Studi Kasus: Status Gizi Anak Indonesia Masih Rendah

SHNet, Jakarta – Dibanding Negara di Asia Tenggara lainnya, status gizi anak Indonesia masih relatif lebih rendah. Hal ini dapat dilihat pada tingginya kasus stunting (rendahnya tinggi badan berdasarkan usia), yakni dengan prevalensi 25,2% untuk perkotaan dan 39,2% untuk pedesaan. Berat dan tinggi badan rata-rata anak Indonesia masih dibawah standar WHO, kekurangan vitamin D dengan prevalensi 43% di perkotaan dan 44,2% di pedesaan serta 70% anak tidak sarapan.

Data di atas merupakan hasil Survey dari Frisian Flag Global pada tahun 2011 melalui South East Asian Nutrition Survey (SEANUTS) untuk mengetahui status gizi anak usia 6 bulan – 12 tahun di negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Survei tersebut melibatkan lebih dari 7.000 anak dari 48 kabupaten/kota di Indonesia.

Berdasarkan kesamaan perhatian akan masalah gizi dan topik stunting di Indonesia tersebut, maka Frisian Flag Indonesia (FFI) bekerjasama dengan Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan (PKGK), Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menyelenggarakan Program Gerakan Nusantara sejak tahun 2013.

“Program kegiatan dibagi menjadi tiga kelompok intervensi yaitu Full Treatment, Half Treatment dan kelompok kontrol. Masing-masing kelompok terdiri dari 10 Sekolah Dasar yang dipilih secara random setiap tahunnya. Pembedaan kelompok intervensi ini adalah sebagai upaya FFI dan PKGK untuk mengukur dampak program yang dihasilkan,” kata Andrew F. Saputro, Head of Corporate Affairs FFI.

Kegiatan yang dilakukan berupa edukasi gizi, aktivitas fisik, pembagian susu, pelatihan guru, dan pelatihan siswa untuk kelompok Full Treatment. Sedangkan kelompok intervensi Half Treatment melaksanakan kegiatan yang sama tanpa pelatihan siswa. Terakhir, kelompok intervensi control, hanya mendapatkan kegiatan berupa edukasi gizi dan aktivitas fisik.

Menurut Ahmad Syafiq, Ketua PKGK, “Antara FFI dan PKGK saling berbagi peran. Sebagai akademisi, PKGK berperan dalam pengembangan desain survei pengetahuan-sikap-praktik baik untuk baseline maupun pascaprogram, penentuan sampel, pengumpulan data dan analisa hasil survei. Sedangkan FFI memfasilitasi kegiatan survei di lima wilayah program, termasuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah.”

Program ini menjangkau para murid Sekolah Dasar khususnya kelas 4, 5 dan 6 serta para guru dan secara tidak langsung juga menyentuh keluarga-keluarga mereka.

Capaian, Tantangan dan Pembelajaran

Hasil yang dicapai oleh program sejak tahun 2013 hingga 2015 adalah 619.200 murid dari 1.251 SD mendapat pengetahuan mengenai gizi; 300 guru dari 60 SD telah mengikuti pelatihan di wilayah Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya dan Makasar; serta 3.600 murid mendapatkan pelatihan siswa. Selain itu sebanyak 31 kantin sekolah mendapatkan bantuan renovasi berupa bantuan fasilitas kursi, meja, rak display, saluran air dan sanitasi.

Dalam pelaksanaan pelatihan guru, ada tantangan dalam menghadirkan peserta yang disebabkan berbagai hal. Diantaranya karena adanya keberatan dari pihak sekolah dan kesibukan para guru dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah masing-masing.

Namun FFI dan PKGK mencoba mengatasi masalah yang ada dengan mengadakan pelatihan guru setiap hari Minggu selama tiga bulan. Dengan demikian para guru bisa tetap hadir tanpa mengganggu kegiatan sekolah. Selain itu diberikan keuntungan tambahan berupa pemberian sertifikat bagi guru.

Adapun faktor eksternal yang menjadi tantangan adalah setiap sekolah memiliki level pemahaman yang berbeda, sementara intervensi yang dilakukan adalah “one size fits all” atau bersifat general. Proses perencanaan program berikutnya akan mencari solusi untuk mengatasi tantangan ini.

Keberhasilan program sangat ditentukan oleh komitmen pihak sekolah baik dari Kepala Sekolah maupun guru dan orang tua murid. Selain itu, pemerintah daerah juga dilibatkan untuk memberikan dukungan kebijakan untuk keberlanjutan program.

Kegiatan selanjutnya akan ditujukan bagi orang tua dan pemerintah daerah agar mereka terlibat aktif dan memberikan dukungan bagi perbaikan nutrisi anak SD. Di samping itu keterlibatan pemerintah dan mitra dari organisasi lain juga sangat penting bagi kesinambungan program di masa yang akan datang. (SR)

 

 

*Studi Kasus ini disampaikan dalam Forum Kemitraan HBRI yang merupakan kegiatan CCPHI dan didanai oleh Ford Foundation.