Iban Medah Sudah Dalam Proses Dipilih

Iban Medah Sudah Dalam Proses Dipilih

Ibrahim Agustinus Medah (Kiri) saat mendaftar sebagai bakal calon gubernur di PKPI NTT

SHNet, KUPANG-Ketua DPD Partai Golkar Nusa Tenggara Timur (NTT) Ibrahim Agustinus Medah dinilai sudah cukup dikenal dan sekarang sudah dalam proses masyarakat untuk memilihnya. Sebagai calon pemimpin, harus melewati beberapa tahapan diantarnya, pengenalan diri dan sosialisasi program kepada masyarakat melalui visi misi.

“Iban Medah sudah dalam proses orang memilih karena orang sudah mengenal dia. Orang lain baru mulai proses pengenalan diri dan sosialisasi,” kata Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Yan Mboeik, Jumat lalu.

Dia menyampaikan, NTT membutuhkan pemimpin yang semangat dan kerja keras untuk masyarakat. Karena itu, PKPI akan melakukan proses untuk menentukan bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang dinilai mampu bekerja untuk rakyat NTT. Keberhasilan seorang pemimpin bermula dari visi misi programnya yang berpihak kepada rakyat tanpa mengenal suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

“Siapa tau gubernur NTT kali ini dari partai golkar. Doakan agar Golkar dan PKPI bisa sama-sama mengatasi masalah kemiskinan di NTT. Kemiskinan di NTT adalah masalah yang kompleks sehingga dibutuhkan pemimpin yang semangat dan kerja keras,” kata Yan.

Dikatakan, PKPI memiliki tiga kursi di DPRD NTT tetapi ada calon gubernur dari partai lain yang memilih mendaftar ke partai tersebut karena ada kesamaan visi yakni mendahulukan kepentingan rakyat. Kini saatnya masyarakat NTT mencari pemimpin yang tepat dan baik, karena kepentingan rakyat adalah yang utama. “PKPI dilahirkan oleh Partai Golkar. Ibarat PKPI adalah anak pertama Partai Golkar setelah itu baru lahirlah Hanura, Gerindra dan lain-lain,” katanya.

Setelah bakal calon mendaftar, PKPI mulai proses namun tidak melalui survei tetapi partai memberi kepercayaan kepada pengurus di daerah untuk menentukan bakal calon yang elektabilitasnya tinggi untuk didukung menjadi calon gubernur. “Kalau kita salah pilih pemimpin di 2018 maka rakyat akan adili kita di 2019 melalui pileg,” jelas Yan.(Dis Amalo)