi pertandingan juga menarik ketika ditonton melalui layar televisi. (Istimewa)

Oleh: Marcus Junus Warouw (Pemerhati Olahraga, Ketua Umum PB Federasi Kateda Seluruh Indonesia, Pendiri Yayasan Big Stars bersama mantan atlet nasional Maria Lawalata)

JAKARTA – Asian Games 2018 sudah di ambang pintu. Indonesia (Jakarta dan Palembang) akan menjadi tuan rumah penyelenggara event olahraga itu. Seluruh negara di benua Asia akan menantikan atlet-atlet mereka meraih prestasi, kemenangan, medali.

Hingga kemudian bangsa mereka akan berjaya melalui kancah olahraga. Hingga tulisan ini disusun tercatat 45 negara akan menjadi peserta.Termasuk negara Armenia, Azerbaijan, Gerogia, Israel dan Turki yang sebelumnya ikut Eropa.

Jepang dan Korea Selatan pernah menjadi tuan rumah olimpiade, Indonesia belum. Tapi pengalaman Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan olahraga multi event sudah teruji.Indonesia sudah kali kedua ini menjadi tuan rumah Asian Games ditambah moment fenomenal, yakni menyelenggarakan GANEFO– Games Of New Emerging Forces di Jakarta pada 10 November 1962. Event olahraga yang ketika itu menjadi saingan olimpiade.

Menjadi tuan rumah Asian Games 1962, pemerintahan Republik Indonesia dipimpin oleh presiden pertama Ir. Soekarno. Soekarno memerintahkan membangun stadion utama Gelora Bung Karno dan stasiun televisi Republik Indonesia (TVRI).

Presiden RI Soekarno menyampaikan pidato pada upacara pembukaan ASIAN Games di stadion utama Gelora Bung Karno pada 24 Agustus 1962. Peristiwa itu ditayangkan oleh TVRI secara langsung, sekaligus menandai pertama kalinya TVRI mengudara.

Jauh sebelum kedua event itu –ASIAN Games & GANEF0–pemerintahan orde lama telah memformulasikan pembangunan karakter bangsa melalui olahraga dengan menggulirkan Pekan Olahraga Nasional (PON).

Pertama kali PON digelar di Solo pada 9 September 1948. Selanjutnya diselenggarakan setiap empat tahun sekali. Secara bergantian setiap provinsi mengajukan diri menjadi tuan rumah. Esensi PON adalah pemerataan pembangunan.

Setiap empat tahun negara menggulirkan Anggaran Belanja (APBN)ke provinsi tuan rumah PON. Pembangunan karakter bangsa melalui olahraga pun sejalan dengan pembangunan fisik atau infrastruktur di setiap provinsi.

Kembali pada ASIAN Games. Tahun 1962 syarat menjadi tuan rumah ASIAN Games antara lain adalah negara penyelenggara memiliki stadion berskala internasional dan stasiun televisi yang dapat mengirim video pertandingan ke satelit. Sehingga seluruh negara peserta dapat menyiarkan pertandingan itu dan masyarakatnya bisa menyaksikan melalui layar televisi di rumah mereka.

Lain bubu lain belalang, lain dulu lain sekarang. Dahulu tehnologi broadcast masih analog. Jaman Sekarang sudah digital. Pemirsa di negara-negara peserta itu juga berharap bahwa mereka dapat menyaksikan pertandingan dengan kualitas digital. Secara langsung atau live dengan kualitas tontonan (baca: video, pen) yang tajam.

Karena itu sebagai tuan rumah Indonesia harus menyiapkan tehnologi broadcast-nya secara digital. Apakah hal itu sudah disiapkan? Katakanlah sudah disiapkan. Maka yang perlu disiapkan berikutnya adalah sumber daya manusia yang menjadi tenaga –pekerja– broadcast di setiap venue – tempat pelaksanaan pertandingan. Katakanlah ini pun sudah disiapkan. Kemudian apa lagi yang perlu disiapkan?

Betapa pun, kesuksesan Indonesia sebagai tuan rumah tidak sekedar menjaga setiap pertandingan berlangsung dengan aman dan fair play. Indonesia juga harus menyiapkan agar setiap tayangan pertandingan tersebut menarik ketika ditonton melalui layar televisi.

Menang atau kalah, medali emas, perak atau perunggu, hal itu adalah perkara di lapangan. Sudah urusannya sang atlit. Setiap atlit berlaga dalam semangat yang sama, yakni fair play. Tak boleh diikut-campur-tangani oleh siapa pun bahkan oleh presiden sekalipun. Karena begitulah idealnya pertandingan olahraga hingga masyarakat dunia menjadikan olahraga sebagai tayangan televisi yang utama.

Maka tak bisa disepelekan, daya pukau di setiap venue harus disiapkan. Pertandingan yang fair play ditambah gegap gempitanya penonton. Jumlah penonton di venue harus disiapkan kuantitas maksimalnya berdasarkan kapasitas penonton padavenue.Kemudian –penonton itu– disiapkan secara kualitasnya, sikap sportifitasnya.Tidak merugikan atlit yang bertanding. Memberikan dukungan terhadap atlitnya tanpa menyepelekan lawannya – atlit lainnya.

Apakah sikap penonton seperti itu sudah disiapkan oleh tuan rumah, Indonesia? Sampai di sini harus diakui bahwa masyarakat Indonesia belum disiapkan untuk menjadi penonton pertandingan olahraga yang bersikap sopan dan terhormat.

Sebagai penonton yang datang ke venue, masyarakat di Indonesia sudah biasa menonton sepakbola, bola basket, bola voli, bulu tangkis, catur, futsal, renang, tinju. Tapi, apakah masyarakat sudah tahu bagaimana menjadi penonton yang terhormat pada pertandingan tersebut? Juga pada pertandingan seperti bowling, tenis lapangan dan cabang olahraga lainnya.

Marcus Junus Warouw
Marcus Junus Warouw

Tentu saja masyakat perlu diberi tahu. Dan informasi atau cara memberi tahu yang paling efektif, cepat dan akurat adalah melalui layar televisi. Di sinilah yang perlu disesalkan dan harus segera diubah. Karena sebagian besar stasiun televisi nasional yang ada di Indonesia, masih “alergi” menyiarkan secara langsung pertandingan olahraga (kecuali sepakbola, pen) di Indonesia.

Ingat saja, berapa banyak pertandingan berskala nasional atau kejuaraan nasional yang disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi? Padahal di tanah air ini, hampir setiap bulan ada penyelenggaraan kejuaraan yang berskala nasional. Tapi, adakah stasiun televisi yang menyiarkan kejuaraan nasional itu secara utuh? Baik secara langsung (live)maupun tidak langsung (recorded).

Bahkan pertandingan bola voli profesional Proliga pun, yang pada awalnya disiarkan di televisi (TVRI, Trans TV, TV-One) kini hanya pertandingan babak finalnya saja. Belakangan ini, kejuaraan bulutangkis (di Kompas-TV), futsal(di MNC TV) dan Liga Mahasiwa (di Metro-TV) sudah mulai dijadikan tontonan televisi. Kita berharap agar kompetisi itu tidak “hilang” dari layar televisi.

Sebab nanti ketika perhelatan Asian Games di venue sepi penonton, jangan terburu-buru mengecilkan masyarakat dengan mengatakan, “Animo masyarakat datang ke venue untuk menyaksikan pertandingan sangat minim.”

Bagaimanapun pertandingan olahraga sudah menjadi industri tontonan atau bagian dari industri televisi. Harus diakui bahwa pemerintah Indonesia belum mendorong ke arah ini. Kebanyakan stasiun televisi swasta nasional masih beranggapan bahwa pertandingan olahraga Indonesia yang berskala nasional sekalipun belum dapat dijadikan tayangan atau tontonan televisi.

Perhatian para stakeholder di bidang olahraga luput, bahwa setiap atlit membutuhkan rasa bangga: rasa ingin ditonton melalui televisi ketika mereka bertanding. Memang, belum terdengar atlitmengucapkan hal ini. Tapi apakah para stakeholder dan para pengasuh stasiun televisi harus mendengar hal itu diucapkan lantang oleh para atlit nasional Indonesia?

Tanggal 18 Agustus 2018 Asian Games mulai bergulir. Tapi pertandingan olahraga berskala nasional belum gencar ditayangkan di televisi. Kantor kedutaan negara peserta Asian Games ada di Jakarta. Bisa saja mereka memperhatikan bahwa kejuaraan nasional di Indonesia belum dijadikan sebagai tayangan televisi. Mungkin saja mereka menonton cuplikan suatu kejuaraan nasional sebagai berita. Ya, hanya sebatas berita dengan durasisekitar tiga (3) menit sahaja di layar televisi.

Tidakkah kondisi ini memprihatinkan? Hingga mesti diubah atau disudahi. Para stakeholder olahraga nasional harus bisa mendorong para pengasuh stasiun televisi nasional untuk menayangkan pertandingan yang (minimal; pen) berskala nasional.

Dengan menayangkan pertandingan atau kejuaraan nasional itu, animo masyarakat untuk datang ke venue akan tumbuh. Masyarakat yang akan duduk di bangku tribun penonton akan tahu bahwa mereka juga akan tampak, terlihat di layar televisi ketika mereka memberikan applus pada atlit yang bertanding.

Believe it or not, inilah yang disebut interaksi pasif dua arah. Atmosfir gegap gempita penonton di venue akan muncul sebagai embience di layar kaca yang akan dirasakan juga oleh pemirsa televisi di rumah-rumah. Yang menjadi data tarik menonton melalui layar televisi.

Jadi sudah saatnya para pengasuh stasiun televisi mengkremasi alasan klasik bahwa pertandingan nasional ”tidak bisa dijual”. Bahwa pertandingan nasional tidak bisa mendatangkan pemasang iklan; tidak bisa memberikan profit bahkan sangat mungkin mengakibatkan kerugian lantaran ongkos produksi tidak bisa ditutupi oleh pendapatan yang berasal dari pemasang iklan.

Bahwa para pengasuh televisi mesti menyudahi ketergantungannya pada pemasang iklan dari suatu perusahaan raksasa yang notabene adalah perusahaan asing (seperti Unilever grup, pen). Para pengasuh televisi dapat membuka peluang bahwa pada pertandingan olahraga yang berskala nasional, akan muncul pemasang iklan yang perusahaannya adalah perusahaan asli Indonesia.

Misalnya saja Maspion grup, Sido Muncul grup, Wadimor, Djarum Foundation, Sampoerna Foundation dan lain sebagainya. Juga perusahaan BUMN, seperti Bank Mandiri dan lain sebagainya.

Toh, menayangkan pertandingan olahraga yang berskala nasional adalah wujud nyata dari membangun karakter bangsa melalui olahraga. Dan patut juga disesali lantaran melulu menontoni sepakbolaEPL, LA LIGA, UEFA Champion dan sebagainya. Tapi sangat minim menonton pertandingan kejuaraan nasional.

Pemirsa televisi Indonesia pun mahfum bahwa TVRI adalah stasiun televisi milik pemerintah yang dibiayai lewat APBN. Dan pemegang saham di stasiun televisi swasta nasional adalah para tokoh bangsa saat ini. Di AN-TV dan TV-One ada nama besar Abu Rizal Bakrie; di MNC grup ada nama besar Hari Tanoe; di Metro-TV ada nama besar Surya Paloh.

Boleh kita catat nama-nama besar tersebut adalah nama-nama yang heibat di blantika politik nasional. Yang senantiasa menyerukan tentang Indonesia sebagai bangsa yang besar; bangsa yang dilahirkan oleh darah para pejuang yang merebut kemerdekaan dari penjajahan. Saat ini pertandingan olahraga Indonesia mesti juga dibebaskan dari sikap acuh pemasang iklan.

ASIAN Games 2018 dapat dijadikan moment untukpertandingan nasional memasuki industri televisi nasional. Berikan kebanggaan pada para atlit di tengah masyarakatnya,dengan menayangkan pertandingan mereka di televisi.Sebagian atlit yang berlaga pada kejuaraan nasional itu adalah atlit yang akan bertanding pada Asian Games.

Panitia Asian Games dapat menjadikan kejuaraan nasional yang sudah saatnya dijadikan tontonan televisi sebagai media promosi Asiang Games dengan titleRoad to Asian Games.Memang akan timbul biaya produksi dan penayangannnya.

Panitia Asian Games dapat menutupi biaya tersebut dari pos promosi yang saat ini telah disediakan. Dengan formulasi yang tepat, biaya promosi Asian Games akan sangatefektif dan efisien. Seperti menjalin kerjasama dengan pihak stasiun televisi. .

Dengan melakukan hal ini maka panitia Asian Games telah menjadikan ajang Asian Games sebagai PION – Percepatan Industri Olahraga Nasional, jelang pertandingan Asian Games disiarkan di televisi.

“Maju terus jangan mundur.” Begitu bunyi slogan pada Asian Games 1962 yang digagas oleh yang pertama menjadi Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno. Indonesia bisa… ****